oleh

Rumah Panas di Kota, Tagihan Listrik Membara (Bagian 1)

“Beban Energi Rumah Tangga Perkotaan di Tengah Desain Hunian yang Tak Ramah Iklim”

VoxLampung.com, Bandar Lampung – Kipas angin di ruang tamu terus berputar ketika Taufik Rohman (37) menyambut kedatangan jurnalis media ini di rumahnya, di Perumahan Sakura Residen, Kemiling, Bandar Lampung. Siang itu udara terasa sumuk. Kulit peliket lantaran peluh terus menetes. Taufik pun memilih duduk tidak jauh dari kipas yang mengembuskan udara ke seluruh ruangan.

Di rumah Taufik, kipas angin tak sekadar jadi peralatan rumah tangga, melainkan penunjang kenyamanan yang hampir selalu digunakan setiap hari, terutama ketika cuaca sedang terik.

“Kalau cuaca panas, kipas hampir selalu hidup,” ujar Taufik setelah menyeruput segelas air putih yang dicampur es batu.

Saban bulan, ayah satu anak itu mengaku mengeluarkan biaya listrik sekitar Rp250 ribu. Meski tidak menggunakan banyak perangkat elektronik berdaya besar, kebutuhan pendinginan ruangan menjadi salah satu konsumsi listrik yang rutin digunakan keluarganya.

Rumah yang ditempatinya memiliki empat jendela dan tiga lubang ventilasi. Saat membeli rumah itu, Taufik menambah biaya peningkatan mutu bangunan yang salah satunya digunakan untuk penambahan jendela samping agar sirkulasi udara lebih baik.

Tinggi plafon rumah Taufik sekira 3,5 meter. Dinding rumah dicat putih, sementara atap menggunakan genteng tanah liat yang relatif lebih baik dalam meredam panas dibandingkan material lainnya.

Namun, kondisi itu belum sepenuhnya mampu mengatasi persoalan kenyamanan termal. Salah satu penyebabnya adalah ukuran rumah yang sempit di atas lahan 72 meter persegi, dan kondisi lingkungan perumahan yang padat. Jarak antar rumah sangat rapat dan berdempetan, membuat kawasan terasa sumpek serta membatasi pergerakan udara alami di sekitar bangunan.

Rumah Panas di Kota, Tagihan Listrik Membara (Bagian 1)
Taufik Rohman, berdiri di bawah kipas angin yang menempel di dinding rumahnya, Perumahan Sakura Residen, Kemiling, Bandar Lampung. | VoxLampung

Sementara itu, minimnya ventilasi menjadi salah satu persoalan utama yang dirasakan Andre Jhurian (52), penghuni rumah subsidi di Villa Cendana Residence, Jalan Badak Ujung, Kedaton, Bandar Lampung. Selama enam tahun menempati rumah tipe 36/72 tersebut, ia menilai sirkulasi udara yang kurang baik membuat rumah terasa pengap, terutama di ruang tengah dan kamar depan.

Rumah yang menghadap ke timur itu hanya memiliki tiga jendela tanpa ventilasi. Menurut Andre, kondisi tersebut membuat udara panas lebih mudah terperangkap di dalam rumah, terutama saat cuaca terik. Meski rumah memiliki plafon setinggi sekitar 3,5 meter dan menggunakan atap genteng tanah liat, rasa panas tetap terasa pada waktu-waktu tertentu.

Untuk mengurangi suhu di dalam rumah, Andre melakukan renovasi dengan mengganti lantai keramik menjadi granit yang dinilainya memberikan efek lebih sejuk. Namun, perubahan tersebut belum sepenuhnya mengatasi persoalan sirkulasi udara akibat minimnya ventilasi.

Saban hari, ASN Pemprov Lampung itu mengandalkan dua kipas angin sebagai penyejuk ruangan. Ia mengakui penggunaan listrik cenderung meningkat saat cuaca panas. Pengeluaran token listriknya berkisar Rp200 ribu per bulan.

Andre menilai desain rumah subsidi saat ini belum sepenuhnya cocok dengan iklim tropis Indonesia. Selain minim ventilasi, ia juga menyoroti kualitas pengerjaan bangunan, tinggi plafon yang menurutnya masih kurang ideal, serta fasilitas air yang belum memadai.

Cerita serupa terjadi pada Syahrial, salah satu penghuni Perumahan Griya Putri Annisa, Gedung Harapan, Lampung Selatan. Ia mengandalkan pendingin udara atau air conditioner (AC) selain kipas angin. Biasanya Syahrial mulai menyalakan AC di rumahnya ketika waktu tidur malam hingga pagi hari untuk mengurangi hawa panas yang terjebak di dalam bangunan. Pada siang hari, ia lebih banyak menggunakan kipas angin.

Padahal, rumah subsidi yang ditempatinya memiliki tinggi plafon sekitar 3,6 meter dan dinding yang didominasi cat berwarna putih. Namun, menurut Syahrial, kondisi rumah tetap terasa gerah, terutama saat cuaca terik.

“Yang paling terasa membuat rumah panas itu atapnya. Bahannya genteng metal polos dengan rangka baja ringan. Kalau siang panas sekali,” ujarnya.

Dalam sebulan, Syahrial mengeluarkan biaya listrik sekitar Rp300 ribu hingga Rp350 ribu. Penggunaan listrik terbesar berasal dari AC dan kipas angin yang nyaris selalu menyala.

Selain material atap, desain bangunan yang kurang mendukung sirkulasi udara alami juga menjadi persoalan. Awalnya rumah tersebut hanya memiliki dua jendela, sesuai standar rumah subsidi. Merasa ventilasi udara kurang memadai, Syahrial meminta tambahan satu jendela saat proses pembelian rumah dengan biaya tambahan di awal kredit.

Meski kini memiliki tiga jendela, sirkulasi udara tetap belum optimal. Rumah yang menghadap timur itu hanya memiliki satu pintu utama, sementara area dapur sudah tertutup dan tidak memiliki akses keluar lain yang memungkinkan terjadinya aliran udara silang (cross ventilation).

“Udara masuk susah, keluar juga susah. Jadi panas terperangkap di dalam rumah,” katanya.

Kondisi itu diperparah setelah bagian teras direnovasi, sehingga rumah tidak lagi memiliki ruang terbuka di bagian depan. Renovasi bagian teras itu dilakukan agar ada tambahan area yang dapat digunakan sebagai ruang tamu. Renovasi semacam ini sedang menjadi tren di masyarakat.

Syahrial menyebut, ratusan rumah subsidi di kawasan Gedung Harapan mengalami kondisi serupa, terutama yang menggunakan material atap yang mudah menyerap panas tanpa didukung sistem ventilasi yang memadai.

Baginya, konsep perumahan subsidi saat ini masih jauh dari prinsip hunian yang ramah iklim. Selain desain bangunan yang kurang memperhatikan kenyamanan termal penghuni, kawasan perumahan juga minim fasilitas pendukung lingkungan.

“Belum ramah iklim. Sirkulasi udara kurang baik, penggunaan material yang jelek, ruang terbuka hijau juga tidak ada. Tempat ibadah dan lokasi pemakaman juga belum tersedia,” keluhnya.

Rumah Panas di Kota, Tagihan Listrik Membara (Bagian 1)
Syahrial di teras rumahnya, Perumahan Griya Putri Annisa, Gedung Harapan, Lampung Selatan. | VoxLampung

Namun demikian, tidak semua rumah subsidi menghadapi persoalan yang sama. Rumah subsidi, jika didukung dengan sirkulasi udara yang baik dan lingkungan sekitar yang masih hijau, akan cenderung lebih hemat energi karena penghuni tidak terlalu bergantung pada penggunaan AC atau kipas angin.

Hal itu dirasakan Katharina Yanuarti, warga Perumahan Griya Sakti Indah, Negeri Sakti, Kabupaten Pesawaran, yang menempati rumah subsidi itu sejak April 2020.

Rumah tipe 36/72 yang dihuni dua orang tersebut masih mempertahankan bentuk asli dari pengembang, dengan renovasi ringan di bagian dapur dan penambahan kanopi baja ringan di teras.

Ia mengaku kondisi rumah masih cukup nyaman meski cuaca sedang panas. Lingkungan sekitar yang masih banyak pepohonan membuat suhu rumah relatif lebih adem dibanding kawasan perkotaan yang padat bangunan.

“Kalau di sini masih adem karena di lingkungan sekitar masih banyak pepohonan, dan lokasinya bukan di perkotaan,” ujarnya.

Secara desain, rumah tersebut menghadap ke arah timur dengan dominasi cat tembok berwarna putih. Rumah juga memiliki tiga jendela yang berada di ruang tamu dan kamar depan, lengkap dengan ventilasinya.

Menurut Katharina, kondisi lingkungan yang masih asri cukup membantu menjaga suhu rumah tetap nyaman sehingga keluarganya tidak memasang AC. Untuk kebutuhan penyejuk sehari-hari, ia hanya mengandalkan kipas angin.

“Kalau cuaca sedang panas terik memang penggunaan kipas lebih intens,” katanya.

Dengan daya listrik 450 watt yang masih bersubsidi, tagihan listrik bulanannya rata-rata berada di angka Rp140 ribuan.

Pengalaman para penghuni tersebut menunjukkan bahwa faktor desain rumah seperti arah hadap bangunan, keberadaan ventilasi, warna dinding, material bangunan, hingga ruang terbuka hijau di sekitar kawasan perumahan memang berpengaruh terhadap suhu di dalam rumah.

Ketika hunian tidak mampu beradaptasi dengan iklim tropis, penghuni terpaksa mencari kenyamanan melalui kipas angin dan AC. Konsekuensinya, konsumsi listrik meningkat, dan tagihan bulanan ikut membara seiring panas yang terperangkap di dalam rumah.

Suhu udara rata-rata harian di Lampung

Kondisi rumah yang terasa semakin panas juga sejalan dengan catatan cuaca di Lampung. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), suhu udara rata-rata harian di Lampung selama April 2026 mencapai 26,9 derajat Celsius. Suhu udara maksimum rata-rata harian tercatat 28,5 derajat Celsius, sementara suhu minimum rata-rata harian berada pada 25,2 derajat Celsius.

Jika dilihat dari suhu ekstrem harian, rata-rata suhu maksimum mencapai 32,5 derajat Celsius dengan suhu tertinggi menyentuh 34 derajat Celsius. Adapun suhu minimum harian rata-rata berada di angka 23,7 derajat Celsius, dengan suhu terendah tercatat 22,6 derajat Celsius.

Kenaikan suhu udara dan penurunan tren curah hujan akibat perubahan iklim membuat wilayah Bumi Ruwa Jurai semakin terasa panas.

Koordinator Data dan Informasi Stasiun Klimatologi BMKG Lampung, Suparji menjelaskan, secara regional, Lampung telah mengalami kenaikan suhu udara sekitar 1 derajat Celsius, sementara secara global kenaikannya mencapai 1,5 derajat Celsius.

“Untuk Lampung sendiri pergeseran suhunya kurang lebih sudah 1 derajat. Bersamaan dengan itu, tren curah hujan juga menunjukkan kecenderungan menurun,” kata Suparji

Pengeluaran Listrik Rumah Tangga

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung dari hasil Susenas Maret 2025 menunjukkan rata-rata pengeluaran listrik rumah tangga di perkotaan mencapai Rp43.870 per bulan atau sekitar Rp526 ribu per tahun.

Sementara itu, rumah tangga di wilayah perdesaan hanya mengeluarkan rata-rata Rp24.509 per bulan untuk kebutuhan listrik. Adapun rata-rata gabungan pengeluaran listrik rumah tangga di Lampung berada di angka Rp31.189 per bulan atau 374.264 per tahun.

Jika dibandingkan dengan rata-rata nasional, pengeluaran listrik rumah tangga di Lampung memang masih lebih rendah. Secara nasional, rumah tangga perkotaan menghabiskan sekitar Rp55.009 per bulan untuk listrik, sedangkan perdesaan Rp21.258 per bulan.

Data tersebut memperlihatkan adanya kesenjangan konsumsi energi antara kawasan kota dan desa. Tingginya penggunaan alat elektronik, pendingin ruangan, hingga karakter bangunan rumah di wilayah perkotaan diduga menjadi faktor yang memengaruhi besarnya konsumsi listrik rumah tangga.

Selain nominal pengeluaran, BPS juga mencatat porsi biaya listrik terhadap total pengeluaran rumah tangga di Lampung mencapai 2,94 persen untuk wilayah perkotaan dan 2,22 persen di perdesaan. Secara keseluruhan, rata-rata pengeluaran listrik menyumbang sekitar 2,52 persen dari total belanja rumah tangga masyarakat Lampung.

Di tingkat nasional, proporsi pengeluaran listrik rumah tangga tercatat sedikit lebih tinggi, yakni 3,04 persen di perkotaan dan, 1,75% di perkotaan, sehingga 2,63 persen secara gabungan kota-desa.

Tekanan biaya energi rumah tangga juga terlihat dari tren inflasi kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang meningkat pada 2025. BPS mencatat inflasi kelompok tersebut di Lampung mencapai 1,84 persen, lebih tinggi dibanding rata-rata nasional sebesar 1,62 persen.

Tren inflasi di Lampung juga mengalami peningkatan setiap tahun, pada 2023 di angka 0,70%, 2024 di angka 0,58%, dan meningkat lagi menjadi 1,84% pada tahun 2025. Secara nasional juga tercatat sama-sama mengalami peningkatan tren inflasi, pada 2023 di angka 50%, lalu 2024 di 0,59%, dan pada 2025 1,62%

Inflasi kelompok listrik, air, dan bahan bakar rumah tangga meningkat cukup tajam pada 2025. Kondisi ini menunjukkan biaya kebutuhan dasar rumah tangga, termasuk listrik, mulai mengalami kenaikan yang cukup signifikan.

Sementara berdasarkan data statistik PLN, sektor rumah tangga menjadi penyumbang pendapatan terbesar bagi PLN di Lampung. Sepanjang 2025, pelanggan rumah tangga di wilayah UID Lampung mengonsumsi listrik sebesar 3.535,02 GWh dan membayar tagihan listrik sekitar Rp3,21 triliun. Nilai itu berkontribusi hampir 50 persen dari total pendapatan PLN UID Lampung yang mencapai Rp6,43 triliun.

Penetrasi AC dan Dominasi AC Boros Energi di Indonesia

Besarnya konsumsi listrik rumah tangga yang tercermin dalam pendapatan PLN tidak hanya dipengaruhi jumlah pelanggan, tetapi juga pola penggunaan peralatan elektronik. Di antara berbagai perangkat rumah tangga, AC menjadi salah satu penyumbang konsumsi listrik terbesar, terutama di wilayah beriklim panas seperti Lampung. Kondisi ini semakin diperparah oleh dominasi AC berefisiensi rendah yang masih banyak digunakan masyarakat.

Laporan The Future of Cooling in Southeast Asia dari International Energy Agency (IEA) menyebut penggunaan pendingin ruangan menjadi salah satu pendorong pertumbuhan konsumsi listrik tercepat di Asia Tenggara. Jumlah AC di kawasan ini diperkirakan melonjak dari sekitar 40 juta unit pada 2017 menjadi 300 juta unit pada 2040. Dari jumlah tersebut, hampir separuhnya diproyeksikan berada di Indonesia.

Di tengah pertumbuhan kebutuhan pendingin ruangan yang pesat, Indonesia justru masih didominasi AC berdaya boros. Laporan Collaborative Labeling and Appliance Standards Program (CLASP) tahun 2023 mencatat 97 persen AC yang terjual di Indonesia pada 2021 tergolong berefisiensi rendah. Akibatnya, konsumsi listrik rumah tangga menjadi lebih tinggi dan beban sistem kelistrikan nasional ikut meningkat.

CLASP juga mengungkap praktik yang disebut environmental dumping, yakni masuknya AC berteknologi lama dan kurang efisien ke pasar Asia Tenggara.

Dalam laporan Pathways to Prevent Dumping of Climate Harming Room Air Conditioners in Southeast Asia, disebutkan bahwa dari 6,2 juta unit AC berefisiensi rendah yang terjual di enam negara Asia Tenggara, sekitar 2,3 juta unit di antaranya berada di Indonesia. Angka ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu pasar terbesar bagi AC boros energi di kawasan.

Penggunaan AC berefisiensi rendah mengonsumsi sekitar 800–2.000 watt saat beroperasi, tergantung kapasitas AC. Biasanya, AC rumah tangga yang umum di Indonesia yaitu sekitar 1 PK atau 9.000–12.000 BTU/jam dengan daya 800–1.000 watt untuk yang berefisiensi rendah, dan 400–700 watt jika berefisiensi tinggi.

Dengan jutaan unit AC berefisiensi rendah masih beredar di pasar, tingginya konsumsi listrik rumah tangga menjadi hal yang sulit dihindari. Terlebih bagi keluarga yang tinggal di rumah dengan suhu ruangan yang cenderung panas, sehingga kipas angin dan AC bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan sehari-hari.

Dan di balik tingginya konsumsi listrik rumah tangga, tersisa pertanyaan yang belum terjawab, yakni mengapa rumah yang dibangun agar terjangkau justru membuat penghuninya harus mengeluarkan biaya lebih untuk mendapatkan kenyamanan? (*)

Laporan Imelda Astari

Baca Berita Bagian 2 : Rumah Panas di Kota, Tagihan Listrik Membara (Bagian 2)

Komentar