Oleh Ruslan Abdul Ghofur
PADA satu malam yang larut, handphone saya bergetar. Rupanya ada pesan WhatsApp masuk dari seorang tokoh pendidikan nasional. Dia sejatinya seorang nahdliyin karena ayah dan keluarganya berlatar belakang Nahdlatul Ulama (NU) yang cukup kental. Tapi, dia bukan pengurus. Tidak di PBNU, PWNU atau bahkan PCNU. Dia hanya seorang “simpatisan NU”.
Tokoh ini sengaja malam-malam menghubungi saya untuk bercerita tentang pandangannya dan pandangan orang luar NU tentang NU. Kedua pandangan terekam dalam narasi dialogis berikut:
“Saya punya teman yang sama sekali tidak ngerti soal NU. Dia beragama Islam tetapi tidak peduli dengan organisasi yang bergerak di bidang keagamaan ini.
Ketika belakangan ini membuka Youtube dan tanpa sengaja melihat banyak berita tentang perselisihan di tubuh NU, dia bertanya kepada saya: berapa pendapatan yang diperoleh setiap bulan dari menjabat pengurus NU?
Tentu saya jawab secara terus terang bahwa semua pengurus di NU dari tingkat pusat hingga tingkat ranting tidak ada yang menerima gaji, honor, dan apalagi uang lembur.
Mendengar penjelasan saya, kawan saya terheran-heran. Dalam herannya, dia bertanya lagi: lalu apa yang menjadi motivasi banyak orang sehingga bersemangat untuk menjabat dan mempertahankan jabatannya di NU? Mengapa pula orang-orang tersebut sampai harus berselisih dengan sesama pejabat organisasi yang konon bergerak di wilayah dakwah itu?
Atas pertanyaan tersebut, jujur saya pun tidak mengerti. Alih-alih berhenti, kawan saya justru melanjutkan pertanyaannya: apa sebenarnya tujuan orang berjuang di NU?
Pertanyaan ini mudah saya jawab: orang berjuang di NU untuk mengajak siapa saja agar berakhlak mulia dalam menjalani hidup.
Tentang akhlak mulia saya jelaskan bahwa orang yang berakhlak mulia adalah orang yang banyak bersyukur, sabar, ikhlas, tidak menghasut dan memfitnah, tidak tamak, tidak sombong, selalu menjauhi permusuhan, tidak membuat kerusakan, tidak dendam, dan lain-lain sejenisnya.
Mendengar penjelasan saya tentang sedemikian indahnya apa yang diperjuangkan oleh NU, teman saya tampak kaget. Tapi, seperti tidak percaya, dia malah mengulang pertanyaannya: lalu keuntungan apa yang didapat dari menjabat di NU?
Tentu saya ulang pula jawaban saya: secara material tidak ada untungnya.
Agar menjadi semakin jelas saya tambahkan bahwa “keuntungan” dari jabatan itu adalah harapan mendapatkan rida dari Tuhan.
Masih belum puas, dia bertanya lagi: sekalipun sedikit, apa imbalan dari jabatan itu?
Dia memang tampak belum lepas dari kebingungan: bagaimana mungkin jabatan yang tanpa gaji, honor, uang lembur, dan lain-lain, masih diperebutkan. Semakin aneh baginya, mereka yang memperebutkan jumlahnya juga banyak.
Mencoba meretas kebingungannya, saya katakan bahwa dengan punya jabatan di NU, seseorang akan merasa dihargai, dipercaya, dan ketika ngomong didengarkan orang.
Bentuk penghargaan itu bisa dilihat, misalnya, ketika ada kegiatan rapat atau mengisi pengajian, mereka dijaga atau dikawal oleh anggota Banser.
Dijelaskan seperti ini, kawan saya justru melempar pertanyaan baru: Banser yang sekian banyak itu gajinya berapa dan sumber uangnya dari mana?
Saya jawab: mereka tidak digaji dan memang tidak berharap gaji. Umpama ada imbalan, paling-paling sebatas rokok dan kue ala kadarnya. Para Banser itu memang berniat beramal secara ikhlas, sabar, dan mengabdi kepada guru atau kiai.
Ihwal “niat tulus dan ikhlas” seperti itu memang sulit dipahami dan membingungkan orang yang tidak mengenal NU. Bahkan di kalangan Banser pun bisa jadi tidak semuanya bisa menjelaskan mengapa mereka mau melakukan peran itu.
Pada umumnya banser, mereka ikhlas dan sabar mengabdi kepada kiai dan ulama. Meski begitu, mereka pun merasa sedih ketika para ulama atau kiainya berselisih.”
***
Setelah membaca rekaman dialog di atas, pun sesekali menanggapi, saya merenung. Saya mencoba memahami: inilah realitas masyarakat memandang NU. Baik NU sebagai jamiyyah (organisasi) besar dengan jumlah warga yang besar dan harapan besar, maupun NU sebagai lahan pengabdian bagi para pencintanya.
Alhamdulillah. Patut saya syukuri, tokoh kita ini, meskipun bukan pengurus NU, dia tetap berusaha menjelaskan dan menjawab pertanyaan orang di luar NU berdasarkan pemahamannya sebagai simpatisan dan pencinta ulama. Dari sini tampak jelas kecintaannya kepada NU.
Dialog di atas mungkin mudah dipahami oleh jemaah NU. Namun bagi mereka yang non-NU, ini sungguh perkara sulit.
Sebagai pengurus NU, tepatnya di PWNU Lampung, saya berusaha mengambil pelajaran penting dari dialog tersebut. Setidaknya sebagai bahan renungan demi khidmat yang lebih luas kepada NU.
NU adalah wadah besar bagi para ulama dan pecinta ulama. Oleh karena itu, sudah semestinya keikhlasan dan kesungguhan saya dahulukan dalam mengurusi jamiyyah dan jemaah NU.
Sebagai pengurus NU, seyogianya saya mampu menyampaikan pesan agama dengan hikmah dan mauidhoh hasanah, bukan jidal dan fitnah.
Sepatutnyalah saya menjalankan organisasi NU dengan hati dan akal. Bukan dengan akal dan nafsu. Saya memahami bahwa pada dasarnya akal bisa kalah oleh nafsu. Akal bahkan mampu mencari jalan untuk membenarkan nafsu. Sebaliknya, dengan hati/qolbu yang disinari nur ilahiyyah sungguh akan terasa sejuk dalam mengurus NU dan mengayomi jemaahnya.
Akhirnya, saya terus berharap agar Muktamar 2026 tetap menjadi momen untuk memilih pengurus NU yang mengurusi NU. Bukan pengurus yang diurusi NU.
Semoga NU selalu dilindungi dari fitnah dan diberkahi, karena sesungguhnya Allah SWT lah owner sejatinya…..aamiin.
Prof Dr Ruslan Abdul Ghofur
- Direktur Pascasarjana UIN Raden Intan Lampung, 2022-2026
- Guru besar bidang ilmu ekonomi Islam UIN Raden Intan Lampung
- Pengurus di PWNU Lampung







Komentar