VoxLampung.com, Bandar Lampung – Menjadi santri pondok pesantren yatim piatu, bukanlah sebuah halangan untuk menjelajah dunia, dan mengukir prestasi.
Adalah Ardi Oksandi (14) seorang Santri Pondok Pesantren Yatim Piatu Riyadhus Sholihin Bandar Lampung. Dia bakal mewakili Indonesia dalam program internasional ke Turki, Singapura, Mesir, dan Korea Selatan.
Bagi Ardi Oksandi, menjadi santri di Pondok Pesantren Yatim Piatu Riyadhus Sholihin justru membuka jalan baginya, untuk mengubah hidup.
Berkat Ponpes asuhan KH Ismail Zulkarnain itu, Ardi bisa bersekolah di Sekolah Kebangsaan Lampung Selatan, salah satu sekolah bergengsi di Lampung, yang didirikan oleh Mantan Ketua MPR RI Zulkifli Hasan.
Perlahan tapi pasti, Ardi mulai menjajaki dunianya, meniti satu persatu impiannya.
Di usianya yang baru 14 tahun, Ardi sudah berpikir jauh ke depan. Dia selalu mengambil jalan yang di luar kebiasaan (out of the box). Bahkan, dia bercita-cita ingin menjadi orang yang berpengaruh di dunia.
Ardi ditinggal ibunda berpulang saat masih duduk di kelas 3 Sekolah Dasar. Sejak itu, Ardi dan kedua adiknya diasuh oleh ayah, nenek, paman, dan bibinya di Desa Marga Punduh, Pesawaran. Memasuki jenjang Sekolah Menengah Pertama, Ardi juga masuk ke Ponpes Riyadhus Sholihin Bandar Lampung.
Baca juga: Yuk Jadikan Media Sosial Lebih Berfaedah, Gabung Jadi Relawan Filantropi Indonesia
Di sana, ia menemukan keluarga baru. Ia dididik menjadi pribadi yang disiplin, rajin ibadah, santun, berani, dan berilmu. Biaya hidup dan pendidikannya ditanggung penuh oleh Ponpes.
Saban hari, Ardi bangun sebelum waktu subuh. Bersiap menjalankan ibadah salat subuh, dilanjutkan berbagai kegiatan rutin Ponpes yaitu belajar, menghapal Alquran, sekolah, berorganisasi, mengasah bakat diri, dan sebagainya.

Setelah lulus dari SMP Utama II Bandar Lampung, Ardi diberi kesempatan oleh Abah Ismail, sapaan akrab KH Ismail Zulkarnain, untuk memilih sekolahnya sendiri. Kebanyakan santri Ponpes Riyadhus Sholihin bersekolah di MAN II Bandar Lampung. Namun Ardi tak ingin pergaulannya hanya sebatas itu. Ia ingin berbeda dari yang lain.
Remaja kelahiran Bandar Lampung, 19 Oktober 2004 itu kemudian memilih Sekolah Kebangsaan Lampung Selatan. Menurutnya, sekolah itu bisa menjadi jalannya mencapai impian, selain belajar di Pondok.
Gayung bersambut, keinginan Ardi sekolah di sana disetujui Abah Ismail. Meskipun biaya sekolah cukup mahal, namun Ponpes siap menanggung semua biaya pendidikan dan biaya sehari-hari Ardi selama berada di asrama sekolah.
“Saya berpikir bahwa apa yang sudah Abah beri ke saya itu harus ada timbal baliknya. Satu-satunya cara adalah saya harus menunjukkan prestasi. Makanya saya tidak boleh malas, saya harus selalu mencari tantangan baru,” Kata Ardi kepada VoxLampung.com di Ponpes Riyadhus Sholihin, Minggu pagi, 14/2/2021.
Saat ini, Ardi masih duduk di kelas X IPA 1 SMA Kebangsaan Lampung Selatan. Selama bersekolah di sana, Ardi mulai menunjukkan taringnya. Sejumlah prestasi ia terima sepanjang 2020.
Ardi menyabet juara 1 lomba Da’i Tingkat Provinsi, pada 10 Agustus 2020, dalam Pergelaran Festival Islamic UIN Raden Intan. Kemudian, dia juga meraih Juara 2 lomba Da’i tingkat nasional, pada 28 Agustus 2020, dalam Pergelaran Festival Dakwah (Lafesda) yang diadakan IAIN Salatiga.
Ardi juga berhasil meraih Juara 3 lomba Da’i Tingkat Asia Tenggara, pada 18 September 2020, dalam ajang Asean Young Lecturer Competion, oleh Leadher id. Tak cukup sampai di situ, ia juga menyabet Juara 1 lomba pidato bahasa Indonesia tingkat nasional.

Tak hanya jago dakwah, Ardi juga rupanya menekuni dunia sastra. Dia bahkan meraih Juara 2 menulis cerpen inspirasi tingkat nasional, pada 17 Agustus 2020, dalam ajang lomba menulis cerpen inspirasi, yang dihelat Catatan Pena id.
Ardi pun berhasil masuk 100 besar menulis cerpen Asia, pada 20 September 2020, dalam ajang Asean Short Story Writing Competion, yang diadakan Eduroom id.
“Semua lomba itu diadakan secara virtual karena berlangsung di masa Pandemi Covid-19,” Kata Ardi.
Tak puas sampai di situ, Ardi lantas mencari informasi ihwal program-program internasional lainnya. Hal itu ia lakukan agar ada nilai tambah, selama masa belajar daring. Langkah itulah yang menjadi titik awal ia bakal menjelajah ke empat negara.
Awalnya, ia mencari informasi terkait program ke Turki. Ia mendaftar dalam program Istanbul Youth Summit (IYS) yang diinisiasi Youth Break the Boundaries (YBB) Foundation. Ajang yang cukup bergengsi bagi kaum muda di seluruh dunia, yang bertujuan mencari pemimpin masa depan yang berani mengeluarkan pendapat dan ide mereka melalui diskusi dan pemecahan masalah.
Ardi memberanikan diri mendaftar dan mengikuti serangkaian tes seleksi. Melalui esai nya yang mengangkat tema Krisis Ekonomi di Masa Pandemi, Ardi terpilih bersama tujuh pemuda lainnya dari Lampung untuk berangkat ke Turki.
“Dari situ saya mulai percaya diri, dan mencari informasi lagi untuk program-program ke luar negeri,” Ungkap Ardi.
Selanjutnya, ia mendapat informasi program Youth As Leadership (YAL) di Singapura. Ardi lantas mendaftar dan mengikuti serangkaian tes.
“Yang ini seleksinya memang lebih ketat. Ada wawancara akademik dan non akademik, dan tes secara nasional, yang diikuti sekitar 4.500 peserta. Seluruh peserta kumpul di Makasar, untuk dilihat kepribadiannya. Akhirnya saya dinyatakan lolos peringkat 2 terbaik,” Jelas Ardi.

Program YAL sendiri adalah beasiswa yang di selenggarakan oleh lembaga Anhar Foundation, bagi pemuda-pemudi Indonesia untuk melatih dan membangun jiwa para pemimpin muda Indonesia.
Setelah lolos dua program, Ardi semakin giat mencari informasi. Ia mendapat info terkait program International Youth Leader (IYL) ke Mesir. Setelah ikut tes, Ardi juga dinyatakan lolos.
Lantas, Ardi kembali mendapatkan informasi program ke Korea Selatan, yaitu South Korea Friendship Program 2021.
“Awalnya belum berani ikut, karena di sana negara mayoritas non muslim. Tapi berkat izin dari Abah Ismail, saya ikuti seleksinya. Pertama seleksi berkas, tes akademik dan non akademik, lalu seleksi wawancara nasional melalui zoom, akhirnya saya dinyatakan lolos,” Ungkapnya.
Dengan demikian, Ardi bakal menjelajah empat negara yang dijadwalkan akan berangkat pada Maret 2021 mendatang.
“InsyaAllah Maret berangkat. Jadi nanti secara estafet, mulai dari Turki, Singapura, lanjut ke Mesir dan Korea Selatan,” Paparnya.
Berbagai persiapan telah dilakukan Ardi. Dia mempelajari materi-materi debat dan esai yang akan diperlombakan. Dia juga sudah mengikuti pertemuan rutin dengan peserta lainnya se-Indonesia secara virtual.

“Alhamdulillah persiapan sudah matang. Saya optimis banget, karena kami sudah persiapkan dari jauh hari, dan masih ada waktu satu bulan ke depan untuk semakin mematangkan persiapan,” Bebernya.
Ardi bilang, rencana keberangkatannya ini didukung penuh oleh Abah Ismail dan seluruh guru dan santri Ponpes.
“Alhamdulillah dukungannya luar biasa, baik moral maupun moril. Apalagi Abah Ismail, beliau membuat saya semakin semangat belajar,” Kata dia.
Ardi mengaku sangat mencintai Ponpes Riyadhus Sholihin. Ia bahkan menganggap Ponpes adalah rumahnya sendiri. Selama menempuh pendidikan, Ardi memang jarang pulang ke rumah keluarganya di Pesawaran.

“Selama masa belajar daring ini saya tidak di asrama sekolah, tapi saya memang pulang ke pondok saja. Pulang ke rumah saat lebaran atau ada acara keluarga saja. Saya mau fokus kejar cita-cita dulu. Nanti kalau saya sudah sukses, saya akan kembali ke rumah, dan bahagiakan keluarga, ” Katanya.
Ardi memang sejak kecil berkeinginan mondok. Bahkan sebelum sang ibu meninggal dunia, Ardi sudah menyampaikan keinginannya ini dan sangat didukung ibunya.
“Sebelum mondok di sini, saya sempat mondok di daerah Gunung Terang, Bandar Lampung, namun tidak sanggup dengan biayanya. Akhirnya saya keluar. Dan Alhamdulillah dapat info Ponpes ini, saya malah tidak bayar sama sekali, dan justru dibiayai sekolah dan kehidupan sehari-harinya,” Imbuh dia.
Dukungan dari pihak Ponpes membuat Ardi semakin percaya bahwa dirinya bisa menggapai cita-citanya.
“Saya ingin jadi orang berpengaruh di dunia. Sehingga saya bisa menuangkan pikiran-pikiran saya di kancah internasional. Kalau kita punya nama, setidaknya kita bisa dengan mudah menebarkan hal-hal baik di masyarakat,” Tutupnya.
Sementara itu, Abah Ismail, pengasuh Ponpes Riyadhus Sholihin mengatakan, pihaknya sangat mendukung langkah Ardi dan semua santri yang ingin berprestasi. Menurutnya, hal itu sejalan dengan konsep Ponpes yang ingin menjadikan anak yatim piatu lebih dipandang dan membanggakan.
“Saya ingin anak yatim piatu itu bisa berprestasi, bisa dipandang keberadaannya. Anak yatim itu harus dibuat bahagia, buat dia sejahtera, dan bisa menggapai cita-citanya,” Kata Abah Ismail.
Untuk itu, ia mendukung secara penuh terkait keberangkatan Ardi ke empat negara pada Maret mendatang. Bahkan, pihaknya juga siap menanggung 50 persen biaya keberangkatan santrinya itu, lantaran tidak ditanggung sepenuhnya oleh penyelenggara.
“Kami dukung penuh secara finansial dan kebutuhan lain-lainnya. Jadi bukan hanya Ardi, semua santri kita yang ingin meraih prestasi kami dukung. Karena kami tidak mau menjatuhkan mental anak-anak kami,” Imbuhnya. (Imelda)







Komentar