oleh

JAPFA for Kids Jangkau 2.051 Siswa di Lampung Selatan, 159 Anak Teridentifikasi Malagizi

VoxLampung.com, Lampung Selatan – PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) kembali memperkuat komitmennya dalam mendukung peningkatan kualitas gizi anak Indonesia melalui program JAPFA for Kids. Pada 2026, program tersebut menyasar 15 sekolah dasar di Kabupaten Lampung Selatan dengan menjangkau 2.051 siswa dan 165 guru melalui berbagai kegiatan edukasi gizi, pembiasaan hidup sehat, serta pendampingan sekolah dan orang tua.

Pelaksanaan program ini menjadi bagian dari rangkaian Media Gathering Apresiasi Karya Jurnalistik JAPFA (AKJJ) 2026, yang tahun ini mengangkat tema “18 Tahun JAPFA for Kids: Kolaborasi untuk Generasi Penerus Bangsa – Dari Data, Fakta, hingga Cerita Lapangan.”

Melalui tema tersebut, JAPFA mengajak insan media untuk turut mengangkat perjalanan panjang dan dampak nyata program JAPFA for Kids yang selama 18 tahun berfokus pada peningkatan gizi dan kesehatan anak-anak Indonesia.

Head of Social Investment JAPFA, Retno Artsanti, mengatakan program JAPFA for Kids hadir untuk membantu mengisi ruang-ruang yang belum sepenuhnya tersentuh dalam penanganan masalah gizi anak, khususnya pada usia sekolah dasar.

Menurutnya, perhatian terhadap persoalan gizi sering kali terfokus pada masa pencegahan stunting. Padahal, setelah anak memasuki usia sekolah, persoalan gizi masih dapat berlanjut dan berisiko memengaruhi kualitas kesehatan hingga dewasa.

“Kalau masalah gizi tidak diselesaikan secara utuh, maka siklusnya bisa terus berulang. Anak yang mengalami masalah gizi saat usia sekolah bisa tumbuh menjadi remaja dan orang tua dengan kondisi gizi yang kurang baik. Karena itu, JAPFA for Kids hadir untuk membantu pemerintah mengisi celah yang masih ada, terutama pada kelompok usia sekolah dasar,” ujar Retno.

Lampung Jadi Bagian Perjalanan Sejak Awal

Provinsi Lampung menjadi salah satu daerah yang memiliki sejarah panjang bersama JAPFA for Kids. Program ini pertama kali dilaksanakan pada 2008 di Kabupaten Lampung Tengah dan Lampung Timur dengan menjangkau enam sekolah dan 1.632 siswa.

Setelah itu, program terus berkembang ke berbagai daerah di Lampung, antara lain Lampung Selatan pada 2010, Tanggamus dan Pringsewu pada 2012, Pesawaran pada 2013, Lampung Timur pada 2015, Lampung Tengah pada 2016, serta kembali hadir di Lampung Selatan pada 2019.

Dengan pelaksanaan tahun ini, JAPFA for Kids tercatat telah menjangkau 69 sekolah dan lebih dari 13.400 siswa di Provinsi Lampung.

Berbagai kegiatan yang dilakukan meliputi edukasi empat pilar gizi seimbang, Hari Sehat JAPFA, edukasi konsumsi protein hewani, pemantauan status gizi siswa, pelatihan guru, hingga pendampingan sekolah untuk membangun kebiasaan hidup sehat sejak dini.

Masih Ada Anak Malagizi di Lampung Selatan

ST Khumaidah, Social Investment Supervisor JAPFA menjelaskan, hasil pemeriksaan awal terhadap sekitar 2.051 siswa di 15 sekolah dasar di Lampung, pihaknya menemukan sebanyak 159 siswa mengalami gizi kurang maupun gizi buruk.

Temuan tersebut sejalan dengan kondisi nasional. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sebanyak 11 persen anak usia 5–12 tahun masih berada dalam kategori gizi kurang dan gizi buruk berdasarkan indikator Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U).

Sementara itu, pemantauan JAPFA di tujuh lokasi pelaksanaan program sepanjang 2024 menunjukkan sekitar 10,1 persen siswa masih mengalami kondisi serupa.

“Persoalan malagizi masih ada dan membutuhkan upaya yang konsisten serta kolaboratif dari berbagai pihak,” kata Khumaidah.

Dapat Telur Setiap Hari Selama Enam Bulan

Sebagai salah satu intervensi utama, JAPFA memberikan asupan protein hewani berupa telur kepada siswa penerima manfaat selama enam bulan.

Namun, telur tidak diberikan dalam bentuk matang, melainkan mentah dan didistribusikan seminggu sekali sebanyak tujuh butir kepada keluarga siswa.

Tujuannya agar orang tua dapat mengolah telur sesuai selera anak sekaligus terlibat aktif dalam pemenuhan kebutuhan gizi keluarga.

“Kami percaya protein hewani menjadi salah satu modal penting untuk meningkatkan status gizi anak. Tetapi program ini tidak hanya soal telur. Orang tua tetap perlu melengkapi kebutuhan gizi lainnya seperti karbohidrat, sayur, dan buah,” jelasnya.

JAPFA menegaskan tidak semua siswa yang teridentifikasi mengalami malagizi otomatis menjadi penerima manfaat. Program hanya diberikan kepada siswa yang memperoleh persetujuan dari orang tua.

Menurut Khumaidah, sosialisasi kepada orang tua menjadi tahapan penting karena masih banyak yang belum memahami definisi gizi kurang dan gizi buruk.

“Sering kali orang tua kaget ketika anaknya dinyatakan gizi kurang. Banyak yang berpikir anaknya sehat karena aktif bermain. Padahal status gizi saat ini diukur melalui indikator antropometri seperti berat badan, tinggi badan, usia, dan jenis kelamin,” ujarnya.

Dipantau Ketat Bersama Sekolah dan Puskesmas

Berbeda dengan program bantuan pangan pada umumnya, JAPFA menerapkan sistem pemantauan yang cukup ketat untuk memastikan intervensi berjalan efektif.

Selain memastikan telur benar-benar dikonsumsi, program juga melakukan pemantauan berat badan dan tinggi badan siswa secara rutin.

Pengukuran awal (baseline), pertengahan (midline), dan akhir program (endline) dilakukan oleh tenaga kesehatan dari puskesmas untuk memastikan akurasi data.

Sementara untuk pemantauan bulanan, guru-guru mendapatkan pelatihan khusus agar mampu melakukan pengukuran berat badan dan tinggi badan sesuai standar.

Dalam pelaksanaannya, JAPFA bekerja sama dengan puskesmas, dinas kesehatan, dan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) untuk memberikan pelatihan terkait gizi dan pengukuran antropometri kepada para guru.

“Jadi kami tidak asal menetapkan penerima manfaat. Semua dilakukan berdasarkan data dan pengukuran yang dilakukan tenaga kesehatan yang kompeten,” kata Khumaidah.

JAPFA for Kids Kembali Hadir di Lampung Selatan, Sasar 2.051 Siswa dan 159 Anak Malagizi
Foto bersama dalam acara media gathering 18 Tahun JAPFA for Kids: Kolaborasi untuk Generasi Penerus Bangsa, di Hotel Aston Bandar Lampung, Kamis, 30/7/2026. | ist

Bangun Kebiasaan Hidup Sehat

Selain intervensi gizi, JAPFA for Kids juga menanamkan empat pilar gizi seimbang melalui pembiasaan perilaku hidup bersih dan sehat.

Setiap pekan, sekolah peserta program melaksanakan kegiatan Hari Sehat JAPFA yang meliputi senam bersama, cuci tangan pakai sabun, pemeriksaan kebersihan kuku, edukasi kesehatan, pengukuran berat badan dan tinggi badan, hingga makan bekal bersama.

Dalam kegiatan tersebut, siswa diajak memahami konsep gizi seimbang secara praktis melalui pemeriksaan isi bekal yang dibawa dari rumah.

“Anak-anak belajar langsung apakah bekalnya sudah lengkap atau masih kurang sayur dan unsur gizi lainnya. Jadi edukasinya bukan hanya teori,” ungkapnya.

JAPFA juga menempatkan dua fasilitator khusus di Lampung Selatan untuk mendampingi pelaksanaan program selama enam bulan. Kedua fasilitator tersebut dipilih melalui proses seleksi ketat dari ribuan pendaftar dari berbagai daerah di Indonesia.

Orang Tua Diajak Terlibat

Pendampingan tidak hanya dilakukan kepada siswa dan guru. Orang tua juga dilibatkan melalui pertemuan rutin setiap bulan untuk memantau perkembangan anak.

Retno menuturkan, banyak orang tua yang awalnya menolak atau tidak percaya anaknya mengalami masalah gizi, namun kemudian menjadi lebih peduli setelah mendapatkan penjelasan dan melihat perkembangan anak secara berkala.

“Orang tua justru menjadi lebih aktif bertanya kepada guru tentang hasil penimbangan anaknya. Mereka ingin tahu apakah status gizinya sudah membaik atau belum,” katanya.

Untuk memudahkan pemahaman, JAPFA menggunakan sistem warna sederhana dalam menjelaskan status gizi siswa. Warna hijau menandakan kondisi baik, kuning menunjukkan perlu perbaikan, dan merah berarti membutuhkan perhatian lebih.

Monitoring Digital dan Penghargaan Sekolah

Pelaksanaan program juga didukung sistem pelaporan digital menggunakan Google Form yang diisi guru setiap hari.

Melalui sistem tersebut, guru melaporkan konsumsi telur siswa, pelaksanaan Hari Sehat JAPFA, hingga kehadiran peserta kegiatan.

Jika seorang siswa tercatat tidak mengonsumsi telur sebanyak tiga kali dalam tujuh hari, pihak sekolah dan orang tua akan diminta melakukan komitmen ulang agar program berjalan efektif.

Selain itu, di akhir program JAPFA akan kembali melakukan pemeriksaan status gizi bersama puskesmas dan menggelar JAPFA for Kids Awards sebagai bentuk apresiasi kepada sekolah-sekolah peserta.

Di Lampung Selatan, program juga menggelar seleksi pelatihan catur. Dari 15 sekolah peserta, sebanyak 94 siswa telah mengikuti tahap seleksi awal dan saat ini masih menjalani proses penilaian.

Jangkau Lebih dari 217 Ribu Siswa di Indonesia

Hingga 2026, JAPFA for Kids telah menjangkau 217.706 siswa, 14.713 guru, dan 1.308 sekolah di 106 kabupaten/kota pada 28 provinsi di Indonesia.

Program ini juga menunjukkan hasil yang signifikan. Pada 2024, sebanyak 762 dari 1.479 siswa yang sebelumnya mengalami gizi kurang dan gizi buruk berhasil meningkat menjadi gizi baik atau setara 51,5 persen.

Sementara pada 2025, sebanyak 646 dari 1.034 siswa berhasil mengalami peningkatan status gizi menjadi gizi baik atau mencapai 62,5 persen.

Tahun ini, JAPFA menargetkan sebanyak 16.000 siswa di berbagai wilayah Indonesia dapat mengikuti program JAPFA for Kids, mulai dari Padang Pariaman di Sumatera Barat, Bintan, Lampung Selatan, hingga Sofifi di Maluku Utara.

Dengan pendekatan berbasis kolaborasi, edukasi, dan pendampingan berkelanjutan, JAPFA berharap upaya memperbaiki gizi anak dapat memberikan dampak yang lebih luas bagi generasi penerus bangsa.(Imelda)

Komentar

Rekomendasi