VoxLampung.com, Bandar Lampung — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama pelaku industri pasar modal menggencarkan sosialisasi program nasional PINTAR Reksadana (Program Investasi Terencana dan Berkala) sebagai upaya memperluas literasi dan inklusi keuangan, khususnya di kalangan generasi muda.
Mauldy R. Makmur, Direktur Eksekutif Dewan Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia, menyoroti besarnya potensi investor muda di Indonesia yang belum tergarap optimal. Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per Januari 2026, jumlah investor pasar modal nasional terus mengalami pertumbuhan signifikan dengan penambahan hingga 4 juta investor dalam waktu singkat.
Khusus di Lampung, pertumbuhan investor tercatat meningkat 45 persen sejak Desember 2025 hingga April 2026.
“Investor kita sekarang tumbuh pesat. Dari mana yang paling jelas? yaitu dari investor reksadana. Saya baru tadi melihat angkanya, dan ternyata Lampung juga ikut menyumbang dan peningkatan terbesar karena loncat tuh dari Desember tahun 2025 sampai dengan April 2026 mencapai 45%,” kata Mauldy dalam kegiatan Media Gathering Pasar Modal di Hotel Grand Mercure Bandar Lampung, Selasa, 19 Mei 2026.
Struktur investor pasar modal saat ini juga didominasi kelompok usia muda. Investor berusia di bawah atau sama dengan 30 tahun mencapai lebih dari 54 persen dari total investor pasar modal.
Meski demikian, tingkat penetrasi investasi reksadana di kalangan anak muda dinilai masih rendah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2025, jumlah penduduk usia 15–34 tahun mencapai 88,96 juta jiwa. Namun, investor reksadana usia muda baru mencapai 11,41 juta orang atau sekitar 12,82 persen.
“Ini artinya ruang pertumbuhan masih sangat besar,” ungkapnya.
Melalui program PINTAR Reksadana, masyarakat didorong untuk mulai berinvestasi secara rutin dan terencana melalui skema Dollar Cost Averaging (DCA) atau investasi berkala. Strategi ini dinilai lebih aman dan realistis bagi investor pemula dibandingkan metode market timing maupun investasi sekaligus dalam jumlah besar atau lumpsum.
“Nggak ada yang bisa nebak market secara pasti. Dengan DCA, investor tetap masuk saat market turun maupun naik, sehingga biaya pembelian ter-rata-rata (averaged). Ini jauh lebih aman untuk jangka panjang,” jelasnya.
Dalam paparannya, Mauldy juga menjelaskan sejumlah keunggulan reksadana yang membuat produk tersebut semakin diminati masyarakat.
Selain dikelola secara profesional oleh Manajer Investasi (MI) berizin OJK, reksadana dinilai lebih fleksibel karena dapat disesuaikan dengan profil risiko investor. Proses investasi juga semakin mudah karena dapat dilakukan melalui gadget.
Tak hanya itu, investasi reksadana dapat dimulai dari nominal terjangkau, yakni Rp10 ribu. Keuntungan dari investasi reksadana pun bukan termasuk objek pajak.
Program PINTAR Reksadana sendiri terbagi menjadi dua skema utama. Pertama, PINTAR Reksadana Umum yang terbuka bagi seluruh masyarakat dengan dukungan 60 Manajer Investasi dan 30 APERD.
Program ini menawarkan fasilitas bebas biaya subscription (pembelian) dan redemption (penjualan) dengan komitmen lock-up hingga tiga tahun.
Kedua, PINTAR Reksadana SiMuda Investasiku yang dikhususkan bagi pemuda usia 18 hingga 30 tahun. Program tersebut bekerja sama secara eksklusif dengan tujuh Manajer Investasi papan atas dan tujuh APERD bank.
Skema SiMuda Investasiku memiliki profil risiko konservatif dengan fokus pada produk Reksadana Pasar Uang dan Pendapatan Tetap. Investasi dapat dilakukan melalui aplikasi mobile dengan minimal pembelian Rp10 ribu.
Tujuh Manajer Investasi yang terlibat dalam program ini yakni Manulife Asset Management Indonesia, Bahana TCW Investment Management, Mandiri Manajemen Investasi, Trimegah Asset Management, Batavia Prosperindo Aset Manajemen, Syailendra Capital, dan Sucorinvest Asset Management.
Sementara tujuh APERD bank pendukung program terdiri dari Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia, Bank Tabungan Negara, Bank Danamon Indonesia, Bank Syariah Indonesia, Bank Neo Commerce, dan United Overseas Bank Indonesia.
Melalui sosialisasi ini, OJK dan pelaku industri berharap investasi tidak lagi dipandang sebagai aktivitas eksklusif, melainkan menjadi kebiasaan finansial sehat yang dapat diakses seluruh lapisan masyarakat, khususnya generasi muda.(*)







Komentar