VoxLampung, Kotaagung – Kabupaten Tanggamus merupakan kabupaten yang mendapat perhatian khusus pencegahan stunting di Provinsi Lampung. Prevalensi stunting di kabupaten Tanggamus terbilang masih tinggi. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi/SSGI 2022, Kabupaten Tanggamus masih terdapat sebanyak 20,4% kasus resiko stunting.
PAUD sebagai salah satu dari 5 paket layanan pencegahan stunting, memiliki peran didalam upaya pencegahan stuning. Terdapat setidaknya 500 PAUD di kabupaten Tanggamus, yang mana siswa PAUD adalah anak dengan usia pertumbuhan.
Pencegahan stunting melalui sekolah dirasa penting untuk membentuk karakter siswa sehat. Pola pengajaran yang diterapkan dirasa perlu sebuah metode yang edukatif serta menyenangkan, mengingat objek dari sasaran pencegahan stunting di PAUD adalah anak-anak usia dini. Akan tetapi, hal ini perlu dibarengi dengan kemampuan dan kompetensi dari guru untuk menyampaikan misi tersebut.
Danone Indonesia bekerjasama dengan Yayasan Konservasi Way Seputih (YKWS) mengadakan Training of Trainer kepada 52 tenaga pendidik PAUD perwakilan dari IGTKI se-Kabupaten Tanggamus. Training of Tainer merupakan solusi untuk meningkatkan kompetensi trainer sehingga menjadi trainer yang handal, menarik, dan efektif.
Termasuk bagi guru PAUD untuk meningkatkan kemampuannya dalam upaya mengedukasi siswa dalam rangka pencegahan stunting di sekolah.
Pelatihan ini mencakup pola pengajaran, pemahaman gizi seimbang dengan konsep isi piringku, serta perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Kegiatan ini dilaksanakan di Gedung PKK Kabupaten Tanggamus pada tanggal 8 Agustus 2023.
Dihadiri oleh perwakilan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Tanggamus, Dinas Kesehatan Kabupaten Tanggamus, dan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kabupaten Tanggamus sebagai pemateri.
Kegiatan ini bertujuan agar setiap PAUD di Kabupaten Tanggamus memiliki trainer yang mampu menjadi penyampai pesan kepada guru di PAUD-nya sehingga dapat berjalannya misi pencegahan stunting di sekolah.
Apabila setiap PAUD di Kabupaten Tanggamus telah menjalankan pola pengajaran untuk pencegahan stunting maka diharap dapat berimplementasi pada penurunan angka stunting yang ada di Kabupaten Tanggamus.
Zainal Yulianto, Kasi PAUD Dinas Pendidikan Kabupaten Tanggamus menyampaikan, untuk menghindari anak anak dengan makan mi instan dan ciki, karena penyumbang angka stunting juga dari situ.
“Garam yang ada di ciki dan mie instan itu lebih tinggi dari garam yang ada di dapur. Harapannya dalam kegiatan TOT ini guru PAUD memiliki pengetahuan tentang stunting, penyebab stunting, dan cara mencegahnya. Salah satunya seperti mewajibkan bekal sehat di sekolah PAUD,” kata dia.
Evi Eka Ariestya, S.Gz, pelaksana Program Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Tanggamus memaparkan bahwa, pencegahan stunting salah satunya adalah menstimulasi anak dengan gizi seimbang.
“Karena kesehatan kita dimulai dari apa yang kita makan. Sebaiknya kita tidak mengenalkan anak anak dengan jajanan yang rasanya gurih. Apabila anak sudah mengenal rasa asin yang gurih dari ciki, maka anak akan kurang tertarik dengan sayur,” katanya.
Evi menyarankan agar orangtua mempunyai banyak inovasi dalam menyajikan makanan, agar anak-anak tertarik dan tidak bosan dengan menu yang disajikan.
“Kita juga tidak boleh memaksa anak untuk makan-makanan yang tidak disukai, tetapi paling tidak adalah mengurangi dengan menyajikan makanan yang bervariasi,” ujarnya.
Sementara itu, Asiawati ketua IBI Kabupaten Tanggamus menyampaikan, peran bidan dalam skrining stunting di PAUD adalah dengan mengukur tinggi badan berat badan, lingkar kepala, dan tumbuh kembang siswa PAUD melalui kegiatan DATA (deteksi dini tumbuh kembang) .
Stunting dapat dicegah dengan stimulasi, deteksi, dan intervensi dini tumbuh kembang anak. Kegiatan ini dilakukan setiap bulan atau setiap 6 bulan sekali di sekolah PAUD. Guru PAUD juga mempunyai peran dalam mencegah terjadinya stunting pada anak. Seperti pengukuran tinggi badan, bedat badan, lingkar lengan dan kepala juga bisa dilakukan oleh guru PAUD yang sudah diberi pengetahuan oleh Bidan bagaimana SOP pengukuran tersebut.
“Intervensi stunting dimulai dari 1000 HPK, mulai dari terlambat haid sampai anak umur 2 tahun. Pemantauan tumbuh kembang anak juga harus diperhatikan, karena anak harus melewati tiap tahapan tumbuh kembang,” imbuhnya.
Dalam kegiatan ini guru PAUD melakukan praktik membuat RPPH yang nantinya akan dilakukan di sekolah masing masing sebagai salah satu upaya layanan pencegahan stunting di PAUD.(Rls)






Komentar