Penulis: Mezan el-Khaeri Kesuma, Akademisi Fakultas Sains dan Teknologi – UIN Raden Intan Lampung
Pernahkah kita jujur bertanya kepada diri sendiri di penghujung hari: apakah kita benar-benar sedang belajar dan berjuang, atau sekadar sibuk terlihat produktif dan peduli di depan algoritma? Setiap pagi, sebelum mata genap terbuka, jempol kita secara otomatis sudah meluncur di atas layar kaca, memburu linimasa, memastikan tidak ada satu pun percakapan atau tren yang terlewat. Kita merasa cemas luar biasa jika tertinggal kabar satu jam saja, seolah eksistensi kita di dunia akan runtuh seketika. Namun, di balik kepanikan digital itu, isi kepala kita kerap kali hampa; kita tahu segalanya secara sekilas dari sepenggal video singkat, tetapi nyaris tidak memahami apa pun secara mendalam.
Kecemasan akan ketertinggalan (Fear of Missing Out atau FOMO) ini telah menyusup jauh melampaui urusan gaya hidup atau tren nongkrong akhir pekan. Bagi mahasiswa dan pelajar Generasi Z, rasa cemas ini bermutasi menjadi hantu psikologis yang mendikte ruang belajar dan panggung pergerakan sosial. Kita hidup di tengah ekosistem serbadigital yang terus-menerus membisikkan dogma beracun: bahwa keterlambatan satu detik saja adalah sebuah kegagalan yang fatal. Rasa panik inilah yang akhirnya menjebak banyak anak muda ke dalam kepura-puraan intelektual, merasa cerdas hanya karena mahir mengetik prompt di mesin pintar, dan merasa revolusioner hanya karena rajin membagikan ulang tagar protes di media sosial.
Di ruang-ruang kuliah, ketakutan ini tampak begitu nyata ketika mahasiswa berada dalam posisi terjepit di antara dua kutub yang kontradiktif. Di satu sisi, mereka menyaksikan kawan-kawan sebaya menyelesaikan tugas, merapikan makalah, bahkan menyusun skripsi dengan kecepatan kilat memanfaatkan kecerdasan buatan (generative AI). Di sisi lain, kampus dan institusi pendidikan kerap kali masih gagap, gamang, dan bersikap represif terhadap integrasi teknologi tersebut. Alih-alih mendapatkan bimbingan etis yang matang, mahasiswa dibiarkan bertarung sendirian dalam rimba kecerdasan artifisial, di mana tolok ukur keberhasilan sering kali disederhanakan pada siapa yang paling cepat mengumpulkan tugas.
Situasi terjepit ini memicu kepanikan akademik yang akut. Didorong oleh rasa takut tertinggal nilai dan reputasi dari kawan seangkatannya, mahasiswa tergesa-gesa mengadopsi setiap perangkat lunak AI yang sedang viral di linimasa, tanpa sempat memahami dasar epistemologis dari ilmu yang sedang ditekuni. Kita menipu diri sendiri dengan mengira telah menguasai sebuah materi, padahal yang sebenarnya terjadi hanyalah proses pemindahan teks dari peladen komputer ke lembar dokumen tugas. Ketakutan konstan ini akhirnya melahirkan ketergantungan yang tidak sehat pada AI generatif (GenAI dependency), yang sesungguhnya berakar dari stres akademik yang menumpuk serta rasa tidak aman (insecurity) yang mendalam terhadap kapasitas intelektual diri sendiri.
Kenyataan pahit ini tercermin secara gamblang dalam temuan ilmiah. Penelitian kuantitatif korelasional oleh Sipayung dkk. (2026) membuktikan adanya korelasi positif yang sangat kuat dan signifikan (r = 0,730; p = 0,000) antara tingkat FOMO di media sosial dengan efisiensi pengelolaan waktu belajar mahasiswa. Angka korelasi yang tinggi ini menyentil ilusi efisiensi yang selama ini dibanggakan: semakin tinggi rasa takut tertinggal yang diderita seorang mahasiswa, justru semakin hancur kemampuannya dalam memusatkan perhatian pada tugas akademik. Mahasiswa merasa sedang belajar keras berjam-jam di depan laptop, padahal kenyataannya energi mental mereka habis tergerus oleh kecemasan memeriksa linimasa ponsel pintar yang tak pernah berhenti berdenting.
Ketika mahasiswa berupaya belajar menggunakan media interaktif di gawai mereka. Dorongan FOMO secara terus-menerus memaksa pikiran untuk melakukan pergantian tugas kilat (rapid task-switching), berpindah bolak-balik antara materi perkuliahan dan aplikasi media sosial hanya untuk mengecek tren yang sedang berlangsung. Siklus lompatan ini menyisakan apa yang dalam psikologi kognitif disebut sebagai sisa perhatian (attention residue). Otak manusia pada hakikatnya tidak dirancang untuk menanggung lompatan konteks secara nonstop. Akibatnya, pikiran menjadi terfragmentasi, waktu belajar terbuang percuma tanpa hasil nyata, dan pemahaman terhadap konsep keilmuan yang mendalam pun menjadi sangat dangkal. Kita mengklaim diri sebagai generasi multitasking yang lincah, padahal yang sesungguhnya terjadi adalah ketidakmampuan kita untuk duduk tenang dan fokus membaca satu naskah utuh selama tiga puluh menit tanpa menyentuh layar ponsel.
Fragmentasi fokus ini pada gilirannya menumpulkan pisau analisis yang menjadi mahkota seorang terpelajar. Ketergantungan kognitif pada AI generatif secara perlahan mengikis kemampuan berpikir kritis (critical thinking) serta daya nalar mandiri. Karena panik diburu tenggat waktu dan takut tertinggal dari ritme instan lingkungan sekitarnya, banyak mahasiswa terbiasa menelan mentah-mentah jawaban yang disodorkan oleh mesin pencari cerdas tanpa melakukan verifikasi ilmiah. Generasi yang katanya paling kritis ini mendadak tunduk dan patuh pada algoritma, menerima begitu saja ringkasan mesin tanpa pernah lagi menguji kebenaran datanya di tumpukan buku perpustakaan.
Fenomena ketergesaan dan rasa takut terasing ini ternyata tidak berhenti di bilik-bilik kelas, melainkan merembet langsung ke panggung pergerakan dan aktivisme mahasiswa. Di era digital, arus informasi yang membanjiri layar gawai memang berhasil memperluas akses anak muda terhadap berbagai persoalan publik yang mendesak, mulai dari pelanggaran hak asasi manusia, isu keadilan lingkungan, kesetaraan gender, hingga problem tata kelola pemerintahan. Akan tetapi, di balik gelombang kepedulian tersebut, motif psikologis yang bermain seringkali bukanlah panggilan moral yang murni, melainkan dorongan self-inclusion kebutuhan mendesak agar tetap dianggap relevan, melek informasi (update), dan tidak teralienasi oleh lingkaran pergaulan sebayanya.
Karakteristik mahasiswa yang terhubung secara intim dengan gawai dan media sosial memang menghadirkan berkah tersendiri bagi penyebaran pesan advokasi, tagar gerakan, dan seruan aksi secara instan ke jejaring masyarakat yang luas. Ketika suatu ketidakadilan sosial viral di internet, kecemasan kolektif untuk “harus hadir dan bersuara” mempercepat terbentuknya rasa solidaritas serta menggalang mobilisasi massa dalam kampanye digital maupun aksi protes. Gerakan yang semula membutuhkan waktu berminggu-minggu kini dapat dikoordinasikan dalam hitungan jam, membuktikan bahwa keterhubungan digital mampu menjadi instrumen penekan yang ampuh terhadap pembuat kebijakan.
Namun, di balik kecepatan mobilisasi tersebut, ada jebakan berbahaya yang kerap kali tidak disadari: aktivisme yang lahir dari dorongan FOMO sangat rentan terperosok ke dalam fenomena ikut-ikutan tren (bandwagon effect). Banyak pemuda yang latah meramaikan tagar perlawanan atau mengunggah poster kemarahan publik semata-mata karena isu itu sedang menjadi tren teratas di linimasa, tanpa didasari oleh pemahaman ideologis yang matang atau telaah kritis terhadap akar masalah yang sesungguhnya diperjuangkan. Ada semacam gengsi moral dan tekanan konformitas digital yang memaksa setiap orang harus memajang sikap tertentu di media sosial, hanya agar tidak dipandang pasif, acuh, atau ketinggalan zaman oleh pengikut daringnya.
Dari sinilah penyakit slacktivism bermula: sebuah ilusi pergerakan di mana aksi-aksi simbolik berbasis media sosial secara keliru dianggap telah menggantikan kerja keras pengorganisasian di dunia nyata. Sangat mudah untuk merasa telah menjadi pahlawan perubahan sosial hanya dengan memencet tombol repost infografis estetis atau membubuhkan tanda tangan pada petisi digital sambil rebahan. Namun, aktivisme instan yang hanya berorientasi pada validasi digital ini kerap kali layu sebelum berkembang; ia menguap begitu saja saat algoritma mengganti tren topik keesokan harinya, meninggalkan masyarakat di akar rumput tetap bergulat sendirian dengan ketidakadilan yang tak terselesaikan.
Realitas ini menyingkap sebuah ironi besar bagi dunia pendidikan dan kebudayaan kita. Lembaga pendidikan berada dalam dilema pelik: bagaimana mungkin kita berharap mencetak karakter pembelajar yang tangguh, sabar, dan tahan uji, apabila seluruh ekosistem digital di luar kelas terus mendoktrin generasi muda bahwa jeda sejenak adalah aib dan ketertinggalan satu detik adalah sebuah kiamat intelektual? Jika kampus hanya sibuk menghukum penggunaan AI tanpa pernah mengajarkan cara bernalar yang mendalam, dan jika organisasi mahasiswa hanya mengejar viralitas tanpa merawat tradisi kaderisasi ideologis, maka kita sedang membiarkan generasi ini menjadi generasi yang paling bising namun paling rapuh dalam sejarah.
Penyakit latah lainnya akibat FOMO ini kian telanjang ketika kita melangkah ke luar ruang kelas dan menengok panggung pergerakan mahasiswa. Hari ini, ragamnya ruang-ruang organisasi kemahasiswaan mulai dari Himpunan Mahasiswa (Hima), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM)/ Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA), Senat Mahasiswa (SEMA) dll, hingga organisasi ekstra kampus dan faksi partai mahasiswa. Ruang ini kerap dipadati oleh barisan anak muda yang bergabung bukan karena panggilan ideologis yang mengkristal, melainkan sekadar rasa cemas akan keterasingan sosial (self-inclusion). Fenomena serupa meledak di jalanan ketika seruan demonstrasi bergema: banyak mahasiswa berbondong-bondong mengenakan jas almamater, berpanas-panasan meneriakkan yel-yel, dan berjejal di barisan terdepan, tetapi jika ditodong dengan pertanyaan mendasar mengenai naskah kajian akademik atau substansi pasal yang mereka gugat, lidah mereka mendadak kelu. Keterlibatan mereka terjebak dalam efek ikut-ikutan tren (bandwagon effect); hadir di kerumunan aksi atau terpilih menjadi fungsionaris organisasi kampus dianggap sebagai tiket validasi diri agar terlihat vokal, peduli, dan tidak kalah pamor dari kawan sebayanya. Pada titik ini, aktivisme telah terdegradasi menjadi panggung karnaval simbolik: mahasiswa berteriak lantang meramaikan orasi dan berebut mengabadikan dokumentasi di media sosial, namun sesungguhnya buta terhadap pesan perubahan nyata yang seharusnya mereka perjuangkan.
Sudah saatnya Generasi Z mengambil langkah berani untuk keluar dari perangkap kecemasan algoritmik ini. Kematangan seorang pemuda tidak pernah diukur dari seberapa cepat jempolnya merangkai prompt di hadapan kecerdasan buatan, atau seberapa lantang ia memamerkan tagar protes demi memuaskan rasa haus akan pengakuan sosial. Keberanian yang paling radikal hari ini bukanlah berlari menuruti kehendak mesin, melainkan keberanian untuk berhenti sejenak, mematikan notifikasi, dan bergulat dengan pemikiran yang utuh dan mendalam. Sebab, masa depan bangsa ini tidak akan pernah dimenangkan oleh generasi yang gampang panik dan gemar berselancar di permukaan tren, melainkan oleh mereka yang memiliki keteguhan nurani, ketajaman berpikir kritis, dan kesediaan untuk berjuang secara nyata di tanah realitas.(*)




Komentar