VoxLampung.com, Bandar Lampung — Tawa itu akhirnya pecah. Ringan, lepas, dan jujur. Sesuatu yang mungkin tak setiap hari terdengar di kehidupan anak-anak yatim. Di tengah sejuknya Puncak, Bogor, hingga riuhnya wahana Dunia Fantasi (Dufan), ratusan santri Pondok Pesantren Riyadhus Sholihin Bandar Lampung merasakan kebahagiaan yang selama ini hanya mereka simpan dalam diam.
Bagi mereka, perjalanan ini bukan sekadar rekreasi. Ia adalah jeda dari rutinitas, sekaligus ruang untuk merasakan bahwa mereka juga berhak bahagia.
Pimpinan Pondok Pesantren Yatim Piatu dan Dhuafa Riyadhus Sholihin, Umi Hj. Fatmah Sungkar, M.Pd., mengaku, momen paling berharga justru hadir dari hal-hal sederhana, yakni dari senyum dan tawa anak-anak yang selama ini jarang terlihat.
“Ada kebahagiaan yang tak bisa diukur dengan kata-kata saat melihat tawa anak-anak yatim yang selama ini jarang mereka rasakan,” ujarnya.
Pada 13 April 2026, pondok mengajak sekitar 250 hingga 268 santri yatim bersama para pengasuh mengikuti kegiatan rihlah dan rekreasi ke Puncak Bogor dan Dufan. Kegiatan itu berlangsung selama kurang lebih empat hari. Di sanalah, kebahagiaan itu seperti menemukan jalannya.
“Bersama para santri dan pengasuh, kami menyaksikan langsung bagaimana Allah menghadirkan kebahagiaan melalui perjalanan sederhana ini,” lanjut Umi Fatmah.
Di balik perjalanan tersebut, tersimpan makna yang jauh lebih dalam. Apa yang bagi sebagian orang tampak biasa, justru menjadi pengalaman luar biasa bagi mereka.
“Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya sekadar jalan-jalan. Namun bagi mereka, ini adalah pengalaman berharga, tentang kebersamaan, tentang tawa, tentang merasa diperhatikan dan dicintai,” tuturnya.
Selama empat hari itu, anak-anak tidak hanya menikmati perjalanan, tetapi juga merasakan kehangatan yang mungkin jarang mereka ungkapkan. Wajah-wajah ceria, mata berbinar, dan tawa yang tak dibuat-buat menjadi potret yang membekas.
“MasyaAllah, wajah-wajah ceria itu, tawa yang lepas, dan mata yang berbinar menjadi saksi betapa besar arti perjalanan ini bagi mereka,” katanya.
Meski bukan agenda rutin, kegiatan seperti ini selalu diupayakan hadir. Bagi Umi Fatmah, kebahagiaan adalah bagian penting dari tumbuh kembang anak-anak yatim.
“Kami percaya, anak-anak yatim juga berhak merasakan dunia yang indah, bukan hanya tentang belajar dan bertahan, tetapi juga tentang bahagia,” ujarnya.
Lebih dari sekadar perjalanan, rihlah ini menjadi pengingat bahwa cinta dan perhatian bisa hadir dalam berbagai bentuk, termasuk melalui langkah sederhana yang membawa mereka melihat dunia lebih luas.
“Doa kami, semoga pondok ini terus menjadi tempat yang hangat, tempat mereka tumbuh dengan cinta, dengan ilmu, dan dengan harapan yang tak pernah padam,” ucapnya penuh harap.
Di ujung kisah, ada doa yang mengalir lirih namun kuat. Sebuah ajakan bagi siapa saja untuk turut mengiringi langkah kecil anak-anak itu menuju masa depan yang lebih terang.
“Semoga semakin banyak hati baik yang tergerak untuk membersamai langkah kecil mereka. Karena memuliakan anak yatim bukan hanya tentang hari ini, tetapi tentang bekal kita di hadapan Allah nanti,” pungkas Umi Fatmah.(*)







Komentar