Inisiatif YSC Pasang Penyaringan Air Tenaga Surya, Solusi Air Bersih saat Banjir
YSC Indonesia telah memasang sistem penyaringan air di fasilitas MCK wilayah Pesawahan, Teluk Betung, Bandar Lampung, dengan memanfaatkan tenaga surya untuk mengoperasikannya.
Sistem water filter ini memungkinkan air tetap bersih dan layak digunakan, termasuk pada kondisi pascabanjir.
“Pakai filter air ini berguna sekali. Terbukti saat kami baru pasang, beberapa hari kemudian terjadi banjir di kawasan itu dan air hasil filternya benar-benar tetap jernih. Sehingga bisa dimanfaatkan oleh masyarakat setempat,” ungkap Iffah.
Solusi Toilet Hemat Air untuk Wilayah Krisis Air
Selain itu, YSC juga menawarkan solusi penggunaan toilet hemat air dari merek Sato asal Jepang. Produk ini ditemui YSC dalam ajang World Water Forum dan dinilai cocok untuk wilayah Bandar Lampung yang kerap mengalami kekurangan air, terutama saat musim kemarau.

Toilet jongkok dibanderol sekitar Rp250 ribu, sementara toilet duduk sekitar Rp500 ribu. Produk ini terbuat dari bahan PVC silikon tebal, telah melalui uji kualitas, dan mampu menghemat penggunaan air hingga 80 persen. Toilet ini menggunakan sistem klap, yaitu pada bagian bawah toilet akan otomatis terbuka saat ada tinja. Dengan begitu, hanya butuh sedikit air untuk proses menyiram tinja.
Produk toilet hemat air tersebut meski berlisensi Jepang, namun diproduksi di Indonesia dengan tingkat kandungan atau komponen bahan lokal mencapai 87 persen. Itulah mengapa harganya relatif terjangkau. Bagi masyarakat yang berminat, YSC membuka akses informasi melalui Instagram YSC Indonesia serta menyediakan pelatihan pemasangan agar produk terpasang sesuai standar dan berfungsi secara optimal.
Selain toilet, tersedia juga produk Sato Tap, yaitu dispenser portabel mini yang dapat digunakan untuk mencuci tangan hemat air. Cukup memasukkan air dengan bekas botol air mineral, mencuci tangan dapat dilakukan tanpa memerlukan akses ke keran air.
Advokasi dan Upaya Nyata YSC terkait Air dan Sanitasi
Sebagai Penggerak Kawasan Gaharu yang diinisiasi Ashoka Indonesia, YSC terus melakukan advokasi dan upaya nyata dalam isu air dan sanitasi melalui perubahan perilaku, inovasi, dan kolaborasi lintas sektor. Direktur Eksekutif YSC Indonesia, Iffah Rachmi, menegaskan bahwa perubahan perilaku menjadi fondasi utama agar isu air dan sanitasi dipahami sebagai persoalan bersama, bukan isu kelompok tertentu.
Menurut Iffah, perubahan perilaku harus menyasar semua lapisan. Anak-anak muda bergerak dengan gaya mereka sendiri, sementara YSC juga aktif masuk ke ruang-ruang formal pemerintahan. YSC rutin terlibat dalam forum musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang), perencanaan daerah, hingga kegiatan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) yang berkaitan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
“Di situ kami bicara. Di sisi lain, anak-anak muda juga bergerak dengan caranya sendiri,” ujarnya.
Ke masyarakat, YSC melakukan edukasi dan pemberdayaan. Bersama media, YSC juga terus berbagi informasi agar kesadaran publik terhadap pentingnya air dan sanitasi semakin luas. Intinya, semua pihak diajak untuk sadar bahwa isu ini sangat krusial.
Pendekatan yang dilakukan YSC adalah berdialog dengan semua pihak, meskipun menggunakan bahasa dan cara yang berbeda. Anak muda didekati dengan gaya mereka, sementara pemerintah dengan pendekatan kebijakan dan perencanaan.
Selain perubahan perilaku, YSC juga mengembangkan inovasi yang disesuaikan dengan kebutuhan lokal. Dalam berbagai pertemuan dengan mitra, YSC selalu melihat peluang adaptasi inovasi sesuai kondisi wilayah.
Salah satu contoh inovasi tersebut adalah pembuatan alat penyaring air darurat saat bencana banjir dengan bahan yang mudah didapat. Saat banjir, kebutuhan utama masyarakat adalah air bersih. Dari situ, YSC mengembangkan teknologi sederhana yang bisa langsung diterapkan di lapangan.
Inovasi lainnya adalah toilet adaptif banjir. YSC sempat menguji coba toilet tersebut dan hasilnya berjalan baik. Bahkan, toilet tersebut langsung diuji oleh kondisi alam ketika sehari setelah diserahterimakan, wilayah tersebut kembali dilanda banjir.
“Inovasi itu penting karena harus disederhanakan di tingkat lokal. Kita lihat kondisi spesifik wilayah, seperti di Bandar Lampung, lalu menyesuaikan pendekatannya,” jelas Iffah.
Upaya ketiga yang tak kalah penting adalah kolaborasi. YSC membuka ruang kerja sama dengan berbagai komunitas dan organisasi, termasuk yang awalnya tidak secara spesifik bergerak di isu sanitasi.
Ketika bertemu dengan komunitas Payungi, misalnya, YSC justru memperkuat aspek sanitasi di dalamnya.
Kolaborasi juga dilakukan bersama SDGs Center, komunitas perumahan dan permukiman, kelompok pegiat kelautan, hingga gerakan perempuan. Isu sanitasi dikaitkan dengan berbagai konteks agar lebih mudah diterima.
Dalam isu kelautan, sanitasi dikaitkan dengan pencemaran laut. Dalam gerakan perempuan, sanitasi dibahas dari perspektif penjagaan keluarga. Dalam konteks agama, YSC menyoroti air sebagai syarat bersuci yang harus terjaga kualitasnya. Dalam isu keluarga, sanitasi dikaitkan dengan pencegahan stunting. Sementara dalam perumahan dan permukiman, sanitasi dikaitkan dengan SDGs dan konsep rumah layak huni.
“Kalau hanya bicara ‘toilet’ atau ‘sanitasi’, orang sering tidak tertarik. Maka bahasanya harus beragam, menyesuaikan ruang yang kita masuki,” kata Iffah.
Pendekatan penguatan keluarga juga menjadi perhatian YSC, salah satunya melalui gerakan Ashoka yang menitikberatkan pada konsep keluarga pembaharu. Perubahan dimulai dari pola pikir yang dibangun di dalam keluarga.
Iffah mencontohkan pengalamannya sendiri. Pemahaman tentang air dan sanitasi yang ia pelajari sebelum menikah baru benar-benar dipraktikkan setelah membangun keluarga. Pengelolaan sanitasi rumah tangga kemudian menjadi kebiasaan, mulai dari pengelolaan sampah, penggunaan toilet yang layak, hingga sedot tangki septik secara berkala setiap tiga tahun.
Pengelolaan air limbah juga dilakukan dengan mengurangi penggunaan bahan kimia, tidak membuang minyak jelantah sembarangan, serta memilah sampah. Sampah organik diolah jadi kompos di rumah, sementara sampah anorganik disalurkan ke bank sampah. Selain berdampak pada lingkungan, kebiasaan ini juga dirasakan lebih hemat secara ekonomi.
Menurut Iffah, keluarga adalah fondasi utama pembentukan budaya. Pola pikir dibentuk di rumah, dan peran ibu sangat besar dalam menanamkan kesadaran lingkungan, kepedulian terhadap rumah, serta nilai empati dan toleransi. Anak-anak yang tumbuh dalam budaya tersebut akan membawa nilai-nilai itu ke masyarakat, sehingga dampaknya menyebar dan berjangka panjang.
“Gerakan seperti Ashoka menyentuh hal yang lebih dalam dan jangka panjang. Tapi tetap harus dimulai dari banyak gerakan. Keluarga adalah fondasi transformasi pertama,” ujarnya.
Selain keluarga dan komunitas, YSC juga berkolaborasi dengan lembaga pendidikan. Salah satunya bersama Sekolah Azzahra Bandar Lampung dalam membangun kesadaran lingkungan di tingkat sekolah.
Sejak Juli 2024, sekolah tersebut memantapkan penerapan konsep hidup berkelanjutan. Pada November 2024, Sekolah Azzahra meresmikan Program Sekolah Ramah Sampah untuk mendorong seluruh warga sekolah agar lebih peduli dan berperilaku bijak dalam pengelolaan sampah. Sekolah menargetkan penurunan sampah sebesar 35 persen dalam satu tahun.

Kepala Sekolah Azzahra, Umi Fatirah, menjelaskan bahwa program tersebut bermula dari Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dalam Kurikulum Merdeka. Sekolah ingin mengubah paradigma sampah dari sekadar masalah menjadi tanggung jawab bersama, sejalan dengan nilai Islam yang menolak perilaku mubazir dan mendukung prinsip keberlanjutan.
Bersama YSC, sekolah memetakan masalah sampah dan menemukan bahwa Azzahra menghasilkan sekitar 128 kilogram sampah setiap hari. Dari jumlah tersebut, 40 persen merupakan sampah organik dan 37 persen sampah bernilai rendah.
Sekolah kemudian menerapkan empat tahapan, mulai dari sosialisasi hingga eksekusi. Tahap pertama adalah Selami, di mana murid dikenalkan pada isu sampah. Tahap kedua pemetaan melalui riset, dilanjutkan tahap memilah, dan terakhir tahap membatasi.
Upaya konkret dilakukan dengan mengurangi penggunaan kemasan plastik, membiasakan membawa tumbler, mengurangi penggunaan kertas, melakukan daur ulang, mengolah sisa makanan menjadi kompos, serta membentuk bank sampah sekolah.
Pengolahan sisa makanan dilakukan di lahan milik sekolah seluas 24 hektare di kawasan Kemiling, Bandar Lampung, yang diberi nama Jabal Azzahra. Limbah makanan diolah menjadi pupuk kompos dan digunakan untuk penghijauan. Sekolah juga membentuk ekstrakurikuler Trash Squad yang bertugas mengelola sampah makanan.
“Setelah upaya-upaya itu, Alhamdulillah jumlah sampah sudah turun 21 persen dalam satu tahun. Meski belum mencapai target, kami bersyukur masih bisa berkomitmen melanjutkannya di tahun kedua,” ujar Umi Fatirah.
Krisis Air Sudah Terjadi, Saatnya Bertindak Bersama
YSC menegaskan bahwa krisis air bukan lagi cerita tentang masa depan, melainkan kenyataan yang sedang dihadapi banyak keluarga di Bandar Lampung hari ini. Ketika air bersih sulit diakses, sanitasi memburuk, dan biaya hidup meningkat, dampaknya langsung dirasakan di dapur, kamar mandi, hingga kesehatan keluarga.
Persoalan ini, menurut YSC, tidak bisa terus ditunda atau dianggap sepele. Langkah-langkah sederhana seperti menjaga kualitas air, melakukan sedot tinja secara berkala, dan mulai berhemat serta mengelola air dari rumah justru menjadi fondasi penting untuk mencegah krisis yang lebih besar. Jika tangki septik dibiarkan bertahun-tahun tanpa pengelolaan, air tanah tercemar, dan pada akhirnya warga sendiri yang menanggung risikonya.
YSC mendorong masyarakat untuk tidak menunggu krisis semakin parah, sekaligus mengajak pemerintah agar lebih serius membenahi sistem air dan sanitasi. Krisis air hanya bisa dihadapi jika menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas komunitas, bukan pula semata urusan pemerintah. Dengan kesadaran kolektif dan aksi nyata sejak dari rumah, YSC percaya ketahanan air di Bandar Lampung masih bisa diperjuangkan dan menghentikan detak bom waktu itu.(*)
Laporan Imelda Astari
Baca Juga: Menjaga Air dari Kampung Kecil: Payungi Metro dan Kesadaran yang Tumbuh Bersama







Komentar