Voxlampung.com, Jakarta – Alat pendeteksi Covid-19 bernama GeNose C19 hari ini mulai bisa digunakan di empat stasiun Kereta Api (KA) di Indonesia. Empat stasiun dimaksud yaitu Stasiun Pasar Senen, Stasiun Gambir, Stasiun Yogyakarta, dan Stasiun Balapan Solo.
Alat tersebut diklaim dapat mendeteksi virus Corona dengan cara mudah dan biaya yang murah. GeNose C19 sendiri merupakan singkatan dari Gadjah Mada Electronic Nose. Alat yang dikembangkan oleh Universitas Gadjah Mada (UGM) ini mampu mendeteksi Covid-19 melalui embusan napas.
Peneliti GeNose Dr Dian K Nurputra menjelaskan, GeNose telah berhasil melalui serangkaian uji tes, sehingga alat ini dinilai efektif untuk mengetahui secara dini seseorang terkena Covid-19 atau tidak.
“Ini berbeda dengan alat kesehatan lainnya kita basisnya Artificial Intelligence (AI), kita menggunakan data base untuk melatih agar lebih pintar dalam membaca data,” kata Dr Dian dalam LIVE Instagram @kemenhub151, Senin, 1 Februari 2021.
Penggunaan GeNose C19 ini pun dipilih PT Kereta Api Indonesia atau PT KAI untuk screening Covid-19 kepada para pelanggan KA Jarak Jauh, per hari ini, Jumat, 5 Februari 2021.
Baca juga: Pupuk Kepercayaan Diri Santri, Ponpes Riyadhus Sholihin Gelar Lomba Da’i Bahasa Arab
Lantas, bagaimana kah alat GeNose C19 bekerja?
GeNose bekerja mendeteksi Volatile Organic Compound (VOC) yang terbentuk karena adanya infeksi Covid-19 yang keluar bersama nafas melalui embusan nafas ke dalam kantong khusus.
Selanjutnya diidentifikasi melalui sensor-sensor yang kemudian datanya akan diolah dengan bantuan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence).
Kecepatan hasil tes dari GeNose juga tak kalah dengan alat tes Covid-19 lain. Menurut Kepala Produksi Konsorsium GeNose C19, Eko Fajar Prasetyo, sistem GeNose dapat mendeteksi virus dalam waktu singkat yaitu 50 detik.
Sementara dari sisi harga, GeNose C19 juga bisa diadu dengan alat pendeteksi Covid-19 lain. Tarif yang dipatok untuk sekali tes dengan GeNose tergolong murah hanya Rp 20 ribu saja. Alatnya sendiri dibanderol dengan harga mencapai Rp 62 juta.
Sebagai bentuk dukungan terhadap inovasi anak bangsa dan menekan biaya penumpang transportasi, Kementerian Perhubungan (Kemnhub) pun mewajibkan moda kereta api memasang GeNose mulai 5 Februari 2021.
Sebanyak 200 unit GeNose sudah dipesan untuk 44 titik stasiun di seluruh Jawa dan Sumatera.
Dengan penggunaan GeNose ini diharapkan bisa menekan penyebaran Covid-19, sekaligus kampanye Bangga Buatan Indonesia yang sedang digalakkan pemerintah pada masa pandemi.
Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang PS Brodjonegoro mengatakan, satu unit GeNose C19 mampu melakukan 100 ribu kali tes untuk skrining Covid-19.
Menurut Menristek, alat yang memanfaatkan kecerdasan artifisial tersebut dinilai mampu mendeteksi seseorang yang baru dua hari terpapar virus Corona penyebab Covid-19. Sementara, tes PCR atau rapid antigen belum mampu mendeteksi pada periode yang sama.
“Membutuhkan waktu kurang dari 3 menit untuk mengetahui hasilnya (skrining Covid-19 menggunakan GeNose). Dan yang tidak kalah penting adalah harga pengetesan. Harga total dari mesinnya itu sekitar Rp 60 juta, tetapi bisa dipakai untuk 100.000 kali tes. Itu artinya sangat memudahkan penumpang untuk bergerak tanpa diberatkan oleh uang yang harus dikeluarkan,” kata Menristek saat kunjungan di Stasiun Pasar Senen, yang ditayangkan secara virtul, dikutip dari liputan6.com.
Kunjungan tersebut dalam rangka pemberlakuan layanan GeNose C19, “hidung elektronik” atau alat pengendus yang dikembangkan oleh UGM tersebut. Menristek juga didampingi Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi.
“Saya mengapresiasi Pak Menhub yang sudah memberikan dukungan dan melakukan pertama kali di kereta api di Stasiun Pasar Senen ini dengan harapan nantinya bisa dipergunakan lebih luas. Dan saya mengapresiasi bahwa pemakaiannya ini bertahap sambil kita menyempurnakan sistem dan prosedurnya,” tutur Bambang seperti dilansir Antara.
GeNose merupakan salah satu produk inovasi Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 yang berada di bawah koordinasi Kementerian Riset dan Teknologi/BRIN.
GeNose sudah mendapat izin edar dari Kementerian Kesehatan dan sudah diuji validitasnya terhadap tes berbasis PCR pada hampir 2.000 sampel.
Tingkat akurasi yang dimiliki GeNose yaitu 93-95 persen, dengan sensitivitas 89-92 persen, dan spesifitas 95-96 persen.
“Karena GeNose ini menggunakan pendekatan yang namanya kecerdasan artifisial, maka mesin ini akan selalu memperbaiki akurasi dari pemeriksaan. Jadi semakin banyak dipakai semakin akurat dan selalu di-update oleh tim dari UGM yang merupakan penemu dari mesin GeNose ini,” pungkas Menristek.(*)






Komentar