VoxLampung.com, Bandar Lampung – Setiap Minggu pagi, Kampung Yosomulyo, Kota Metro, menjelma menjadi ruang hidup yang riuh dan berwarna. Sejak matahari belum sepenuhnya naik, Pasar Yosomulyo Pelangi (Payungi), sudah dipenuhi aroma makanan, suara tawar-menawar, dan tawa pengunjung.
Lebih dari 80 pedagang kuliner dan pernak-pernik berderet di sepanjang gang kampung. Ribuan orang datang silih berganti, menyusuri lapak-lapak sederhana yang disulap menjadi etalase rasa dan kreativitas warga. Di tengah keramaian itu, sampah tak terelakkan: bungkus makanan, gelas plastik, dan sisa makanan menumpuk seiring waktu berjalan.
Namun hiruk pikuk itu tak meninggalkan jejak yang lama. Menjelang siang, ketika lapak mulai ditutup dan pengunjung beranjak pulang, Yosomulyo perlahan kembali ke wajah asalnya.
Gang-gang kampung kembali lengang, bersih, dan rapi. Tak tampak tumpukan sampah atau bau sisa pasar. Warga bergerak cepat memilah dan mengelola sisa aktivitas pagi tadi. Di kampung ini, sampah bukan akhir dari keramaian, melainkan awal dari kesadaran bersama menjaga lingkungan, terutama air, agar tetap lestari di ruang hidup mereka sendiri.
Baca juga: Bom Waktu Krisis Air Bersih Bandar Lampung, Ancaman Nyata di Depan Mata (Bagian 1)
Founder Payungi, Dharma Setiawan, menyebut persoalan sampah sebagai masalah pertama yang mereka hadapi saat mendirikan Payungi.
“Kami punya problem, sampah ini mau dikemanakan. Kampung kecil ini berpikir, bagaimana mengelola sampah ini, agar bisa meringankan beban negara,” ujarnya.
Dari kegelisahan itu, Payungi tidak memilih jalan pintas dengan sekadar membuang sampah ke TPA. Mereka membangun sistem pengelolaan berbasis kesadaran.
“Kami ingin mengubah perilaku, mengubah kebiasaan, dan akhirnya menjadi budaya,” kata Dharma.
Sampah Tidak Lagi Mengalir ke Selokan

Setiap usai gelaran pasar, pedagang wajib memilah sampah ke dalam tiga jenis: botol plastik, plastik non-botol, dan sisa makanan. Botol plastik dikumpulkan di halte botol plastik, kotak besar yang ditempatkan di beberapa titik kampung. Botol-botol itu kemudian dijual.
Sampah plastik lain, yang belum bisa diolah, menjadi satu-satunya jenis sampah yang masuk ke TPA. Sementara sisa makanan dimanfaatkan sebagai pakan ternak.
Di Pasar Payungi, satu jenis sampah tidak ditemukan sama sekali, yaitu styrofoam.
“Kami haramkan penggunaan styrofoam. Kami denda jika ada pedagang yang pakai. Karena styrofoam itu paling jahat ke lingkungan. Bahkan dibakar pun hanya mengecil,” tegas Darma.
Kebijakan ini penting karena styrofoam dan plastik sekali pakai berpotensi mencemari tanah dan air permukaan bila masuk ke drainase.
Ayam Kastari, Kompos, dan Air yang Terjaga
Payungi sengaja memelihara ayam Kastari yang ditempatkan di tiga titik kandang, masing-masing berisi belasan ekor. Limbah sisa makanan dari pasar dan rumah tangga menjadi pakan ayam-ayam tersebut. Kotorannya diolah menjadi pupuk kompos.

Pemuda Penggerak Payungi, Bisma Bayu Prabowo (17), siswa kelas 3 SMA Negeri 5 Metro, menjelaskan bahwa pengelolaan limbah ternak menjadi kunci pencegahan pencemaran air.
“Limbah kotoran ternak kami ubah jadi pupuk cair, terutama saat Idul Adha. Kalau tidak diolah, bisa mencemari air,” ujar pemuda yang aktif di Payungi sejak duduk di bangku SMP itu.
Pada Idul Adha 2025, Payungi mengolah limbah tinja dari 8 ekor sapi kurban dan menghasilkan 8 drum pupuk cair. Prosesnya membutuhkan waktu 5–6 bulan hingga siap pakai dan harus dibuka seminggu sekali karena menghasilkan gas metana. Kata Bayu, Ilmu pengolahan ini diperoleh dari Agus Susanto, dosen UM Metro.
Sebelumnya, Payungi juga pernah mencoba membuat biogas, namun belum berhasil. Meski demikian, mereka terus berproses.
Selain pupuk cair, kotoran ternak juga dijadikan pupuk kompos. Sampah daun dan sampah organik rumah tangga turut diolah. Limbah jelantah dikumpulkan untuk dijual atau dijadikan sabun, agar tidak dibuang ke selokan.

Drainase Bersih, Kampung Lebih Sehat
Meski kuantitas air di Kota Metro relatif aman karena jauh dari industri, Payungi tetap memberi perhatian besar pada kebersihan lingkungan. Kampung ditata sebagai creative space dengan ruang hijau, sentuhan seni, suasana kampung ala kafe, serta pembuatan lubang biopori.
“Sabtu pagi kami menyapu sambil memilih. Daun itu bukan sampah kalau di Payungi, bisa diolah. Plastik ada tempatnya sendiri,” kata Darma.

Drainase dibersihkan secara rutin, tidak bau, dan dipastikan tidak ada sumbatan. Kebiasaan ini menjadi standar dasar kampung bersih sekaligus upaya nyata menjaga air permukaan.
Target besar Payungi adalah tidak ada sampah dari Kampung Yosomulyo yang masuk ke TPA. Setiap RT memiliki halte botol plastik, yang disetorkan berjenjang ke RW dan kelurahan. Ada pula rencana daur ulang botol plastik serta pengolahan plastik dengan mesin peleleh tanpa asap, yang terinspirasi dari Banyumas.

Perempuan, Rumah Tangga, dan Air: Gerakan WES Payungi
Kesadaran menjaga lingkungan di Payungi tidak lepas dari peran perempuan. Melalui WES (Women and Environment Studies) Payungi, para ibu rumah tangga menjadi garda depan perubahan.
Penggerak WES Payungi, Luckty Gian Sukarno (35), mengutip pesan mendiang Hifni Septina Carolina, founder WES.
“Manusia adalah khalifah di bumi. Perempuan punya peran besar, karena limbah paling banyak justru berasal dari rumah tangga,” katanya.
WES Payungi menggelar berbagai kelas praktik, mulai dari eco-brick, daur ulang sampah, hingga workshop pengolahan minyak jelantah menjadi sabun agar tidak dibuang ke selokan dan mencemari air.
Anak-anak hingga ibu rumah tangga dilibatkan langsung. Saat libur sekolah, anak-anak SD diajak membuat gantungan kunci dari tutup botol. Satu anak bahkan bisa membuat 5–10 gantungan kunci, meski tantangannya adalah mengumpulkan tutup botol.

WES juga menyediakan 1.000 buku hibah dari Perpustakaan Nasional, termasuk buku anak bertema lingkungan. Selain itu, mereka berkolaborasi dengan LazisNU untuk program penghijauan dengan pembagian bibit ke tiga kelompok ibu-ibu dan rencana pelibatan penyandang disabilitas.
Para ibu diajarkan menanam cabai, daun bawang, bunga, membuat biopori, mengelola sampah organik menjadi kompos, hingga membuat program menukar sampah dengan telur ayam Kastari.
Dari Batok Kelapa hingga Gotong Royong: Pedagang yang Berubah
Kesadaran lingkungan di Payungi juga tumbuh dari para pedagang. Sukron Setiawan (27), pemilik gerai Bakso Receh, memilih menggunakan batok kelapa sebagai wadah baksonya.

Awalnya, ia menggunakan mangkuk plastik. Namun setelah mendapat arahan dari founder Payungi, ia mencari alternatif. Ide itu muncul saat Sukron melihat limbah batok kelapa di rumah kerabat pembuat gudeg.
Batok tersebut lantas dimodifikasi, diamplas, dibersihkan, diberi alas hingga layak digunakan. Sejak 2022, ia konsisten menggunakan batok kelapa sebagai mangkuk bakso seharga Rp10 ribu per porsi.
“Kami ingin mengurangi sampah plastik supaya tidak mencemari lingkungan,” kata Sukron.

Pedagang lain, Rina Stany (18), mahasiswa UIN Jurai Siwo, menceritakan bahwa pedagang Payungi tidak hanya berdagang. Setiap Kamis, ketua kelompok membuat daftar kerja bakti. Sabtu pagi dilakukan gotong royong, Sabtu sore ada undian lokasi dagang dan materi pembelajaran, Minggu pagi berdagang, lalu dilanjutkan bersih-bersih dan pemilahan sampah.
“Penting banget menjaga lingkungan bersama-sama demi masa depan,” ujarnya.
Suki Sri Hartati (63), pedagang lansia, mengaku sebelum bergabung dengan Payungi ia tak memahami pemilahan sampah dan kerap membakar sampah. Kini, ia tak lagi membuang limbah sembarangan.
“Botol plastik masuk halte, sisa makanan ke ayam Kastari,” katanya.
Hal serupa dirasakan Nur Hafifah (34), pedagang jajanan modern sejak 2020.
“Awalnya bersih-bersih Cuma buat kebersamaan. Lama-lama jadi kebiasaan. Tidak betah lihat sampah berserakan,” ujarnya.
Inklusif dan Bertumbuh: Disabilitas di Payungi

Payungi juga menjadi rumah bagi penyandang disabilitas. Ani Zuliana (43), ibu dari Axcel (14), anak tuna rungu, mengaku bersyukur.
“Anak-anak disabilitas bisa berkembang di sini. Tidak dipandang sebelah mata. Kami sangat berterima kasih dan bersyukur dengan adanya Payungi,” kata Ani dengan mata berbinar.
Melalui Disabilitas Corner Payungi, anak-anak dilatih menjadi barista, melukis, bermusik, menari, hingga mengelola perpustakaan. Axcel dan dua temannya kini sudah bisa mengoperasikan mesin kopi dan memiliki penghasilan.
Meski komunikasi menjadi tantangan, para mentor bahkan belajar bahasa isyarat. Anak-anak disabilitas juga dilibatkan dalam penjagaan lingkungan.
Melalui bahasa isyarat yang diterjemahkan ibunya, Axcel mengatakan, “Senang sekali di sini.”
Payungi: Dari Kampung Biasa Menuju Model Indonesia Emas

Payungi berdiri sejak 28 Oktober 2018 dan kini telah berjalan tujuh tahun. Di awal kemunculannya, tak banyak yang menyangka kampung ini akan berkembang sejauh ini. Bahkan, menurut pendirinya, Darma Setiawan, Yosomulyo nyaris tak memiliki potensi alam yang bisa diandalkan.
“Potensi alam mungkin banyak di negara kita, tapi kalau manusianya tidak tumbuh, tidak ada peningkatan kualitas, maka tidak ada perubahan,” kata Dharma.
Darma datang ke Yosomulyo pada 2017 sebagai pendatang. Ia melihat satu hal penting: bukan kekayaan alam yang absen, melainkan ruang bagi manusia untuk bertumbuh. Dari situlah gagasan membangun pasar lahir, bukan sekadar pasar ekonomi, tetapi pasar yang menumbuhkan kebersamaan.
Gagasan itu tak langsung diterima. Sejumlah ibu-ibu warga setempat sempat menolak karena pesimis. Namun Darma tak menyerah. Ia memilih jalan musyawarah, berdiskusi dengan tokoh-tokoh kampung. Dengan tekad kuat, ia bahkan meminjam uang kas musala untuk dijadikan modal awal berdagang bagi warga.
Bersama Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Lampung dan masyarakat setempat, Darma menyusun rencana peluncuran pasar. Payungi pun mulai berjalan, dengan satu kesepakatan sederhana: pasar hanya digelar setiap Minggu pagi.
Namun Payungi bukan hanya tentang hari Minggu. Di balik ramainya pasar, ada proses panjang yang dijalani dengan disiplin dan kebersamaan. Setiap Kamis malam, para pedagang yang notabene adalah warga sekitar, wajib mengikuti pesantren wirausaha.
Di sana ada kegiatan keagamaan, laporan omzet, dan evaluasi kegiatan. Lalu setiap Sabtu sore, seluruh warga bergotong royong membersihkan lingkungan. Barulah Minggu pagi Payungi digelar.
Proses itu dilakukan berulang-ulang, dirawat, dan dinikmati bersama.
Namun Darma merasa belum cukup. Dari kegelisahan itu, lahirlah Payungi University, sebuah ruang pendidikan non formal untuk mendorong lahirnya aktivis-aktivis penggerak.
“Tapi saya masih kurang puas. Lalu saya membuat Payungi University. Ini untuk mendorong tumbuhnya aktivis penggerak,” ujarnya.
Payungi University fokus pada penguatan sumber daya manusia. Di dalamnya terdapat berbagai program: Sekolah Desa, Sekolah Media, Sekolah Pariwisata, Sekolah Organik, Sekolah Perempuan, Sekolah Bahasa Inggris, hingga Pusat Studi Desa. Setiap Sabtu dan Minggu, tersedia pula booth camp urban farming yang terbuka untuk masyarakat.
Dua tahun setelah Payungi berdiri, almarhumah istri Dharma, Hifni Septina Carolina, turut menanamkan fondasi penting. Berlatar belakang santri dan dosen biologi, Hifni mendirikan Women and Environment Studies (WES) Payungi. WES menjadi pusat studi yang fokus pada kajian perempuan, gender, dan lingkungan. Melalui WES, perempuan difasilitasi untuk saling mendukung, berdaya bersama, dan membangun gerakan yang berkelanjutan.
Perjalanan Payungi terus bertambah makna. Pada 2021, Sekolah Seni Payungi didirikan. Sekolah ini tidak bertujuan mencetak seniman, melainkan menjadikan seni sebagai jalan perjuangan, sebagai ekspresi sekaligus terapi. Di dalamnya ada tarian lokal bernama Majongan, musik, dan seni rupa. Dari sinilah kemandirian Payungi semakin kuat.
Tahun 2024 menjadi babak baru. Payungi kedatangan teman-teman disabilitas dari Persatuan Komunitas Disabilitas Lampung (PKDL). Mereka belajar ecoprint, menjadi barista kopi, bermusik, menari, dan beragam keterampilan lainnya.
“Kami ingin kampung ini menjadi kampung yang inklusif. Tidak ada yang tertinggal. Menjadi rumah bagi banyak orang,” kata Dharma.
Dalam menjalankan seluruh proses ini, Darma memegang filosofi “ambulan”. Sebuah keyakinan bahwa ketika seseorang benar-benar melayani orang lain, tak ada yang bisa menghalangi langkahnya, bahkan lampu merah sekalipun. Kehadiran komunitas disabilitas justru memperkuat penerapan filosofi tersebut di Payungi.
Soal pengelolaan keuangan, Payungi menjunjung tinggi asas transparansi. Setiap pedagang memiliki laporan mingguan. Ada kas kolektif dengan total perputaran dana sekitar Rp400 juta per Minggu. Dana itu dikelola melalui berbagai pos: kas sosial, kas pembangunan, kas sapi, kas kurban, kas seragam, dan kas kopi. Total terdapat enam bendahara yang mengelola masing-masing kas.
Setiap peringatan ulang tahun Payungi, dilakukan penyembelihan sapi yang dagingnya dikonsumsi bersama dalam rangkaian kegiatan HUT.
Kini, Pasar Payungi tak lagi sekadar deretan lapak kuliner dan pernak-pernik. Berbagai wahana bermain dan belajar hadir: memancing, panahan, flying fox, kampung kelinci, perpustakaan, live music, hingga pertunjukan seni. Pasar ini hidup, bernapas, dan terus bergerak. Pengunjungnya pun datang dari berbagai daerah, tak hanya dari Kota Metro.
Payungi menggerakkan roda ekonomi warga. Selain menjadi pedagang, warga juga bekerja sebagai tukang parkir, bahkan banyak rumah difungsikan sebagai penginapan sederhana.
Sejumlah pejabat kementerian pernah menyambangi kampung kecil ini sebagai bentuk apresiasi karena mampu mengembangkan konsep kemandirian ekonomi, kearifan budaya dan kesadaran lingkungan.
Bagi Dharma, Payungi adalah gambaran nyata Indonesia Emas 2045. Dengan melibatkan sekitar 200 orang masyarakat, Payungi berjalan tanpa korupsi, menjunjung transparansi, menjaga lingkungan, dan membuka ruang belajar tanpa henti.
“Mereka semua tidak berhenti belajar. Orang yang kita gerakkan, kelak akan jadi penggerak,” tutupnya.
Payungi merupakan bagian dari penggerak kawasan Gaharu yang diinisiasi Ashoka Indonesia. Ashoka melihat bahwa dunia saat ini membutuhkan semua orang untuk menjadi penggerak perubahan. Ashoka berkolaborasi untuk mengubah institusi dan budaya di seluruh dunia, sehingga mereka mendukung perubahan untuk kebaikan seluruh umat manusia dan lingkungan.(*)
Laporan Imelda Astari.







Komentar