VoxLampung.com, Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) menggelar Capital Market Summit & Expo (CMSE) 2026 pada 5-7 November 2026 di Main Hall BEI, Jakarta. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya memperluas pemahaman masyarakat tentang pasar modal sekaligus membuka peluang investasi bagi berbagai kalangan.
Mengusung tema “Satu Langkah Investasi, Berjuta Peluang Masa Depan”, CMSE 2026 menghadirkan beragam kegiatan edukasi dan diskusi mengenai perkembangan industri pasar modal Indonesia.
Acara yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan 49 tahun diaktifkannya kembali Pasar Modal Indonesia tersebut diselenggarakan BEI bersama PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), dengan dukungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengatakan CMSE tahun ini berlangsung di tengah dinamika pasar modal Indonesia. Meski menghadapi sejumlah tantangan, kinerja pasar modal nasional masih menunjukkan pertumbuhan positif.
“Kalau kita melihat di satu sisi pertumbuhan di pasar modal kita masih baik. Secara fundamental, kinerja perusahaan tercatat di bursa masih baik. Nilai transaksi harian masih tumbuh di atas 10%. Jumlah investor kita tumbuh lebih dari 50%,” kata Jeffrey dalam sambutannya, Kamis (5/11/2026).
Namun, ia mengakui industri pasar modal juga menghadapi tantangan, terutama menyangkut transparansi, kredibilitas, dan tata kelola yang menjadi perhatian penyedia indeks global.
Karena itu, BEI terus mendorong pembenahan melalui tiga aspek utama, yakni transparansi, peningkatan likuiditas, dan efektivitas pengawasan.
Dari sisi transparansi, BEI telah mengungkap informasi pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1 persen serta menyampaikan data investor secara lebih terperinci. Sementara untuk meningkatkan likuiditas, bursa terus melakukan pendalaman pasar dari sisi permintaan dan penawaran serta mendorong proses pembentukan harga yang lebih baik.
BEI juga berencana memperkuat pengawasan perdagangan melalui penerapan sistem real-time flagging untuk mendeteksi indikasi pelanggaran dalam transaksi di bursa.
Jeffrey menilai, penguatan ketiga aspek tersebut akan menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan pasar modal Indonesia ke depan. Ia pun berharap CMSE menjadi ruang bagi para pemangku kepentingan untuk bertukar pikiran mengenai pengembangan industri pasar modal.
Selama tiga hari penyelenggaraan, CMSE 2026 menghadirkan tujuh sesi seminar dengan beragam topik seputar pasar modal. Pengunjung juga dapat menikmati hiburan, mengikuti undian berhadiah, serta mengunjungi 104 tenant yang terdiri dari 88 booth pelaku pasar dan industri.
Tidak hanya melibatkan anggota bursa dan perusahaan tercatat, kegiatan ini turut menghadirkan lima UMKM binaan IDX Incubator. Keterlibatan UMKM tersebut diharapkan dapat memperkenalkan pasar modal kepada lebih banyak masyarakat sekaligus memperkuat inklusivitas industri pasar modal Indonesia.
CMSE 2026 secara resmi dibuka oleh Deputi Komisioner Perizinan dan Pengawas Pengelolaan Investasi Pasar Modal dan Lembaga Efek OJK, Eddy Manindo Harahap.
Dalam sambutannya, Eddy mengapresiasi tema yang diangkat karena dinilai sesuai dengan dinamika pasar modal saat ini. Ia mengibaratkan investasi seperti lari maraton yang membutuhkan tujuan, disiplin, dan konsistensi.
“Jika dianalogikan, investasi itu seperti berlari maraton, tentu butuh tujuan, disiplin, dan konsistensi. Yang menentukan bukan siapa yang cepat di awal, melainkan siapa yang tetap melangkah menuju tujuannya,” ujarnya.
Eddy juga menyoroti pertumbuhan jumlah investor pasar modal yang disebutnya menjadi catatan membanggakan di tengah tekanan pasar saham.
Menurutnya, pertumbuhan investor tahun ini merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah pasar modal Indonesia. Inklusi pasar modal juga semakin merata, bahkan sejumlah provinsi di luar Pulau Jawa, seperti Aceh, Sumatera Barat, dan Nusa Tenggara Timur, mencatatkan pertumbuhan investor tertinggi sepanjang tahun ini.
“Dan ini semakin menegaskan bahwa pasar modal kita adalah milik seluruh rakyat Indonesia,” katanya.
Dari sisi pendanaan, fungsi pasar modal sebagai salah satu sumber pembiayaan pembangunan juga masih terjaga. Hingga 30 Oktober 2026, nilai penawaran umum tercatat mencapai Rp202,04 triliun atau melampaui target sebesar Rp200 triliun.
Sementara jumlah perusahaan tercatat di pasar modal Indonesia telah mencapai 962 perusahaan.
Eddy menegaskan, capaian tersebut menunjukkan besarnya kepercayaan masyarakat terhadap pasar modal Indonesia.
“Data-data tersebut itu menunjukkan besarnya kepercayaan masyarakat, dan ini merupakan amanah yang harus kita jaga bersama,” ujarnya.(*)







Komentar