oleh

Hanung Bramantyo Ungkap Alasan Pilih Genre Horor untuk Film Lobang Buaya

VoxLampung.com, Bandar Lampung — Sutradara Hanung Bramantyo mengungkap alasan memilih genre horor untuk film terbarunya, Lobang Buaya. Menurut Hanung, genre tersebut dipilih sebagai cara untuk mengajak generasi muda kembali mengingat tragedi politik dan kekerasan yang terjadi setelah peristiwa 30 September 1965.

Hal itu disampaikan Hanung saat menghadiri special screening film Lobang Buaya yang digelar Adhya Pictures dan Dapur Film di Bioskop XXI Mal Boemi Kedaton, Bandar Lampung, Sabtu, 26/9/2026. Acara tersebut turut dihadiri aktris Anya Zen yang memerankan karakter Ningsih.

Hanung mengatakan, film tersebut tidak mengangkat peristiwa penculikan dan pembunuhan tujuh perwira pada 30 September 1965, tetapi mengajak penonton melihat rangkaian peristiwa yang terjadi sebelumnya.

“September 50 tahun yang lalu, lebih dari 50 tahun yang lalu, itu terjadi sebuah peristiwa 7 perwira masuk, dibunuh secara keji, dieksekusi oleh sekelompok orang yang menamakan dirinya Gerakan 30 September. Dan dimasukkan ke dalam lubang buaya,” kata Hanung kepada awak media.

Menurut dia, peristiwa tersebut bukanlah akhir dari rangkaian tragedi. Hanung menyinggung pembunuhan massal terhadap orang-orang yang dituduh atau dianggap terkait dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) di sejumlah daerah di Indonesia.

“Karena itu makanya saya merasa bahwa saya harus membuat, mengingatkan kembali,” ujarnya.

Hanung mengatakan, selama bertahun-tahun narasi mengenai peristiwa 1965 banyak dikenal masyarakat melalui satu film yang menjadi rujukan utama pada masa Orde Baru. Ia menilai, minimnya perspektif lain membuat generasi muda perlu mendapatkan ruang untuk melihat sejarah tersebut dari sudut pandang berbeda.

Ia pun mengaku terdorong membuat film tersebut karena melihat anak-anak generasi sekarang semakin jauh dari pembahasan mengenai peristiwa 1965.

“Sebagai seorang yang lahir di tanggal 1 Oktober, saya ngerasa bahwa situasinya kok anak-anak saya kok lupa dengan peristiwa itu,” ungkapnya.

Memilih Horor untuk Mengingatkan Anak Muda

Hanung sengaja menggunakan judul Lobang Buaya secara langsung. Menurut dia, pilihan tersebut diharapkan dapat menarik perhatian penonton muda, khususnya mereka yang menyukai film horor.

“Nah, karena itu makanya saya membuat film ini. Saya straight aja judulnya langsung Lobang Buaya, ya kan, biar para pecinta horor, anak muda milenial kan mencintai horor, agar para pecinta film horor itu menonton film ini,” ujarnya.

Ia menegaskan, pemilihan genre horor bukan dimaksudkan untuk merendahkan korban ataupun tragedi 1965.

“Pilihan kenapa genre horor, itu bukan semata-mata saya sedang mentertawakan atau merendahkan peristiwa 30 September, tidak sama sekali. Justru saya sedang berusaha untuk berempati, bersimpatik dengan peristiwa itu dengan cara membuat sebuah pengingat, membuat sebuah alarm,” kata Hanung.

Menurut dia, genre horor juga relevan dengan cara peristiwa tersebut selama ini hadir dalam ingatan publik, yakni melalui narasi yang menimbulkan ketakutan terhadap komunisme.

“Genre horor itu sama mulianya dengan genre dokumenter, sama mulianya dengan genre drama, romance, komedi,” katanya.

Hanung mengatakan, film tersebut ingin mengajak penonton melihat peristiwa 1965 tidak hanya sebagai sebuah tragedi pada malam 30 September, tetapi juga menelusuri kondisi sosial dan politik yang terjadi sebelumnya.

“Yang harus dicermati di dalam film ini adalah bukan peristiwa 30 Septembernya, tetapi satu tahun sebelumnya. Dan ini juga saya sebagai mengingatkan. Jangan terpaku pada peristiwa 30 September,” ujarnya.

Menyoroti Kondisi Sosial dan Politik

Dalam pemaparannya, Hanung menggambarkan situasi Indonesia menjelang 1965 sebagai kondisi penuh ketegangan politik dan konflik sosial.

Ia menggunakan metafora “Ibu Pertiwi sedang hamil tua” untuk menggambarkan kondisi Indonesia yang menurutnya tengah berada dalam situasi penuh perebutan pengaruh antara berbagai kelompok.

Hanung juga menyoroti persoalan yang dihadapi petani dan rakyat miskin di desa. Ia menyebut istilah “Tujuh Setan Desa”, yang dalam penuturannya merujuk pada sejumlah kelompok yang dianggap melakukan penghisapan terhadap petani.

“Jadi kalau teman-teman semuanya itu melihat pemerintah sekarang itu menuduh orang-orang para demonstrasi buruh, kemudian demonstrasi petani, itu disusupi sama PKI, pernah mendengar seperti itu kan?” kata Hanung.

Ia kemudian mempertanyakan narasi yang selama ini melekat pada istilah G30S/PKI.

“Nah, pertanyaannya adalah yang dituju 30S itu siapa? Tujuh Setan Desa atau PKI-nya? PKI-nya toh? Anda aja menyebut G30S/PKI. Bukan G30S/Tujuh Setan Desa,” ujarnya.

Hanung mengaitkan persoalan tersebut dengan kondisi sosial saat ini. Ia menyebut sejumlah persoalan seperti korporasi, pejabat dan pembalakan hutan sebagai bagian dari isu yang menurutnya masih relevan untuk dibicarakan.

“PKI-nya udah enggak ada, Tujuh Setan Desanya masih bergentayangan sampai sekarang,” katanya.

Ia menegaskan, film tersebut dibuat sebagai pengingat bahwa pembahasan mengenai tragedi 1965 menurut perspektifnya belum selesai.

“30 September itu belum selesai. 30 September itu baru awal. 30 September itu nanti akan ada kelanjutannya. Itu. Nah, saya sedang membuat film yang mengingatkan tentang peristiwa itu,” ujar Hanung.

Riset Film Dimulai Sejak Empat Tahun Lalu

Hanung mengatakan, proses produksi  film Lobang Buaya telah berlangsung sekitar empat tahun. Penulisan skenario dimulai sekitar dua tahun sebelum proses produksi yang dilakukan pada 2024.

“Kita pembuatan filmnya dua tahun yang lalu, ya, 2024. Kita menulis skenarionya dari dua tahun sebelumnya, jadi film ini sebenarnya diinisiasi udah empat tahun yang lalu,” katanya.

Hanung juga mengatakan ketertarikannya terhadap sejarah 1965 telah tumbuh sejak masih duduk di bangku SMA.

“Itu proses risetnya sejak saya SMA udah saya… udah baca-baca buku,” ujarnya.

Dalam film tersebut, Hanung juga memasukkan unsur agama dan praktik spiritual sebagai bagian dari cerita. Namun, ia menegaskan bahwa bagian tersebut tidak dimaksudkan sebagai penggambaran fakta sejarah secara langsung.

Hanung menyebut Ghayat al-Hakim sebagai salah satu elemen yang digunakan dalam konstruksi cerita. Ia mengakui bahan yang diperolehnya mengenai kitab tersebut sangat terbatas.

“Saya hanya menemukan satu lembar, bukan hanya satu lembar, ada sekitar dua tiga lembar saja dari kumpulan kitab Ghayat al-Hakim. Dan itu kan kayak semacam sobekan, dan itu kan sebenarnya tidak cukup akurat kalau kemudian kita judge, ‘Oh, Ghayat al-Hakim tuh tentang ini, tentang ini, tentang ini.'”

Karena keterbatasan tersebut, Hanung mengatakan dirinya tidak menjadikan unsur tersebut sebagai fakta sejarah.

“Jadi kami akhirnya kemudian tidak berani mengungkap ini sebagai sebuah fakta sejarah. Makanya kita menganggapnya sebagai sebuah karya fiksi saja,” katanya.

Ia menjelaskan, unsur tersebut kemudian dikembangkan berdasarkan asumsi dan konstruksi fiksi mengenai kepercayaan terhadap jin, rajah, serta mantra.

Dibuat sebagai Fiksi, Bukan Klaim Sejarah

Hanung menegaskan, Lobang Buaya merupakan film fiksi. Karena itu, sejumlah unsur dalam cerita tidak dimaksudkan sebagai dokumentasi sejarah yang sepenuhnya faktual.

Hal tersebut juga menjadi dasar Hanung ketika menggambarkan praktik dukun, mantra, hingga sosok Ifrit dalam film.

“Tentang mantranya apa segala macam, itu saya tidak menemukan riset yang cukup mendalam, karena itu makanya yang saya ucapkan hanya ‘Ya Ifrit’, ya kan, karena dia menghamba kepada Ifrit,” ujarnya.

Selain isu politik dan sejarah, Hanung mengatakan film tersebut juga menjadi ruang untuk menyampaikan kritik terhadap persoalan sosial dan keberagamaan, termasuk ketika agama dan identitas digunakan dalam pertarungan kepentingan.

Ia menyebut penggunaan istilah dan tokoh dalam film sebagai bagian dari cara menyindir kondisi masa lalu sekaligus mengaitkannya dengan persoalan yang menurutnya masih ditemukan saat ini.

Proses Produksi dan Tantangan Akting

Sementara itu, aktris Anya Zein yang turut terlibat dalam film tersebut mengatakan Lobang Buaya sebenarnya merupakan film ketiganya yang menjalani proses syuting, tetapi menjadi film ketujuh yang dirilis.

Anya juga mengaku mendapat pengalaman berharga ketika beradu akting dengan aktor senior Mathias Muchus.

“Jadi aku bangga dan Om Muchus itu sangat membuat aku tenang. Walaupun scene-scene-nya itu berat dan aku awalnya deg-degan, takut gitu ya, gimana ya caranya bisa mencapai emosi yang segitunya,” kata Yasamin.

Menurut dia, Mathias Muchus banyak membantu dalam membangun rasa percaya diri selama menjalani adegan-adegan emosional.

“Om Muchus selalu bilang kalau kita enggak perlu keluar dari skrip, kita lihat aja di skripnya ada apa, kalau motivasi kita sudah jelas, kita tinggal mainkan aja nanti di lokasi,” ujarnya.

Ketika ditanya mengenai target penonton, Hanung tidak menyebut angka secara pasti. Ia mengatakan keinginannya adalah agar film tersebut dapat ditonton sebanyak mungkin orang.

“Target sebanyak-banyaknya,” ujar Yasamin.

Film Lobang Buaya dijadwalkan tayang pada 1 Oktober secara serentak di bioskop Indonesia.(*)

Komentar