oleh

Pemprov Lampung Tegaskan Pasokan Daging Sapi Aman, Neraca 2025 Surplus

VoxLampung.com, Bandar Lampung — Pemerintah Provinsi Lampung menegaskan ketersediaan daging sapi dan kerbau sepanjang Tahun 2025 berada dalam kondisi aman dan mencukupi. Klarifikasi ini disampaikan menyusul beredarnya isu perbedaan data supply–demand daging sapi Lampung yang ramai diperbincangkan di ruang publik.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Provinsi Lampung, Lili Mawarti, menyebut hasil kajian teknis Disnakkeswan justru menunjukkan neraca daging sapi dan kerbau Lampung mengalami surplus sebesar 3.955 ton pada Tahun 2025.

“Perhitungan pasokan tidak bisa hanya melihat angka produksi daging di dalam provinsi. Harus dihitung juga stok awal serta pemasukan ternak dan daging dari luar daerah,” ujar Lili Mawarti, Selasa, 3/2/2026.

Menurutnya, perbedaan angka yang beredar terjadi akibat perbedaan metodologi penghitungan. Dalam publikasi Peternakan dalam Angka 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), pasokan dihitung hanya dari produksi daging sapi dan kerbau dalam provinsi yang tercatat sebesar 18.523 ton, tanpa memasukkan komponen stok awal serta arus lalu lintas ternak dan daging antarprovinsi maupun impor.

“Padahal secara faktual, Lampung merupakan daerah sentra ternak sekaligus penyangga pasokan nasional,” tegasnya.

Berdasarkan data lalu lintas ternak dalam sistem ISIKHNAS, sepanjang Tahun 2025 Lampung menerima pemasukan 162.911 ekor sapi dan kerbau, termasuk 159.117 ekor sapi impor. Pada saat yang sama, Lampung juga mengeluarkan 298.642 ekor ternak ke luar daerah.

Stabilnya pasokan tersebut, lanjut Lili, tercermin langsung dari kondisi harga di pasaran. Berdasarkan Berita Resmi Statistik Tahun 2025, komoditas daging sapi tidak memberikan andil terhadap inflasi tahunan (year-on-year) di Provinsi Lampung. Bahkan, daging sapi tercatat mengalami deflasi sebesar 0,01 persen pada April dan Desember 2025.

“Ini membuktikan bahwa sepanjang tahun, termasuk pada momen krusial seperti Ramadan dan Idulfitri, pasokan daging sapi di Lampung berada dalam kondisi cukup dan terkendali,” katanya.

Populasi Ternak Naik, Bantuan Fokus ke Peternak Rakyat

Selain pasokan yang aman, Pemprov Lampung juga mencatat tren peningkatan populasi ternak sepanjang Tahun 2025. Data Disnakkeswan menunjukkan populasi sapi potong mencapai 905.322 ekor, kambing 1.974.609 ekor, ayam ras pedaging 94.814.874 ekor, dan ayam ras petelur 14.850.524 ekor.

Capaian tersebut mengukuhkan posisi Lampung sebagai provinsi dengan populasi sapi tertinggi di Pulau Sumatera, sekaligus mendukung agenda nasional swasembada protein hewani.

Di tengah keterbatasan anggaran, Pemprov Lampung tetap memprioritaskan bantuan yang berdampak langsung kepada peternak rakyat. Sepanjang Tahun 2025, pemerintah menyalurkan 640 ekor kambing Rambon kepada 32 kelompok tani di 10 kabupaten, 2.000 ekor ayam petelur kepada 20 kelompok tani di 8 kabupaten, serta 2.200 ekor itik lokal kepada 22 kelompok tani di 6 kabupaten. Seluruh bantuan tersebut dilengkapi pakan konsentrat.

Selain itu, Disnakkeswan juga menyalurkan 32 unit mesin tetas telur kepada 29 kelompok tani di 7 kabupaten. Melalui dukungan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI, Lampung turut menerima bantuan 37.200 ekor Ayam Merah Putih yang disalurkan kepada 62 kelompok tani di 7 kabupaten/kota, lengkap dengan pakan, kandang, obat-obatan, dan vitamin.

Efisiensi Anggaran, Kinerja Tetap Berprestasi

Menanggapi isu pemborosan anggaran, Lili menegaskan Disnakkeswan Provinsi Lampung menjalankan program secara efisien dan akuntabel sepanjang Tahun Anggaran 2025.

“Tidak ada rapat koordinasi di hotel, tidak ada studi banding. Seluruh rapat dilakukan di Aula Disnakkeswan atau secara daring, dengan perjalanan dinas yang sangat terbatas,” ujarnya.

Kebijakan efisiensi tersebut tidak mengurangi capaian kinerja. Pada Tahun 2025, Provinsi Lampung berhasil meraih peringkat kedua nasional capaian vaksinasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), dengan realisasi 379.791 dosis atau 99,8 persen dari total alokasi 380.550 dosis. Lampung juga mencatat realisasi anggaran operasional vaksinasi tercepat secara nasional di zona pemberantasan dan menerima penghargaan dari Kementerian Pertanian RI.

Jaga Harga, Tekan Biaya Pakan

Keberhasilan menjaga stabilitas harga daging sapi sepanjang Tahun 2025 menjadi salah satu indikator keberhasilan pengelolaan sektor peternakan Lampung. Namun, Pemprov Lampung juga menaruh perhatian pada keberlanjutan usaha peternak.

Saat ini, pemerintah tengah melakukan pemutakhiran data peternak sebagai calon penerima manfaat Cadangan Jagung Pemerintah (CJP) dalam Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Jagung. Program ini diharapkan mampu menekan biaya pakan, menjaga harga telur dan ayam di tingkat konsumen, sekaligus melindungi peternak rakyat dari gejolak harga.

Arah Kebijakan 2026

Memasuki Tahun 2026, Pemprov Lampung menegaskan arah kebijakan peternakan akan difokuskan pada penguatan sektor hulu, khususnya dukungan pakan, kesehatan hewan, dan pembibitan.

Selain melanjutkan Program SPHP Jagung, Pemprov Lampung juga akan memperkuat penyediaan pakan ternak unggul melalui inovasi rumput Pakchong varietas Tansa, yang telah ditetapkan secara nasional melalui Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia pada 2 Januari 2026.

“Pembangunan peternakan bukan sekadar angka statistik, tetapi menyangkut stabilitas sosial dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Lili.

Ia menambahkan, pembangunan sektor peternakan di Lampung terus dilakukan sesuai kewenangan dan regulasi, dengan mengedepankan sinergi bersama pemerintah kabupaten/kota. Sepanjang Tahun 2025, sektor peternakan Lampung mencatat pertumbuhan produksi ternak sebesar 5,85 persen dan peningkatan produksi olahan peternakan sebesar 3 persen.

“Komitmen kami jelas, Lampung tidak hanya kuat sebagai lumbung pangan nasional, tetapi juga kokoh secara sosial dan ekonomi bagi masyarakat peternak,” pungkasnya.(Rls)

Komentar