oleh

Rektor UBL Dorong Kolaborasi Global Hadapi Ancaman Krisis Iklim

VoxLampung.com, Bandar Lampung — Ancaman krisis iklim global yang semakin nyata mendorong perlunya kolaborasi lintas sektor secara lebih konkret dan berkelanjutan. Isu tersebut menjadi fokus utama dalam 4th International Symposium on Global Collaboration for Sustainability (ISGCS) 2026 yang digelar Universitas Bandar Lampung (UBL) di Holiday Inn Lampung Bukit Randu, Rabu, 20/5/2026.

Mengusung tema “Navigating Global Climate Challenges through Multi-Stakeholder Partnership”, forum internasional itu mempertemukan akademisi, pemerintah, sektor industri, organisasi masyarakat sipil, hingga media untuk membahas strategi menghadapi perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan.

Rektor UBL, Prof. M. Yusuf S. Barusman, menegaskan bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan persoalan nyata yang dampaknya sudah dirasakan masyarakat di berbagai sektor kehidupan.

“Perubahan iklim bukan lagi persoalan masa depan yang hanya menjadi bahan diskusi akademik. Kita telah menyaksikan berbagai fenomena cuaca ekstrem yang sebelumnya sulit dibayangkan. Beberapa waktu terakhir kita mengalami intensitas hujan yang sangat tinggi. Bayangkan apabila kondisi seperti itu terjadi terus-menerus dalam jangka panjang,” ujar Yusuf.

Menurutnya, dampak krisis iklim tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga dapat memengaruhi ketahanan pangan, kondisi ekonomi, kesehatan masyarakat, hingga stabilitas sosial.

“Karena itu, solusi terhadap tantangan global ini tidak dapat dilakukan secara individual. Kita membutuhkan kolaborasi yang lebih kuat antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, masyarakat, NGO, dan organisasi internasional,” tegasnya.

Yusuf menilai perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam mendorong lahirnya solusi dan kebijakan berbasis kolaborasi. Kampus, kata dia, tidak cukup hanya menjadi pusat pendidikan dan penelitian, tetapi juga harus mampu menjadi penghubung antara pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat.

“Perubahan iklim merupakan tantangan global yang membutuhkan respons kolektif. Universitas harus hadir sebagai katalisator lahirnya inovasi, penguatan kebijakan, sekaligus jembatan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat,” katanya.

Kegiatan yang diselenggarakan SDGs Center UBL tersebut merupakan bagian dari penguatan implementasi proyek Strengthening Capacities for Policy Planning for the Implementation of the 2030 Agenda in Indonesia and in the Global South Phase II (SDGs SSTC Phase II) yang didukung Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) Indonesia.

Dalam forum tersebut juga dilakukan penandatanganan piagam kolaborasi MSP KEM11LAU sebagai simbol penguatan kemitraan multipihak dalam pembangunan perkotaan yang berkelanjutan dan tangguh terhadap perubahan iklim.

Selain menghadirkan pembicara nasional dan internasional, ISGCS 2026 turut diisi panel diskusi dan presentasi hasil riset. Sebanyak 35 presenter memaparkan berbagai penelitian dan praktik baik terkait pembangunan berkelanjutan, ketahanan iklim, serta penguatan kolaborasi multipihak.

Melalui forum internasional ini, UBL menegaskan komitmennya dalam membangun diplomasi akademik dan memperkuat jejaring global guna mendukung percepatan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) di Indonesia.(Rls)

Komentar