VoxLampung, Lampung Selatan — Di tengah semerbak aroma antiseptik ruang perawatan RS Airan Raya, seorang pria paruh baya tampak terbaring lemah. Namanya Hatimi (58), warga Desa Fajar Baru, Lampung Selatan. Sudah tiga bulan ia bergulat dengan sakit komplikasi—diabetes dan gagal ginjal—yang membuatnya tak lagi bisa bekerja.
Namun Sabtu pagi, 31 Mei 2025, matanya tampak sedikit berbinar. Bukan karena kesembuhan yang datang tiba-tiba, melainkan karena hadirnya harapan. Harapan itu datang lewat sosok berpeci putih, KH Ismail Zulkarnain, Pimpinan Pondok Pesantren Yatim Piatu Riyadhus Sholihin, Bandar Lampung.
“Ini bantuan awal, insyaAllah nanti kami bantu setiap bulan. Setidaknya untuk beli lauk-pauk,” ujar KH Ismail lembut, sambil menyerahkan santunan kepada Hatimi.
Bantuan ini merupakan bagian dari program Yatim Piatu Peduli, inisiatif dari Ponpes Riyadhus Sholihin yang selama ini dikenal sebagai tempat bernaung para anak yatim piatu. Tapi siapa sangka, mereka yang diasuh dan dibina di pondok ini juga diajarkan untuk memberi—bukan sekadar menerima.
“Yatim piatu juga bisa memberi manfaat bagi sesama. Tidak ada orang jatuh miskin karena membantu orang susah,” tegas Ismail di hadapan keluarga Hatimi.
Duka yang Tak Sendiri
Hatimi selama ini bekerja serabutan, menyambung hidup bersama istri dan satu anaknya. Namun sejak sakit menyerang, penghasilan terhenti. Tak ada lagi upah harian, tak ada lagi belanja dapur. Beruntung, ia memiliki BPJS Kesehatan yang menanggung sebagian besar biaya pengobatan. Tapi untuk kebutuhan harian? Itu cerita lain.
“Terima kasih kepada Pak Haji Ismail dan Ponpes. Bantuan ini sangat berarti. Harapan kami, semoga adik saya segera pulih,” kata M. Syarif, kakak Hatimi, dengan mata berkaca-kaca.
Sebagai tindak lanjut, pihak pondok meminta Hatimi membuka rekening pribadi agar bantuan bisa disalurkan secara rutin setiap bulan.
Bukan Sekadar Amal, Ini Pendidikan Hati
Langkah Ponpes Riyadhus Sholihin ini bukan sekadar aksi sosial sesaat. Ini adalah bagian dari nilai yang ditanamkan kepada para santri yatim piatu: bahwa berbagi adalah inti dari kemuliaan hidup.
Bagi Hatimi, hari itu bukan hanya menerima bantuan. Ia menerima harapan. Bahwa di tengah sakit dan kesulitan, masih ada tangan yang mau menggenggam—dan lebih penting lagi, hati yang peduli.(*)
Baca Juga: Ponpes Yatim Piatu Riyadhus Sholihin Peduli Hanafi, Bocah Penderita Hidrosefalus di Way Hui







Komentar