oleh

Warga Lampung Tolak Kenaikan Biaya Haji Rp69 Juta, Tokoh Agama: Tak Semua Calon Haji Orang Kaya

VoxLampung.com, Bandar Lampung – Kementerian Agama (Kemenag) berencana  Biaya Penyelenggaraan Haji (BPIH) dan Biaya Perjalanan Haji (Bipih) atau biaya haji sebesar Rp69 juta, dari sebelumnya yang Rp39 juta. Wacana ini lantas memantik respons beragam dari masyarakat.

Mayoritas masyarakat merasa keberatan dengan kenaikan biaya yang nyaris 100% itu. Masyarakat meminta Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menolak wacana ini.

Tokoh agama Lampung KH Ismail Zulkarnain, mengaku kecewa dengan langkah pemerintah yang dipastikan bakal memberatkan jutaan calon haji Indonesia. Calon jemaah haji yang sebelumnya telah membayar Rp39 juta, harus pontang-panting mencari tambahan untuk melunasi ongkos haji yang hampir Rp70 juta.

“Yang naik haji ini kan tidak semuanya orang kaya. Ada yang harus menabung puluhan tahun, ada yang hasil patungan anak-anaknya, ada yang jual tanah. Lalu, tiba-tiba ada kenaikan 100%, itu luar biasa. Bayangkan coba bagaimana sedihnya mereka, hancurnya hati mereka kalau sampai tidak jadi berangkat gara-gara enggak bisa melunasi,” kata Ismail Zulkarnain saat ditemui wartawan, Rabu, 25/1/2023.

“Naik haji itu bukan karena orang kaya, tapi panggilan iman. Alangkah banyak orang kaya tidak naik haji karena tidak ada panggilan iman,” imbuh Ismail.

Pimpinan Pondok Pesantren Yatim Piatu Riyadhus Sholihin Bandar Lampung itu mengaku sedih dan kasian terhadap nasib calon jamaah haji yang memiliki dana terbatas, namun harus menghadapi kenaikan biaya yang sangat besar.

“Secara pribadi, saya mewakili beberapa keluarga calon jemaah haji, sangat-sangat tidak setuju dengan rencana itu. Kalau seandainya subsidi itu dicabut oleh pemerintah, jangan secara frontal. Cobalah seperti pemerintah menaikan harga BBM. Perlahan-lahan, sehingga tidak terlalu memberatkan,” ungkap Abah Ismail.

Tak hanya itu, Ismail juga menilai rencana kenaikan biaya haji itu aneh.
Sebab, Pemerintah Arab Saudi justru menurunkan biaya ibadah sebesar 30%.

“Arab Saudi kan mengurangi biaya haji 30%, kenapa negara kita naikin 100%,” ujar Ismail.

Menurut Ismail, kebijakan kenaikan biaya tersebut berpotensi membuat banyak calon jamaah haji mundur lantaran tidak sanggup membayar biaya tambahan.

“Jemaah bakal berbondong-bondong mundur gak sanggup bayar,” kata dia.

Dia memperingatkan jangan sampai masyarakat harus meminjam uang yang bersifat riba demi mencukupi dana berangkat haji. “Jadi gak enak kan, uang riba untuk berangkat haji 2023 nanti,” kata dia.

Untuk itu, Ismail mendesak agar DPR menolak rencana kenaikan ibadah haji tersebut. Kemenag juga sepatutnya mengkaji ulang kebijakan tersebut karena sangat menyulitkan masyarakat yang menabung puluhan tahun.

“Saya minta kepada Allah agar DPR yang membidangi ini menolak usulan kenaikan biaya yang berlipat-lipat ini. Itu memang butuh keajaiban mengetuk Kementerian Agama agar tidak berlebihan karena kenaikan biaya ini spektakuler,” katanya.

“Kalaupun mau ada kenaikan, jangan besar-besar amat lah,” tambah Ketua Forum Komunikasi Pondok Pesantren Bandar Lampung itu.

Sementara itu, calon jemaah haji warga Bandar Lampung, Kiagus Muhammad Rudi (76) dan istrinya, Maisaroh (74) turut terkejut dan kebingungan dengan adanya rencana kenaikan biaya haji tersebut.

Maisaroh, calon jemaah haji Bandar Lampung. | VoxLampung

Suami istri tersebut sejatinya berangkat haji pada tahun 2021. Namun, tertunda karena Pandemi Covid-19. Sehingga, mereka dijadwalkan berangkat haji pada 2024 mendatang.

“Sangat berat dengan penambahan biayanya. Apalagi kan bapaknya sudah pensiun. Berat banget,” ucap Maisaroh saat ditemui di kediamannya, di Jalan dr Susilo, Gang Kenanga 2, Telukbetung Utara, Bandar Lampung, Rabu, 25/1/2023.

Maisaroh dan Kiagus mengaku belum mengetahui pasti bagaimana cara mendapat tambahan biaya dalam waktu satu tahun kedepan. Sebab, dana yang sebelumnya telah disetor merupakan hasil patungan lima anaknya. Maka dari itu, mereka tak ingin terlalu memberatkan anak-anaknya lagi.

“Belum tahu ini nanti bagaimana cari tambahannya. Masih dipikirkan,” ungkap Maisaroh.*

Komentar