oleh

Komunitas Sejarah ARSENIK Sukses Gelar Hunting History di Area Pringsewu

Voxlampung.com, Bandar Lampung – Pegiat sejarah dari lintas komunitas yang tergabung dalam ARSENIK (Arsip, Sejarah dan Peninggalan Kebudayaan) kembali melaksanakan kegiatan hunting history di area Pringsewu.

Dengan tetap mematuhi protokol kesehatan, kegiatan tersebut sedikitnya mengunjungi tiga lokasi bersejarah, yaitu Bukit Wungkal di Desa Sukoharjo IV, Tiyuh Margakaya dan Talang Indah, pada Sabtu, 23/01/2021.

Kegiatan dimulai dari titik kumpul rest area Pringsewu untuk memulai briefing kegiatan, kemudian bertolak ke lokasi pertama yaitu Bukit Wungkal (Bukit Silitonga) di Pekon Sukoharjo IV.

Di Bukit Wungkal, tim bertemu dengan Richard van der Linde selaku Pengelola Pokdarwis Bukit Silitonga yang juga salah satu putra dari Francois van der Linde (salah satu anggota Indische Partij dan mantan Tentara Belanda yang mendukung kemerdekaan Indonesia).

Tim menggali informasi sejarah tentang peranan Kapten Darius Silitonga dan pasukannya yang dibantu oleh Francois van der Linde berhasil menghalau pesawat tempur Belanda yang akan menyerang Kota Pringsewu pada Agresi Militer Belanda II.

Kemudian objek kedua adalah Tiyuh Margakaya, Pringsewu. Desa Tertua di Pringsewu berdasarkan catatan sejarah, dan telah ada sejak Abad XVIII. Agenda bertemu dengan Bestari, selaku Ketua Adat Tiyuh Margakaya. Tim menggali keterangan darinya tentang sejarah Tiyuh Margakaya sebagai desa tertua di Pringsewu dan peninggalan budayanya.

Objek ketiga adalah Situs Sejarah Talang Irigasi Peninggalan Era Kolonial Hindia Belanda, Fajaresuk, Pringsewu, dengan agenda bertemu dengan Suratmin selaku Ketua Pokdarwis Talang Indah.

Tim menggali informasi tentang sejarah situs Talang Irigasi Pringsewu yang merupakan bukti sejarah pelaksanaan kebijakan Politik Etis di Pringsewu. Kemudian melihat arsip blueprint asli pembangunan Talang Irigasi Pringsewu, dan melakukan dokumentasi situs sejarah.

Komunitas ARSENIK berfoto saat hunting history di area Pringsewu. | Dok. ARSENIK

Situs Talang Irigasi yang dikunjungi adalah Talang I, Talang II, dan Talang III. Karena pertimbangan waktu dan kondisi medan, Talang IV dan V tidak dikunjungi.

Kian Amboro, salah seorang pegiat sejarah mengungkapkan, Pringsewu menyimpan banyak potensi sejarah yang masih perlu digali lebih dalam lagi.

“Pringsewu menyimpan sangat banyak potensi sejarah yang masih perlu digali lebih dalam lagi. upaya pemerintah daerahnya sejauh ini telah sangat baik karena Pringsewu sebagai daerah satu-satunya di Lampung yang telah memiliki official history yang dapat dikatakan komprehensif,” ungkapnya.

Baca juga: Ingat! Mulai Besok, Dilarang Ada Pesta Pernikahan di Kota Bandar Lampung

Selain itu, Kian yang juga dosen sejarah UM Metro menambahkan, dirinya banyak belajar dari warga Pringsewu yang telah bersinergi baik dengan pemerintah daerahnya dalam memasyarakatkan sejarah yang dikemas melalui cara-cara kreatif dan memberdayakan warganya, seperti konsep wisata sejarah.

“Ini cara baru yang perlu lebih banyak dilakukan oleh daerah-daerah lain di Lampung. Semangat sejarah publik telah hadir di sini. Sejarah telah dikembalikan kepada masyarakat sebagai pemilik sah dari sejarah,” imbuhnya.

lebih jauh ia yang juga merupakan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Metro berharap, pemerintah perlu menjamin kelestarian berbagai benda, bangunan, dan lokasi bersejarah melalui upaya perlindungan hukum dengan ditetapkan statusnya sebagai cagar budaya.

Arman AZ, salah seorang sejarawan Lampung juga berharap, kegiatan penelusuran jejak sejarah seperti hunting history perlu dibudayakan oleh generasi muda saat ini.

“Acara semacam Hunting History mesti intens dilakukan generasi muda, agar mereka minimal tahu tentang sejarah-identitas lokalnya sendiri,” ujar Arman.

Baca juga: Rumah Antik Gaya Kolonial Dijual, Pegiat Sejarah Metro Selamatkan Memori Historisnya

Sementara itu, Raswan sebagai budayawan dan pegiat tapis mendorong adanya upaya kajian, pelestarian dan pengembangan seni budaya Lampung yang ada di pekon Tiyuh Margakaya.

Terakhir, Barnas Rasmana pegiat komunitas ARSENIK (Arsip, Sejarah dan Peningggalan Kebudayaan) menjelaskan, maksud diadakannya Hunting History Pringsewu adalah untuk menggali dan mengenalkan sejarah yang ada di area Pringsewu.

Selain itu, ia juga mengungkapkan bahwa acara itu terselenggara berkat kerja sama banyak pihak yang peduli terhadap sejarah.

“Pringsewu yang kami dengar adalah sebuah daerah yang keberadaannya sarat dengan peristiwa sejarah, baik yang bermula dari sebuah desa tua bernama Tiyuh Margakaya, hingga adanya program kolonisasi oleh Pemerintah Hindia Belanda,” ungkapnya.

Perlu diketahui hunting history diikuti oleh peserta yang hadir dari berbagai latar belakang, seperti Himpunan Mahasiswa Sejarah UM Metro, Seputar Kota Metro, Komunitas Foto Antix, Raswan Institut, Komunitas Fotografi Pringsewu dan juga didukung oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Pringsewu.(*)

Print Friendly, PDF & Email

Komentar

Rekomendasi