VoxLampung.com, Bandar Lampung – Kecanggihan kecerdasan buatan (AI) memang semakin bikin geleng-geleng kepala. Foto biasa saja kini bisa disulap menjadi adegan yang terlihat begitu dramatis.
Seperti foto sekelompok orang yang tergabung dalam sebuah komunitas di Bandar Lampung bernama Teman Joging (Tejo) ini. Foto diambil di kawasan Taman Hutan Kota Way Halim, pada Minggu, 20 September 2026.
Pada foto yang asli, belasan anggota Tejo tampak berpose santai di tengah hamparan rumput dengan cuaca cerah. Sebagian berdiri, sebagian lainnya jongkok. Sebagian besar mengenakan kaus bernuansa hijau bertuliskan Tejo.
Namun, foto tersebut kemudiann diedit menggunakan AI. Hasilnya? Suasananya berubah total.
Hamparan rumput yang semula kering dan hijau kekuningan berubah jadi genangan air. Langit yang tadinya cerah menjadi gelap. Hujan deras turun. Para anggota rombongan pun seolah sedang berada di tengah banjir selutut. Bahkan, AI melengkapinya dengan payung dan jas hujan.
Eits, tapi tunggu dulu.
Kalau diperhatikan lebih teliti, bukan cuma cuaca dan latarnya yang berubah.
Ada sejumlah sosok dalam foto yang penampilan dan atributnya ikut berubah. Beberapa orang seolah “dilahirkan kembali” dengan pakaian dan wajah berbeda.
Yang paling bikin penasaran, sosok-sosok yang pada foto awal hanya berjumlah 12 orang, pada versi AI jumlahnya justru bertambah menjadi 13 orang. Satu sosok tambahan tampak mengenakan jas hujan berwarna merah muda, berdiri di antara anggota Tejo.
Padahal, tidak ada instruksi untuk menambahkan orang lain dalam prompt yang diajukan kepada AI.
Prompt tersebut hanya meminta AI mengubah suasana foto menjadi hujan deras hingga banjir, serta menambahkan aksesori berupa jas hujan dan payung kepada orang-orang yang ada di dalam foto.
Nah, di sinilah pertanyaan yang kemudian muncul. Bisakah AI menangkap image yang tidak kasatmata, lalu menghadirkannya dalam bentuk yang lebih jelas?
Jawabannya ternyata tidak sesederhana “bisa” atau “tidak bisa”.
Dalam perkembangan teknologi saat ini, AI memang telah digunakan untuk membantu merekonstruksi sesuatu yang tidak dapat dilihat langsung oleh mata manusia. Namun, bukan berarti AI bekerja secara gaib.
Mengutip penjelasan ChatGPT, AI pada dasarnya bertindak sebagai “otak” yang menerjemahkan data mentah dari sensor tertentu, termasuk sinyal atau gelombang yang tidak dapat dilihat manusia, menjadi gambar atau model visual yang lebih mudah dipahami.
Salah satu contohnya adalah Non-Line-of-Sight (NLOS) Imaging, sebuah teknologi yang memungkinkan sistem mendeteksi objek yang berada di balik sudut atau tidak berada dalam garis pandang langsung.
Cara kerjanya, misalnya, dengan memanfaatkan pantulan sinar laser dari permukaan seperti lantai atau dinding. Cahaya yang dipantulkan kemudian berinteraksi dengan objek tersembunyi sebelum kembali diterima sensor.
Data pantulan tersebut sangat lemah dan kompleks. Di sinilah algoritma AI membantu menganalisis pola yang sulit ditafsirkan manusia untuk kemudian merekonstruksi bentuk maupun posisi objek.
Teknologi serupa juga dikembangkan dengan memanfaatkan gelombang radio dan Wi-Fi.
Gelombang elektromagnetik tersebut tidak dapat dilihat mata manusia. Namun, perubahan sinyal ketika berinteraksi dengan tubuh atau objek dapat dianalisis oleh sistem komputasi untuk memperkirakan keberadaan dan gerakan objek.
Dalam sejumlah penelitian, teknologi berbasis radio bahkan digunakan untuk membantu menghasilkan representasi gerakan manusia, seperti berdiri, duduk, atau berjalan, meski objek berada di balik penghalang.
Ada pula teknologi yang memanfaatkan data dari sistem saraf manusia. Dalam eksperimen tertentu, aktivitas otak yang direkam menggunakan sensor seperti EEG dapat diproses menggunakan AI untuk membantu merekonstruksi informasi visual yang sedang dipersepsikan seseorang.
Sementara itu, pada kondisi minim cahaya, AI juga mampu membantu meningkatkan kualitas gambar dengan mengurangi noise, memperjelas objek, dan merekonstruksi detail berdasarkan informasi visual yang sangat terbatas.
Teknologi semacam ini kemudian dikembangkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pencarian dan penyelamatan korban di balik reruntuhan, pencitraan medis, hingga sistem kendaraan otonom.
Jadi, secara ilmiah, memang ada teknologi yang memungkinkan manusia memperoleh gambaran mengenai sesuatu yang tidak dapat dilihat secara langsung oleh mata.
Tetapi ada satu hal penting. Dalam kasus foto rombongan Tejo ini, AI tidak sedang menggunakan sensor Wi-Fi, laser, gelombang radio, atau perangkat khusus untuk menangkap sosok yang tersembunyi.
Foto tersebut merupakan hasil pengolahan gambar menggunakan AI generatif.
Artinya, sosok tambahan yang muncul dalam foto lebih tepat dipahami sebagai hasil rekonstruksi atau generasi AI berdasarkan pola visual yang dipelajarinya, bukan bukti bahwa AI berhasil memotret atau menemukan seseorang yang sebelumnya tidak terlihat.
Meski begitu, hasilnya tetap bikin dahi berkerut. Sebab, AI rupanya tidak sekadar mengubah cuaca dari cerah menjadi hujan atau rumput menjadi genangan air. Ia juga menambahkan satu anggota rombongan, si pria dengan jas hujan merah muda.
Benarkah AI cuma sedang berimajinasi?
Atau jangan-jangan, kali ini AI berhasil membuat kita melihat sesuatu yang sebelumnya tidak kita sadari? Hiiiiii… (*)







Komentar