VoxLampung.com, Bandar Lampung – Kinerja sektor perbankan di Provinsi Lampung menunjukkan tren positif hingga akhir 2025. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Lampung mencatat, total penyaluran kredit perbankan di daerah ini menembus Rp111,98 triliun pada Desember 2025, menandakan aktivitas ekonomi masyarakat terus bergerak stabil di tengah tekanan ekonomi global.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Otto Fitriandy memaparkan, pertumbuhan kredit tercatat meningkat sebesar Rp5,03 triliun atau 4,7 persen dibandingkan periode sebelumnya. Bank milik negara atau Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) menjadi penggerak utama ekspansi pembiayaan di Lampung dengan kontribusi mencapai Rp59,22 triliun atau 59,77 persen dari total kredit bank umum.
“Sementara itu, bank swasta menyalurkan kredit sebesar Rp31,03 triliun dan Bank Pembangunan Daerah (BPD) sebesar Rp8,82 triliun,” kata Otto dalam kegiatan pemaparan perkembangan kinerja Industri Jasa Keuangan Provinsi Lampung periode Triwulan IV Tahun 2025, di Ballroom Holiday Inn, Bandar Lampung, Selasa, 3 Maret 2026.
Dari sisi jenis pembiayaan, lanjut Otto, kredit modal kerja masih mendominasi dengan nilai Rp54,14 triliun. Namun, pertumbuhan tertinggi justru terjadi pada kredit konsumsi yang mencapai Rp39,83 triliun atau tumbuh 8,14 persen. Adapun kredit investasi tercatat sebesar Rp18,03 triliun.
Otto bilang, di tengah peningkatan penyaluran kredit, kualitas pembiayaan perbankan Lampung tetap terjaga. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) gross berada di level 2,36 persen, masih jauh di bawah ambang batas pengawasan sebesar 5 persen. NPL net bahkan tercatat sehat di angka 1,08 persen.
Kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan juga terus meningkat. Hal ini tercermin dari penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencapai Rp71,01 triliun atau tumbuh 4,6 persen secara tahunan.
Tabungan menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp41,85 triliun, disusul deposito Rp19,62 triliun dan giro sebesar Rp9,53 triliun. “Kami menilai, peningkatan tabungan masyarakat menjadi indikator daya beli serta stabilitas ekonomi daerah yang tetap terjaga,” katanya.
Secara kewilayahan, lanjut Otto, penyaluran kredit masih terkonsentrasi di pusat ekonomi utama. Kota Bandar Lampung mendominasi dengan pangsa 38,60 persen, diikuti Kabupaten Lampung Selatan sebesar 12,12 persen dan Lampung Tengah 10,80 persen. Pertumbuhan tertinggi justru terjadi di Kabupaten Lampung Timur yang melonjak hingga 21,95 persen.
Di sektor usaha, kredit UMKM telah mencapai Rp34,73 triliun. Meski secara nominal meningkat, pertumbuhannya melambat menjadi 2,40 persen pada 2025. OJK juga mencatat adanya tekanan kualitas kredit UMKM yang terlihat dari kenaikan nominal kredit bermasalah dalam tiga tahun terakhir.
Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi tulang punggung pembiayaan dengan nilai Rp14,69 triliun, meskipun laju pertumbuhannya mulai melambat. Sebaliknya, beberapa sektor seperti konstruksi, perdagangan besar, serta transportasi dan pergudangan mengalami kontraksi sepanjang 2025.
Memasuki 2026, OJK tetap optimistis terhadap prospek industri jasa keuangan di Lampung. Kredit perbankan diproyeksikan tumbuh 10–12 persen, sementara penghimpunan DPK ditargetkan meningkat 7–9 persen.
Untuk mendukung target tersebut, OJK bakal memprioritaskan penguatan ketahanan sektor jasa keuangan, pengembangan ekosistem pembiayaan UMKM, serta pendalaman pasar keuangan melalui perluasan instrumen investasi dan peningkatan peran perbankan di pasar modal.(*)







Komentar