oleh

GINA: BEDA CARA KITA MEMPERLAKUKAN PENCURI

Oleh Juwendra Asdiansyah

BEBERAPA hari terakhir viral video tentang Gina Dwi Sartika, seorang remaja putri di Lampung korban perundungan. Dalam video disebutkan, Gina berhenti sekolah setelah di-bully oleh teman-temannya di salah satu SMP negeri di Bandar Lampung. Menurut remaja yang kini berusia 16 tahun tersebut, dia diejek karena ibunya seorang pemulung.

Pada Rabu sore, 22/10/2025, saya bersama tiga senior Prof Admi Syarif, Bang Ferdi Gunsan, dan Mas Gino Vanolie, serta Mei (anak angkat Prof Admi) mengunjungi rumah keluarga Gina di sebuah perkampungan di belakang SMKN 8. Meskipun dekat dengan Kecamatan Kemiling, Kota Bandar Lampung, secara administratif rumah tersebut masuk wilayah Kabupaten Pesawaran.

Di sana kami bertemu dengan Gina, ibunya (Misna), adik perempuan Gina, dan adik bungsu Gina (laki-laki berusia 6 tahun). Mereka ditemani Diah, seorang tetangga dekat. Diah ini pula yang menuntun kami menuju lokasi yang hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Medannya lumayan sulit bagi kami para “sepuh” ini, terutama karena jalan setapak yang menurun curam dan licin seusai hujan.

Selain mendengarkan cerita lebih lengkap dari Gina dan ibunya mengenai apa yang sesungguhnya terjadi, termasuk kesulitan-kesulitan yang mereka alami, kami juga datang untuk meneruskan titipan donasi dari sejumlah orang baik. Niat semula dibelanjakan bahan-bahan pokok, karena hari kadung beranjak petang akhirnya donasi kami serahkan dalam bentuk uang tunai.

Sebelum kami, rupanya sudah datang beberapa pihak yang memberikan bantuan atau sebatas menjajaki, termasuk dari Pemkot Balam dan Pemprov Lampung. Saat azan magrib kami pamit pun muncul dua pemuda yang mengaku dari sebuah yayasan, sepertinya juga menawarkan bantuan. Alhamdulillah.

Menurut Misna, perwakilan pemprov memberi tawaran kepada Gina dan adik-adiknya untuk melanjutkan sekolah di sekolah rakyat. Hal ini terkonfirmasi kemudian dari pemberitaan di sejumlah media online.

Lewat tulisan ini saya ingin membagi sejumlah informasi yang kami dapat dua hari lalu—sebagian materinya sama dengan yang beredar di berbagai konten media. Saya disclaimer dulu, informasi ini hanya berasal dari keterangan Gina, ibunya, dan Diah, plus sedikit analisis untuk beberapa hal yang kurang jelas. Kami tidak mengonfirmasi ke pihak sekolah dan lainnya. Biarlah wartawan atau pihak berkompeten lainnya yang melakukan.

• Sejak kecil Gina tinggal bersama adik ibunya/bibinya.

• Gina disekolahkan seperti anak pada umumnya.

• Bibinya sudah lama menikah tapi belum memiliki anak.

• Seperti lazim dilakukan banyak orang di Indonesia, Gina diasuh sebagai “pancingan”. Dan syukurnya, si bibi pun akhirnya punya anak (tidak diketahui berapa orang).

• Sang bibi beberapa tahun lalu meninggal dunia.

• Tidak jelas betul apakah ditelantarkan atau dipulangkan oleh pamannya (suami bibinya), yang pasti Gina kemudian kembali tinggal bersama keluarganya.

• Gina ini 6 bersaudara: 4 laki-laki, 2 perempuan. Gina nomor 4. Dua adiknya: di bawahnya persis perempuan, dan bungsu laki-laki. Salah satu kakak lelakinya kini bekerja menjaga counter kebab dan tinggal di sana. Seorang lainnya mondok di sebuah pesantren di Kaliawi, Bandar Lampung.

• Orangtua Gina bercerai sekira tiga tahun lalu. Bapaknya, sekarang menetap di Medan.

• Keluarga Gina tidak punya rumah. Mereka pindah-pindah mengontrak. Selama beberapa lama mereka tinggal di sebuah rumah di sekitar Pasar Tamin, Kaliawi, yang biaya sewanya Rp600 ribu sebulan, belum termasuk listrik dan air. Karena merasa berat, mereka pindah ke rumah yang ditempati saat ini. Sewanya lebih murah, Rp300 ribu sebulan. Baru tiga bulan terakhir mereka tinggal di rumah berdinding bata merah ini.

• Ibu Gina ber-KTP Bandar Lampung dan sejak dulu tinggal dan mencari nafkah di Bandar Lampung.

• Ibu Gina menghidupi keluarganya dengan bekerja sebagai pemulung atau tukang rongsokan. Anak-anaknya sering ikut membantu. Bermodal karung, setiap hari mereka berjalan kaki menyusuri kawasan Kemiling dan sekitarnya untuk mengumpulkan kardus-kardus bekas. Kardus-kardus itu dibawa pulang, dirapikan, ditumpuk di pekarangan hingga ke dalam rumah. Beberapa hari sekali, datang pengepul membeli kardus-kardus tersebut.

• Sejak kembali tinggal bersama keluarganya, Gina sering ikut memulung. Saat sedang memulung bersama sang ibu itu lah, kemungkinan ada teman sekolahnya yang melihat.

• Di sekolah, SMPN 13, beberapa temannya mengejek: ibu kamu pemulung, jelek, bau, dan sebagainya.

• Gina akhirnya berhenti sekolah. Itu terjadi pada 2023. Jadi bukan baru-baru ini.

• Belum jelas betul apakah dia diberhentikan pihak sekolah atau mengundurkan diri. Saat bertemu kami, tidak muncul diksi “diberhentikan oleh sekolah”. Dalam video viral digambarkan peran sekolah yang disebut memilih memberhentikan satu siswa (Gina) karena dianggap menimbulkan “kegaduhan” daripada “mengorbankan” banyak siswa lainnya.

• Sama seperti dalam video yang viral, Gina mengaku mendapat perundungan dan tak tahan menghadapinya. Dia bahkan sempat depresi hingga mengiris-iris lengannya dengan benda tajam.

• Sejak berhenti sekolah Gina hanya ikut ibunya memulung. Syukurnya beberapa bulan ini dia ikut kejar paket B di sekitar Pasar Tani Kemiling. Itu setara kelas 3 SMP atau kelas 9.

• Dari cerita Gina dan keluarganya, saya menduga beberapa hari lalu ada wartawan atau konten kreator yang mendapati dia di jalan sedang memulung. Dihampiri, ditanya-tanya, kemudian didatangi rumahnya. Singkat cerita, jadilah konten video yang viral di dunia maya.

Sebelum pulang, kami menyampaikan kepada Gina dan ibunya, seandainya dalam beberapa bulan ke depan belum terwujud bantuan yang memadai/jelas untuk kelangsungan pendidikan Gina dan kakak-adiknya seperti dijanjikan pemerintah daerah dan sejumlah pihak, kami sebagai masyarakat siap mengupayakan solusi konkret: mulai dari mencarikan dan menyekolahkan, biaya pendidikan, hingga tempat tinggal bagi keluarga tersebut.

Selesai? Belum. Sampai hari ini, saya melihat pemberitaan soal Gina masih ramai, baik dalam bentuk tulisan maupun video-video pendek di media sosial. Yang riuh rendah justru komentar-komentar netizen. Seperti biasa, dengan cepat mereka terbelah. Banyak komentar yang membela Gina. Mereka menyayangkan terjadinya perundungan di lingkungan sekolah. Mereka menyalahkan pihak sekolah, kepala sekolah, dan siswa-siswa yang diduga terlibat merundung.

Namun ada pula yang menyatakan informasi yang beredar tentang Gina merupakan hoax semata. Pihak sekolah konon tidak memberhentikan. Gina sendiri lah yang mundur. Bahkan ada yang menyatakan Gina merupakan siswa yang nakal atau bermasalah (mencuri dan sebagainya).

Mana yang benar, saya tidak tahu. Untuk memastikan, perlu diuji, perlu diverifikasi. Dan itu bukan tugas saya.

Satu yang pasti, yang kami lihat dengan mata kepala sendiri: Gina dan keluarganya adalah keluarga miskin. Karena miskin, hidup mereka susah. Ya, susah untuk sekadar makan cukup, susah untuk tinggal di tempat yang baik, juga susah untuk sekolah dengan “tenang”—meski konon katanya sekolah gratis dan undang-undang mengamanatkan wajib belajar sembilan tahun.

Walaupun miskin, toh mereka tidak menyerah kepada takdir. Mereka tetap bekerja untuk menyambung hidup, setidaknya tidak mengemis.

Apakah Gina merupakan anak bermasalah? Saya tidak tahu. Saat bertemu dan berbincang, kasat mata dia tampak normal seperti anak seusianya pada umumnya.

Tapi katakanlah benar dia “bermasalah” seperti dinyatakan sejumlah netizen, apakah lantas karena itu dia boleh untuk di-bully? Jika benar bermasalah apakah menjadi sah dia kehilangan haknya untuk melanjutkan pendidikan? Apakah karena dia bermasalah, keluarganya yang miskin tidak pantas untuk dibantu? Apakah karena label bermasalah itu maka uluran tangan dari berbagai pihak menjadi sesuatu yang salah sasaran?

Seperti saya paparkan di atas, Gina tumbuh dalam keluarga yang hidupnya “tidak baik-baik saja”. Dia memang bermasalah. Hidupnya sarat masalah. Sejak kecil “terpisah” dari orangtua dan kakak-adiknya, bapak ibunya bercerai, miskin, tidak punya rumah, makan susah, sekolah sulit. Selain nasi, hinaan dan ejekan, mungkin menjadi makanan mereka sehari-hari. Kurang banyak apa masalahnya?

Jadi misalkan benar dia bermasalah—nakal, mencuri dan lainnya—mestinya itu merupakan dampak ikutan dari sekumpulan beban yang sudah lebih dulu merubungi hidupnya. Saya tidak sedang menormalisasi kenakalan. Tapi lihatlah segala sesuatu secara komprehensif. Tidak parsial. Jangan melihat sepotong, lalu cepat menghakimi. Merutuk api yang membesar, padahal angin yang membuatnya berkobar.

Tidak ada orang mau hidup miskin. Tiada yang mau hidup sesak dengan belitan banyak beban seperti Gina dan keluarganya. Tapi manusia tak kuasa memilih takdir. Manusia hanya diperintahkan untuk berikhtiar dengan sungguh-sungguh, sementara takdir hak prerogatif Tuhan. Maka janganlah manusia mengadili manusia lainnya hanya karena takdir yang dinilai buruk dalam kacamatanya.

Mungkin saja Gina nakal. Tapi apa karena dia nakal orang boleh merundungnya lewat komentar sadis di media sosial dengan seenak jidat? Apa mereka sadar, jari-jari mereka yang dengan brutal menghujat tidak lebih mulia dari “nakalnya” seorang remaja sebab tempaan hidup yang teramat berat.

Ada banyak koruptor di sekitar kita: mereka yang divonis bersalah di pengadilan lalu menjalani hukuman penjara karena terbukti menilap uang rakyat. Tapi berapa banyak dari mereka yang benar-benar sulit kembali ke masyarakat?

Lepas dari hukuman, banyak dari mereka yang menjalani hidup dengan normal: mungkin tanpa cacian, mungkin tanpa bully-an. Mereka bekerja dan meneruskan hidup dengan berbagai aktivitas yang wajar: bernyanyi dari panggung ke panggung, jadi dosen, pengacara, terjun politik lagi, bahkan mendekap jabatan lagi. Istri-istri mereka beberapa di antaranya bahkan mencalonkan diri sebagai kepala daerah, ikut pemilu, dan tak sedikit yang menang berkat suara dari rakyat yang uangnya sempat mereka curi.

Demikianlah masyarakat memperlakukan koruptor, sang pembegal uang negara yang sering dimaafkan dengan apologi: dia sedang sial saja. Lantas mengapa untuk seorang Gina, bocah miskin yang konon “cuma” mencuri uang kas di sekolahnya, itu pun belum tentu benar, begitu sulit maaf diberikan, begitu gampang caci dijatuhkan? *

Juwendra Asdiansyah | Penulis, pelukis, public speaking coach, tinggal di Bandar Lampung

Komentar