oleh

Cetak Agen Perubahan, Universitas Malahayati Gandeng YKWS & YSC Gelar Pelatihan Fasilitator Muda

VoxLampung, Bandar Lampung – Semangat perubahan menyala di Universitas Malahayati! Bersama Yayasan Konservasi Way Seputih (YKWS) dan YSC Indonesia, kampus ini menggelar Pelatihan Dasar Fasilitasi Masyarakat yang ditujukan khusus untuk anak muda yang ingin jadi agen perubahan di komunitasnya.

Digelar selama dua hari, 26–28 Mei 2025, pelatihan ini diikuti 30 peserta berusia 18–32 tahun. Mereka berasal dari berbagai latar belakang—mulai dari mahasiswa Program Based Learning (PBL) Universitas Malahayati, pemuda dari komunitas dampingan, hingga para relawan muda yang ingin berkontribusi lebih untuk lingkungan sekitarnya.

Belajar Jadi Fasilitator yang Inspiratif

Kegiatan dibuka langsung oleh Ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat, Nurul Ariastuti, yang menyampaikan harapannya agar pelatihan ini mampu mencetak fasilitator muda yang siap mendorong perubahan positif dan berkelanjutan di masyarakat.

Materi pelatihan disampaikan dengan cara interaktif dan praktik langsung. Bambang Pujiatmoko, pembina YKWS yang sudah lebih dari 30 tahun berkecimpung dalam pemberdayaan masyarakat, membagikan ilmunya seputar teknik fasilitasi, komunikasi perubahan perilaku, pendidikan orang dewasa, hingga pembangunan kesehatan lingkungan.

Kegiatan Pelatihan Dasar Fasilitasi Masyarakat yang digelar oleh Universitas Malahayati bersama YKWS dan YSC Indonesia. | ist

Di hari kedua, peserta akan turun langsung melakukan simulasi fasilitasi di hadapan kelompok masyarakat yang berbeda—dari anak-anak hingga orang tua. Di akhir pelatihan, mereka akan melakukan refleksi dan menyusun strategi fasilitasi yang bisa diterapkan di komunitas masing-masing.

Fasilitator Muda, Harapan Masa Depan

Direktur Eksekutif YSC Indonesia, Iffah Rachmi, menekankan pentingnya pendekatan yang empatik dan partisipatif dalam fasilitasi. “Kami ingin mencetak fasilitator muda yang bukan cuma pintar bicara, tapi juga peka, reflektif, dan bisa membangun komunikasi yang bermakna di masyarakat,” ujarnya.

Senada dengan itu, Direktur Eksekutif YKWS, Febrilia Ekawati, menyebut pelatihan ini sebagai bukti nyata kolaborasi lintas sektor antara kampus, organisasi pemuda, dan masyarakat sipil. “Dampaknya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat,” tambahnya.

Suara dari Peserta

Shinta Adelia (24 tahun), salah satu peserta, mengaku pelatihan ini membuatnya banyak merenung. “Saya jadi sadar, sebagai fasilitator kita harus netral dan obyektif saat memulai obrolan dengan komunitas,” ungkapnya.

Sementara peserta termuda, Bumi (18 tahun), merasa pengalaman ini membuka matanya soal pentingnya mengenali audiens. “Ternyata pesan ke anak-anak harus beda banget dengan ke ibu-ibu atau bapak-bapak,” katanya antusias.

Melahirkan Generasi Penggerak

Pelatihan ini bukan hanya ajang belajar, tapi juga langkah konkret membangun generasi muda yang siap jadi penggerak perubahan di tingkat lokal. Dengan bekal ilmu, empati, dan semangat kolaborasi, para peserta diharapkan bisa menjadi jembatan antara komunitas dan perubahan positif yang berkelanjutan.(Rls)

Komentar