Oleh Juwendra Asdiansyah
BOLEH juga Menteri Keuangan anyar, Purbaya Yudhi Sadewa (PYS), ini. Dari lima menteri dan wakil menteri yang dilantik Presiden Prabowo Subianto pada Senin (8/9/2025), relatif cuma dia yang membetot perhatian. Bener, bukan mau lebay, memang cuma dia.
Bahkan hingga empat-lima hari setelah pelantikannya, PYS masih jadi perbincangan. Potongan-potongan video rapatnya di DPR, door stop dengan awak media, juga video-video sebelum suksesor Sri Mulyani Indrawati (SMI) ini menjadi menteri, FYP, wara wiri di Instagram, TikTok, Facebook dan berbagai platform media sosial lainnya.
Uniknya PYS ini, dia tampil bagai lakon dengan dua wajah: antagonis dan protagonis sekaligus. Setelah hari pertama bikin jengkel banyak orang lantaran pernyataan-pernyataannya yang terkesan jemawa, ngotak (tentang kapasitasnya), dan meremehkan (tentang tiktokers dan tuntutan 17+8 dari elemen masyarakat), dua hari kemudian dia rebound berkat tampil gemilang dalam rapat dengan Komisi XI DPR RI.
Dia membalikkan pendapat orang yang semula under-estimate, tak yakin dan sebal, berganti menjadi optimistis dan penuh harapan. Tadinya dicibir, diolok, bahkan dihujat, kini eks ketua dewan komisaris Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu banjir puja-puji dan dukungan. Di medsos, banyak netizen berkomentar, “Saya mulai suka Bapak ini”, “Dia layak untuk diberi kesempatan”, atau, “Kukira cupu, ternyata suhu”.
Faktanya, dalam hal komunikasi, harus saya akui, skill public speaking PYS ternyata cukup oke. Daftar pernyataan “blunder-nya” sepanjang hari pertama dipanggil Pak Menteri yang semula terasa ngeselin, belakangan dinormalisasi sebagai: style-nya memang begitu; ngomongnya memang ceplas ceplos; bahasanya mudah dipahami; tidak banyak basi-basi; orangnya kelihatan asyik; dan lain sebagainya.
Ucapannya terdahulu, “Mungkin saya kelihatannya cukup jago,” sebagai jawaban atas pertanyaan wartawan soal kenapa dia yang didapuk Presiden Prabowo sebagai Menteri Keuangan, juga mulai meraih permakluman. Demi menyimak penjelasan-penjelasan PYS soal kondisi fiskal dan moneter, apa masalahnya selama ini, dan apa kebijakan/solusi darinya untuk mengatasi, orang kini berujar, “Gelagatnya memang beneran jago Bapak ini.”
***
Sebagai ahlul hikmah wal semringah, tentu saja ada sejumlah pelajaran yang bisa kita petik dari pertunjukan roller coaster alias plot twist ala Menteri PYS. Kembali dalam kacamata komunikasi, menjadi terang bahwa penting bagi seorang tokoh atau pejabat publik untuk memiliki skill public speaking yang mumpuni.
Tapi jangan salah paham. Seperti telah saya sampaikan sebelumnya dalam tulisan “Blunder Purbaya”, yang saya maksud mumpuni tidak lantas seorang tokoh/pejabat publik harus menjadi orator ulung macam Bung Karno, speaker flamboyan ala Barrack Obama atau John F Kennedy, atau motivator andal dengan sederet quotes sarat hikmah seperti Mario Teguh. Bisa bicara dengan jelas, artikulatif, mampu menyampaikan gagasan, menerangkan pokok-pokok pikiran, syukur-syukur argumentatif, plus penuh empati dan punya sensitivitas sehingga cakap dalam memilih diksi, juga tahu mana yang patut disampaikan, mana yang tidak, itu saja sudah cukup banget.
Tambahannya, penting pula bagi seorang tokoh/pejabat publik untuk memiliki wawasan yang luas, mengetahui banyak hal, terutama menyangkut wilayah, masyarakat, kultur, atau organisasi yang dia pimpin.
Di luar semuanya, patut disadari bahwa dengan status mewah tersebut, sosok yang bersangkutan sedang berada di atas “panggung”, posisi yang lebih tinggi daripada orang kebanyakan. Dia menjadi mudah terlihat. Gerak geriknya jadi perbincangan. Laku sikapnya dibicarakan. Tutur katanya menjadi sorotan.
Itu makanya, senantiasa perlu eling lan waspada. Sebisanya jangan sampai selip. Biasakan berhati-hati saat bicara, terutama di hadapan orang banyak. Berhati-hati saja ya, jangan terlalu berhati-hati. Sikap kehati-hatian lebih dekat ke mawas diri, terencana, terkalkulasi, dan tidak jemawa. Sedangkan terlalu berhati-hati akan membuat jadi serba takut: takut salah, takut blunder, takut jelek dan lainnya. Ujungnya keluar jurus andalan: diam itu emas. Salah juga.
Paham ya. Nah, karena saya baik hati dan tidak songong, berikut saya kasih bonus 16 tips bicara di depan publik bagi tokoh atau pejabat publik biar semakin cespleng:
1. Upayakan bicara tentang hal yang dipahami, dikuasai. Lebih baik sedikit tapi paham, daripada panjang lebar tapi “kosong”.
2. Jangan tergoda bicara hal yang tidak diketahui atau tidak dipahami. Serius, ini rawan blunder.
3. Sisipkan beberapa detail. Ini akan membuat Anda tampak cerdas dan menguasai persoalan.
4. Jangan malas minta masukan staf atau tim, baik dalam hal materi, penyampaian, atau hal-hal lain yang relevan.
5. Ketahui siapa audiens. Gunakan bahasa/diksi yang dekat dengan audiens.
6. Persiapkan segala sesuatunya dengan saksama, termasuk teks, data-data, atau bahan-bahan yang ingin disampaikan.
7. Meski hanya beberapa menit, latihan sebelum tampil akan sangat berguna.
8. Jangan pelit senyum (tapi bukan cengengesan loh ya). Banyak senyum akan memberi kesan sebagai sosok yang ramah, hangat, friendly, tidak arogan, dekat dengan rakyat, dan sebagainya.
9. Boleh, bahkan bagus untuk melempar satu-dua jokes. Namun, hindari membahas fisik orang, kekurangan orang, hal berbau pornografi dan pornoaksi.
10. Hati-hati betul saat masuk wilayah SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan). Jika tidak paham benar, mendingan cari topik lain.
11. Tak mengapa menyampaikan kelebihan/prestasi, tapi fokuslah kepada fakta, dan jangan paparan kelebihan/prestasi itu mendominasi durasi.
12. Hindari diksi, cara bicara, atau gesture yang menyiratkan kesombongan atau sikap jemawa. Orang Indonesia umumnya tidak suka sosok yang ngotak atau sombong, meskipun kinerjanya bagus.
13. Jaga emosi. Jangan mudah terpancing jika ada orang atau situasi yang terasa menyenggol emosi.
14. Jika terpaksa harus marah, boleh saja sesekali, jangan sering-sering. Marah sesekali ekspresi ketegasan. Marah keseringan cenderung dan terlihat berangasan bin arogan. Boleh marah untuk hal yang substansial dan secara common sense dianggap patut. Misalnya marah karena ada pejabat yang korupsi atau nyusahin rakyat.
15. Perhatikan durasi. Seorang dengan kaliber tokoh kadang lupa waktu ketika bicara. Audiens yang tampak diam ketika Anda bicara belum tentu karena mereka terpukau. Bisa saja mereka bosan, suntuk mendengar Anda ngoceh berpanjang-panjang padahal tidak menarik sama sekali. Mereka diam dan seolah menyimak karena bagi mereka itu satu-satunya pilihan yang aman sebagai bawahan, staf, anak buah, atau rakyat ketika pemimpinnya sedang bicara. Bahkan kalaupun Anda seorang pembicara yang piawai, durasi yang terlalu panjang tetap tidak direkomendasikan.
16. Terakhir, longgarkan protokoler. Untuk masa sekarang, protokoler yang kelewat ketat umumnya tidak disukai publik, juga membuat jarak dengan audiens. Memang tidak berhubungan langsung dengan performa bicara di atas panggung, tapi hal ini bisa merusak mood audiens. Dan jika mood sudah bubar, jangan berharap omongan Anda yang sebenarnya penuh “daging” benar-benar masuk ke telinga mereka. *
Kota Baru, 13 September 2025
• Penulis, public speaking coach, moderator 35 debat pilkada di Provinsi Lampung







Komentar