Sedot Tinja Jadi Solusi Ketahanan Air di Bandar Lampung, ASN Wajib Jadi Contoh
VoxLampung.com, Bandar Lampung – Ancaman krisis air yang kian nyata di Bandar Lampung, salah satunya disebabkan pencemaran bakteri E.Coli. Untuk itu, sebagai organisasi yang berfokus pada penyediaan air bersih, perubahan perilaku sanitasi, dan ketahanan iklim, Yayasan Segara Cita (YSC) menawarkan sejumlah solusi atas persoalan air di Bandar Lampung.
Baca berita sebelumnya: Bom Waktu Krisis Air Bersih Bandar Lampung, Ancaman Nyata di Depan Mata (Bagian 1)
Langkah paling mendasar yang harus dilakukan, kata Iffah, adalah menjaga kualitas air. Upaya terdekat dan paling nyata ialah sedot tinja. Isu ini penting untuk disoroti karena selama ini sering disuarakan, namun justru banyak aparatur sipil negara (ASN) tidak menyadari pentingnya, bahkan tidak melaksanakannya. Padahal ASN seharusnya menjadi contoh bagi masyarakat.
Ketika sosialisasi dilakukan kepada warga, sering kali mereka hanya mengiyakan. Namun pada saat yang sama, para pengambil kebijakan tidak memberi teladan. Jika upaya ini ingin dimasifkan, minimal ASN, tokoh masyarakat, dan pimpinan daerah juga harus melaksanakan dan menunjukkan contoh.
“Jangan sampai kesannya kami (YSC) yang ribut sendiri, sementara pihak yang memiliki kewenangan dan regulasi justru diam. Seharusnya mereka yang berbicara, sementara masyarakat mendukung dan meramaikan,” kata Iffah Rachmi, Direktur YSC, saat ditemui di kantornya.
Iffah bilang, contoh konkret menunjukkan bahwa perubahan bisa terjadi. Di Kota Metro, peningkatan layanan sedot tinja mencapai sekitar 30 persen karena dimulai dari ASN. Perubahan harus bergerak dari pucuk pimpinan. Jika pimpinan tidak peduli, persoalan tinja tidak akan pernah dianggap penting.
Kota Bandar Lampung sejatinya telah memiliki Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Air Limbah Domestik. Dalam regulasi tersebut, sanitasi mencakup pengelolaan sampah dan air limbah. Air limbah sering kali tidak terlihat, berbeda dengan sampah, tetapi keduanya sama-sama diatur secara jelas.
Dalam perda itu disebutkan bahwa tangki septik wajib disedot minimal satu kali dalam tiga tahun. Yang disedot adalah lumpurnya, karena air akan meresap, sementara lumpur terus menumpuk. Jika tidak dilakukan penyedotan, masalah serius dapat muncul.
Banyak kasus menunjukkan air sumur warga tercemar akibat tangki septik yang runtuh tanpa disadari. Dalam kondisi tersebut, air yang digunakan hampir pasti telah terkontaminasi bakteri E. Coli
Indonesia, termasuk Bandar Lampung masih menggunakan sistem sanitasi individual rumah tangga, belum sistem terpusat seperti di Jepang. Namun sistem individual tetap mensyaratkan penyedotan rutin.
E. Coli dapat bergerak hingga sekitar tiga meter per hari. Tidak ada jaminan jarak antara sumur dan tangki septik selalu mencapai sepuluh meter, sementara kondisi permukiman semakin rapat. Jika jaraknya kurang dari itu, risiko pencemaran sangat tinggi.
Dulu ada anggapan bahwa tangki septik yang baik justru tidak dicor di bagian bawah agar limbah meresap. Namun aturan nasional telah direvisi. Terutama untuk wilayah perkotaan, tangki septik harus kedap, dicor seluruhnya, dan hanya memiliki lubang kecil untuk ventilasi serta penyedotan. Konsekuensinya, tangki septik wajib disedot secara berkala.
Masalah ini banyak ditemukan di perumahan subsidi. Banyak tangki septik dibangun tidak sesuai standar, jaraknya sangat dekat dengan sumur, bahkan hanya dua hingga tiga meter. Akibatnya, warga harus menggali ulang sumur atau memperbaiki tangki septik dengan biaya sendiri jika ingin menghindari cemaran E. Coli.
Keluhan ini juga telah disampaikan YSC kepada dinas perumahan. Meski perumahan subsidi disebut layak huni, kenyataannya banyak tangki septik tidak memenuhi standar, padahal pengawasan berada dalam ranah mereka.
Saat ini, target pemerintah pusat bukan lagi sekadar sanitasi layak, tetapi sanitasi aman. Sanitasi layak cukup dengan memiliki toilet, sedangkan sanitasi aman mensyaratkan adanya pengelolaan limbah yang benar, termasuk sedot tinja rutin.
“Target nasional sanitasi aman adalah 30 persen pada tahun 2030. Artinya, kebijakan ke depan harus memasukkan sedot tinja sebagai program serius. Sebagai pemancing idealnya digratiskan di tahun pertama atau disubsidi,” kata peraih penghargaan Kyoto World Water Grand Prize 2024 itu.
Di beberapa kota, layanan sedot tinja bahkan digratiskan pada tahun pertama. Di Bandar Lampung, layanan ini masih berbayar sekitar Rp300 ribu, dan ini seharusnya menjadi perhatian.

Konservasi Air Dimulai dari Rumah
Selain sedot tinja, konservasi air juga harus dimulai dari rumah. Setiap rumah perlu memiliki upaya untuk mengamankan sumber airnya, minimal memastikan sumur tetap aman.
Pemerintah kota seharusnya mendorong gerakan bersama untuk pengamanan air. Upaya seperti sumur resapan, pengelolaan air hujan, dan penghijauan sebenarnya sudah ada, namun masih sebatas imbauan dan belum menjadi gerakan masif.
Jika dilakukan bersama, semakin banyak air yang bisa disimpan. Rumah besar maupun rumah sederhana sama-sama bisa melakukan konservasi sesuai kondisi masing-masing. Tidak bisa hanya mengandalkan bendungan atau waduk. Harus ada gerakan individu untuk menahan dan mengamankan air sekaligus menjaga kualitasnya.
Jika air tersedia dan kualitasnya terjaga, keterjangkauannya pun akan lebih baik. Masyarakat tidak perlu membeli air sehingga pengeluaran bisa dialihkan untuk kebutuhan lain.
Ketersediaan air semakin terbatas dan mahal. Dulu air dianggap sesuatu yang selalu ada, kini harga air minum kemasan terus meningkat dan ke depan berpotensi semakin tinggi. Itu baru air minum, belum termasuk air untuk mandi dan kebutuhan harian lainnya.
“Coba lihat harga air kemasan botol hari ini, sudah semakin mahal. Satu botol 600 mili harganya sudah sekitar Rp5.000,” kata Iffah.
Tanpa Perubahan Perilaku, Solusi Tak Akan Tuntas
Kemudian, selain sedot tinja dan konservasi air, solusi di tingkat rumah tangga adalah perubahan perilaku. Perubahan perilaku mencakup hemat air saat mandi dan menyikat gigi, tidak membiarkan keran menyala terus, serta memanfaatkan teknologi hemat air pada toilet duduk dengan pilihan siram air kecil dan besar.
“Sayangnya, teknologi sederhana ini sering tidak disadari penggunaannya. Padahal, WC duduk justru relatif lebih hemat air,” kata dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati itu.
Perubahan perilaku tidak hanya soal bagaimana masyarakat menggunakan air, tetapi juga bagaimana mereka mengelola sampah di rumah. Di banyak permukiman, sampah masih sering dibiarkan menumpuk atau dibuang ke selokan. Dampaknya tidak langsung terlihat, tetapi perlahan mencemari tanah dan sumber air di sekitarnya.
Langkah paling sederhana adalah memilah sampah sejak dari rumah. Sampah organik bisa diolah menjadi kompos, sementara plastik, kertas, dan kemasan lainnya seharusnya tidak langsung dibuang, melainkan didaur ulang atau disalurkan ke bank sampah. Kebiasaan kecil ini sering dianggap merepotkan, padahal justru menentukan kondisi lingkungan dalam jangka panjang.
Keluhan Air PDAM Saat Musim Kemarau, Pemerintah Mesti Berbenah
Saat musim kemarau, masyarakat pelanggan PDAM kerap mengeluhkan debit air yang kecil, bahkan tidak mengalir sama sekali, sehingga kebutuhan air harian tidak terpenuhi. Kondisi ini menunjukkan perlunya pembenahan serius dari sisi sistem distribusi dan pengelolaan sumber air oleh PDAM.
“Wacana pembenahan memang ada dan sudah kami dengar, tetapi hingga kini belum terealisasi,” ujar Iffah.
Risiko Air Galon Isi Ulang, Disarankan Direbus Terlebih Dahulu
Tantangan lainnya adalah meningkatnya penggunaan air galon isi ulang. Air kemasan segel dinilai relatif lebih aman, meski tetap memerlukan pengawasan. Sementara itu, air galon isi ulang menjadi yang paling rentan karena banyak depot tidak melakukan uji kualitas secara berkala dan menggunakan peralatan yang sudah tidak sesuai standar.
Akibatnya, masih kerap ditemukan kandungan E. Coli dan kualitas air yang buruk. Jika terpaksa menggunakan air isi ulang, masyarakat disarankan untuk memasaknya atau memfilter kembali di rumah.
Pentingnya Filtrasi Air Rumah Tangga
Air rumah tangga juga dapat dimanfaatkan dengan sistem filtrasi. Idealnya, air diuji terlebih dahulu di laboratorium, kemudian dipasang filter yang sesuai dengan hasil uji tersebut. Saat ini, harga filter air cukup beragam dan semakin terjangkau.
Bahkan, air yang masuk ke toren sebaiknya sudah melalui proses penyaringan sebelum digunakan. Munculnya warna kuning di lantai kamar mandi dapat menjadi tanda adanya kandungan zat tertentu dalam air yang tidak baik jika dikonsumsi dalam jangka panjang. Untuk air minum, filtrasi menjadi kebutuhan yang sangat penting.
Klik laman berikutnya untuk melanjutkan membaca






Komentar