VoxLampung.com, Bandar Lampung — Di tengah maraknya penggunaan gawai yang membuat anak lebih banyak menjadi penonton pasif, dongeng dan teater didorong sebagai ruang untuk menghidupkan kembali imajinasi sekaligus mengasah kemampuan bahasa, komunikasi, dan ekspresi anak.
Gagasan itu menjadi salah satu fokus Kemah Cerita 2026 yang digelar Ashoka bersama Lampung HUB pada 25–27 September 2026 di Bandar Lampung.
Kegiatan ini diikuti 25 penggerak komunitas dari berbagai wilayah di Provinsi Lampung dan diinisiasi oleh Komunitas Dongeng Dakocan, YSC Indonesia, PKBI Lampung, serta Fullcolour Teater.
Kemah Cerita 2026 dirancang sebagai ruang belajar bersama untuk mengeksplorasi nilai strategis dongeng dan teater sebagai medium perubahan sosial, khususnya dalam membangun imajinasi, nilai kepedulian, dan karakter anak sejak dini.
Salah satu sesi kunci dalam kegiatan tersebut adalah “Panggung Tak Kasat Mata” yang dibawakan Iin Zakaria, Pendiri Komunitas Dongeng Dakocan.
Dalam sesi ini, pendongeng menyediakan kata dan suasana, sementara imajinasi anak bekerja untuk menghidupkan cerita. Pendekatan tersebut menempatkan anak bukan sekadar sebagai penonton, tetapi sebagai “sutradara” atas pikirannya sendiri.
Dongeng dan seni teater juga dipandang dapat mengasah keterampilan yang penting bagi masa depan, mulai dari bahasa, imajinasi, komunikasi hingga ekspresi.
“Setiap anak sebenarnya lahir sebagai seniman. Ia tidak butuh disuapi gambar, ia hanya butuh diberi ruang agar imajinasinya bekerja membangun dunianya,” ujar Iin Zakaria.
Tak hanya menjadi hiburan (entertainment), seni bertutur dan pertunjukan juga digunakan sebagai medium membangun pemahaman (understanding).
Melalui cerita, anak-anak diajak lebih peka terhadap persoalan di sekitarnya sekaligus memahami bahwa tumbuh di lingkungan yang sehat dan aman merupakan hak dasar setiap anak.
Pendekatan tersebut juga diarahkan untuk mendorong gerakan perubahan berkelanjutan melalui semangat Everyone A Changemaker. Kesadaran sosial yang dibangun sejak dini diharapkan dapat mendorong anak-anak dan pemuda tumbuh menjadi agen perubahan (changemakers) di lingkungannya.
Kemah Cerita 2026 tidak berhenti pada pembekalan teori dan teknik bercerita. Sebanyak 25 penggerak komunitas yang mengikuti kegiatan ini dipersiapkan untuk membawa dampak langsung ke masyarakat melalui dua tahapan aksi.
Pada hari ketiga, peserta akan turun langsung mempraktikkan karya dongeng dan pertunjukan teater interaktif kepada komunitas anak-anak pesisir Pesawahan dan anak-anak Kampung Enggal.
Setelah pelatihan, para penggerak komunitas juga akan membawa materi dan metode yang diperoleh untuk direplikasi di daerah asal masing-masing di seluruh Lampung.
Dengan pola tersebut, kegiatan diharapkan tidak berhenti sebagai pelatihan, tetapi dapat berkembang menjadi gerakan yang dampaknya terus meluas dan berkelanjutan melalui komunitas di berbagai wilayah Lampung.
Hasta dari Ashoka Indonesia mengatakan, keterlibatan para penggerak komunitas dalam Kemah Cerita menjadi bagian dari upaya menumbuhkan keluarga pembaharu di Lampung.
“Melalui Kemah Cerita dan keterlibatan para penggerak komunitas ini, kami ingin menumbuhkan Keluarga Pembaharu di Lampung yang dimulai dari langkah sederhana seperti mendongeng bersama anak.”
Ashoka Indonesia merupakan bagian dari jaringan global pionir kewirausahaan sosial yang telah berdiri sejak 1981. Ashoka mendorong gerakan Everyone A Changemaker agar setiap orang mampu membawa perubahan positif.
Sementara Lampung Hub merupakan wadah ecosystem builder yang mempertemukan dan memperkuat kolaborasi antarkomunitas di Lampung.
Kegiatan ini didukung oleh Komunitas Dongeng Dakocan, YSC Indonesia, PKBI Lampung, dan Fullcolour Teater.(*)







Komentar