oleh

DITOLAK SRI MULYANI

 

Oleh Juwendra Asdiansyah 

WALAUPUN pasti tidak semua, saya haqul yakin banyak laki-laki punya pengalaman ditolak perempuan. Saya termasuk di antara kelompok itu. Asal klen tahu, setelah hampir 30 tahun, ini kali pertama kisah pahit ini saya ungkap ke publik.

Tapi ini sih biasa ya. Apa istimewanya cerita laki-laki ditolak perempuan, kecuali bagi laki-laki itu sendiri. Yang istimewa, dan mungkin bakal bikin klen tekanjat jika saya sebut nama perempuan tersebut.

Klen boleh tak percaya, tapi sesuai judul tulisan ini, perempuan itu memang bernama Sri Mulyani. Lengkapnya Sri Mulyani Indrawati. Yak betul, dia perempuan yang pernah menjabat sebagai direktur pelaksana Bank Dunia dan menteri keuangan untuk tiga presiden RI.

Jika Anda mengira saya sedang ngelindur, atau sengaja bikin judul click bait supaya tulisan ini rame dibaca, silakan skip. Tapi jika masih ada sedikit prasangka baik, plus naluri kepo yang meronta-ronta, ada baiknya lanjutkan membaca.

Sungguh saya tidak sedang berbohong. Selain tidak ada untungnya, gila aja saya berbohong untuk urusan yang menyangkut salah satu sosok besar di negeri ini. Kalau tidak nekad, ya bodoh namanya.

Baik, saya lanjutkan ya. Momen itu terjadi pada awal 1998, saya lupa persisnya. Saya dan Sri (jiaahh Sri), masa itu (hingga sekarang sih), bagai Bumi dan Neptunus.

Sri saat itu sudah ngantor di Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPEM FEUI). Jabatannya wakil kepala. Dia baru menjabat kepala mulai Juni 1998. Pada 1990-an itu, dia sudah dikenal luas sebagai ekonom cerdas yang wajahnya sering wara wiri di televisi dan halaman koran. Dia teknokrat dengan pemikiran bernas yang ketika bicara selalu enak disimak hingga tuntas.

Sementara saya, masih mahasiswa di Universitas Lampung. Aktivis dan pemimpin umum dua lembaga pers kampus: surat kabar mahasiswa Teknokra (tingkat universitas) dan majalah mahasiswa PILAR Ekonomi (Fakultas Ekonomi); terlibat aktif dalam gerakan mahasiswa 1998 di Lampung; pernah menjabat juru bicara Posko Reformasi Unila 1998-1999.

Persamaan kami cuma satu: sama-sama alumnus SMPN 2 Tanjungkarang, walau berbeda angkatan jauh.

Beberapa bulan jelang runtuhnya Orde Baru itu saya menghubunginya. Lewat telepon, melalui seorang staf LPEM FEUI, saya dijanjikan untuk bertemu Sri di kantor LPEM—saya pun lupa entah di kampus Depok atau Salemba.

Berangkat dari Lampung bersama Ahmad Zamronie, teman satu angkatan di FE Unila, pada hari yang dijadwalkan sebelumnya oleh staf tersebut, kami tiba di kantor LPEM.

“Selamat siang, Pak. Mau ketemu Ibu Sri Mulyani,” kata saya kepada seorang pria di ruang depan.

“Dari mana, Mas? Apa sudah bikin janji?” sahutnya.

“Sudah, Pak. Saya Juwendra, mahasiswa dari Lampung.”

Ohh kalau gitu tunggu sebentar ya.”

Si bapak masuk. Dia tidak eksplisit menyebut Sri ada di tempat, tapi karena gelagatnya yang welcome dan langsung masuk, saya pastikan Sri ada. Alhamdulillah. Tak sia-sia perjalanan jauh-jauh dari Lampung menyeberangi lautan demi bertemu sang perempuan hebat.

Sejurus kemudian, si bapak keluar. Hati saya berdebar. Pikir saya, pucuk dicinta Sri pun tiba. Tapi, alih-alih berita gembira, ucapan si bapak malah bikin saya lesu, “Maaf, Mas. Bu Sri tidak bersedia ditemui.”

Saya tentu terkejut. “Kenapa, Pak, kok, nggak bisa? Saya kan sudah buat janji sebelumnya. Minta tolong, Pak. Sepuluh menit saja tidak apa-apa. Saya sudah jauh-jauh dari Lampung ini.”

Duuh, tunggu ya, saya tanya lagi,” si bapak kembali masuk.

Kali ini percakapan di dalam terdengar sampai ke tempat kami menunggu. Saya memasang telinga lekat-lekat. Hati berdebar, harap-harap cemas.

“Saya bilang nggak bisa. Saya tidak mau. Saya sedang sibuk!” Ini suara Sri. Khas sekali. Volumenya cukup keras, nadanya sedikit tinggi.

Si bapak keluar dengan ekspresi datar. “Mas, nggak bisa. Ibu sibuk bener. Maaf ya, mungkin lain kali.”

Kali ini saya benar-benar lemas. Harapan bisa bertemu Sri dan ngobrol dengannya kandas. Saya tidak mungkin memaksa. Dia memang tidak mau ditemui, saya bisa apa.

Dengan berat saya tinggalkan kantor LPEM FEUI. Selama bertahun-tahun itu menjadi momen yang tak terlupakan. Momen ditolak Sri Mulyani.

Kecewa tentu saja. Tapi saya laki-laki. Saya harus tegar.

Dan, syukurnya, Tuhan Maha Baik. Kesempatan beberapa hari di ibu kota tersebut, tidak melulu berakhir dengan cerita kegagalan. Tidak semua menolak. Hanya satu, ya Sri Mulyani itu lah. Selebihnya menerima, bisa berjumpa, bahkan ngobrol hingga berjam-jam.

Bersama Zamronie saya bertemu dengan Prof Dr Dorodjatun Kuntjoro Djakti, dekan FE UI. Kami disambut dengan hangat, berbincang panjang di ruangannya yang keren, dan pulang membawa oleh-oleh dua buah buku pemberiannya.

Beberapa bulan setelah itu, Prof Dorodjatun diangkat sebagai duta besar RI untuk Amerika Serikat dan kemudian beberapa negara lainnya. Pada Agustus 2001, dia diangkat Presiden Megawati Soekarnoputri sebagai menteri koordinator perekonomian RI.

Masih di FE UI, kami juga bertemu dengan tokoh yang tak kalah hebat: Faisal Hasan Basri Batubara, atau lebih dikenal dengan Faisal Basri saja. Saat itu, dia sudah sangat populer sebagai ekonom yang cerdas, kritis, dan berani.

“Halo, saya Faisal. Maaf ya nunggu. Sudah dari tadi ya,” ujarnya dengan ramah, menyapa lebih dulu kami yang menunggunya di taman FE UI nan sejuk.

Klen bayangkan, tokoh sehebat dia, ahli ekonomi-dosen terkenal, ketua jurusan Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan FE UI, begitu bersahaja kepada kami dua mahasiswa kucel dari kampung.

Siang itu Faisal mengenakan kemeja warna biru muda, dimasukkan ke celana, lengannya digulung ¾, celana bahan, tas selempang warna cokelat, dan sandal gunung—setelan yang menjadi ciri khasnya selama bertahun-tahun. Dari taman, kami diajaknya ke ruangan ketua jurusan yang tidak besar dan sederhana. Ada sekira satu jam kami berbincang, dan seingat saya tak ada satu bagian pun dari ucapannya yang tidak “berdaging”.

Ada 2-3 sosok hebat lainnya yang berhasil kami temui. Khusus Pak Dorodjatun dan Bang Faisal, hasil “obrolan” dengan keduanya kami sajikan dalam majalah PILAR Ekonomi edisi III/III-1/1998.

Prof Dorodjatun banyak bicara tentang prospek perekonomian Indonesia plus kesiapan menghadapi era perdagangan bebas. Sementara Bang Faisal menjelaskan panjang lebar tentang kemitraan, pemberdayaan usaha kecil, dan sedikit tentang praktik korupsi di Indonesia.

Pak Dorodjatun alhamdulillah berumur panjang. Di Wikipedia tertulis, saat ini, pria kelahiran 25 November 1939, peraih gelar doktor bidang ilmu politik dari Universitas California, Berkeley, AS (sehingga disebut sebagai salah satu Mafia Berkeley—julukan yang diberikan kepada sekelompok ahli ekonomi penentu arah kebijakan ekonomi Indonesia pada masa pemerintahan Presiden Suharto), masih menjabat komisaris utama Bank BTPN dan sejumlah perusahaan besar lain.

Bang Faisal Basri wafat setahun lalu, 5 September 2024, dalam usia 64 tahun. Selain ekonom terkemuka, dia dikenal sebagai salah satu pendiri Partai Amanat Nasional (PAN) dan menjadi sekretaris jenderal partai besutan Amien Rais itu selama tiga tahun. Meski pernah menduduki beberapa jabatan di pemerintahan atau lembaga negara, citranya justru lebih kuat sebagai “oposisi”, tokoh di luar sistem yang kritis, berani, dan konsisten “berteriak” untuk hal-hal yang dianggapnya tidak tepat dalam penyelenggaraan negara ini.

Balik ke Sri Mulyani, klen tentu sudah tahu sepak terjang wanita kelahiran Bandar Lampung 26 Agustus 1962 ini. Selain berbagai jabatan mentereng dalam dan luar negeri, dia pernah dinobatkan sebagai Menteri Keuangan Terbaik Asia oleh Emerging Markets pada momen Sidang Tahunan Bank Dunia dan IMF di Singapura tahun 2006. Dia juga didapuk sebagai Wanita Paling Berpengaruh ke-23 di Dunia versi majalah Forbes (2008); serta Wanita Paling Berpengaruh ke-2 di Indonesia versi majalah Globe Asia (2007).

Intinya, Sri Mulyani merupakan salah satu perempuan (ekonom) hebat yang pernah dimiliki Indonesia dengan begitu banyak prestasi dan kelebihan. Dan kekurangannya mungkin tidak banyak, salah satunya, balik ke awal tulisan: pernah menolak saya (untuk wawancara) pada 1998. *

Kota Baru, 25 September 2025

Juwendra Asdiansyah

• Penulis, pelukis, public speaking coach

Komentar

Rekomendasi