Penulis: Bambang Pujiatmoko
SEMUA berawal dari pesan WhatsApp di pertengahan Oktober. Bang Juwe (Juwendra Asdiansyah), meminta aku mendesain sampul untuk salah satu bukunya. Permintaan yang ternyata membuka perjalanan panjang tentang paradoks moral, spiritualitas, dan dialog antara manusia dan AI.
Setelah menerima salah satu puisi berjudul Pengadilan Orang Baik, dimulailah proses pergumulan batin. Desain ini lahir dari sebuah dialog panjang antara ide, emosi, dan teknologi. dengan satu gagasan utama, paradoks antara kebaikan dan kesalahan. “Aku ingin menghadirkan wajah manusia yang setengah yakin, setengah ragu,” ujar mesin AI. Dari sinilah muncul konsep visual tentang dualitas. Antara terang dan gelap, hangat dan dingin, dunia nyata dan batin.
Proses kreatifnya dimulai dengan dialog eksplorasi ide dengan mesin AI, sebelum dilukis menggunakan AI image generator. Dalam tahap awal, prompt disusun dengan cermat untuk menangkap atmosfer moral dan spiritual buku ini. AI bukan hanya alat teknis, tapi juga “mitra dialog” yang membantu mengekspresikan ketegangan batin antara dua kutub nilai.
Secara visual, desain ini menggunakan komposisi wajah manusia yang terbagi dua. Sisi kiri dalam nuansa kuning hangat, menggambarkan kebaikan, cahaya, dan ketulusan. Sisi kanan tenggelam dalam biru gelap dan kabut. Simbol refleksi, kesalahan, dan keheningan batin. Garis perbatasannya dibiarkan cair, menandakan bahwa batas antara benar dan salah tidak selalu tegas.
Kabut, siluet, dan gradasi warna yang saling menembus menjadi metafora visual tentang moralitas manusia. Semuanya dirancang untuk membangun nuansa meditatif. Seolah pembaca tidak sedang melihat potret seseorang, tetapi menatap wajahnya sendiri di antara dua dunia.
AI bukan sekadar alat di sini. Ia adalah cermin baru. Dingin, tanpa emosi, tapi jujur terhadap perintah yang kutulis. Aku berbicara pada mesin seolah berbicara pada diriku sendiri.
“Tunjukkan padaku wajah yang setengah yakin, setengah ragu,” kataku dalam hati. Dan mesin itu menjawab dengan bayangan.
Mendesain sampul buku ini adalah semacam meditasi visual. Aku belajar bahwa teknologi tidak menghapus ruh. Ia justru memperlihatkan refleksi terdalam dari niat kita. Di akhir proses, aku tidak lagi melihat hanya warna dan bentuk. Aku melihat pertanyaan yang terus memantul. Apakah aku sedang menggambar orang baik, atau orang yang sedang berusaha menjadi baik?
Bambang Pujiatmoko
Aktivis Sanitasi, Ketua Dewan Pembina YKWS, Spesialis Pengembangan Kapasitas Kelembagaan
NB: Buku “Pengadilan Orang Baik” adalah buku ke-5 Juwendra Asdiansyah yang segera terbit. Saat ini buku sudah bisa dipesan atau pre order. Pemesanan dapat dilakukan dengan klik link berikut: Link PO Buku Pengadilan Orang Baik







Komentar