oleh

Wali Murid hingga Pedagang Harap Demo di DPRD Lampung Esok Berjalan Damai

VoxLampung, Bandar Lampung – Menjelang aksi demonstrasi di depan Kantor DPRD Lampung pada Senin, 1 September 2025, masyarakat berharap kegiatan berlangsung aman dan tertib. Kekhawatiran terutama datang dari orang tua murid yang sekolah anaknya berada di sekitar jalur protokol lokasi aksi.

Deka Agustina, wali murid SDN 2 Rawa Laut, mengaku keresahan tersebut dirasakan banyak orang tua lain melalui grup WhatsApp sekolah.

“Kami khawatir ricuh seperti di kota lain, karena sekolah anak saya dekat jalur protokol yang bakal dilalui massa aksi,” ujarnya, Minggu, 31 Agustus 2025.

Ia menambahkan, mayoritas orang tua berharap pihak sekolah meliburkan kegiatan belajar tatap muka. Jika tidak, sebagian memilih memberikan izin anaknya untuk belajar dari rumah.

“Kami belajar dari pengalaman di kota lain, di mana demo berujung anarkis. Jadi lebih baik anak belajar di rumah saja,” katanya.

Harapan serupa disampaikan Salim, pedagang di sekitar DPRD Lampung. Ia khawatir kericuhan justru merugikan masyarakat kecil yang mencari nafkah di lokasi sekitar.

“Kami berharap tidak ada kekacauan. Kalau ribut, dagangan kami juga pasti sepi,” ungkapnya.

Ismadi, pengemudi ojek daring, menilai aksi damai akan menjaga keamanan sekaligus memastikan aktivitas masyarakat tetap normal.

“Kalau ricuh, jalanan pasti macet, orderan kami terganggu. Jadi semoga massa aksi bisa tertib dan tidak merugikan orang lain,” tuturnya.

Hal senada dikatakan pedagang bakso keliling, Budianto. Ia mengatakan “Demo boleh saja, itu hak rakyat. Tapi harapan kami jangan sampai rusuh. Kalau sampai anarkis, yang rugi tetap kami juga. Pembeli takut datang ke pasar, dagangan tidak laku.”

Budianto, pedagang bakso keliling di sekitar kompleks kantor DPRD Lampung. | ist

Ia mengaku memahami keresahan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah. Namun, ia menekankan agar aksi tetap fokus pada tuntutan dan tidak merusak fasilitas umum. “Kalau fasilitas rusak, dampaknya kembali ke rakyat kecil,” tambahnya.

Keresahan lainnya disampaikan Sugiyanti, pedagang warung soto di depan Kantor Kejati Lampung. Ia mengaku tetap akan berjualan meskipun ada aksi.
“Rezeki harus dicari, tidak bisa menunggu. Semoga tidak ada keributan. Yang kami butuhkan sebenarnya perhatian pemerintah pada perekonomian rakyat kecil seperti kami,” ujarnya.

Sugiyanti menilai, jika kota kacau, pembeli enggan keluar rumah, jalan ditutup, dan distribusi barang terhambat. “Kalau ribut, semua nanti kena dampak. Saya berdoa semoga demonya tetap damai. Karena bagi kami, satu hari tanpa jual beli berarti satu hari tanpa penghasilan,” pungkasnya.(*)

Komentar