VoxLampung.com, Bandar Lampung – Pemerintah Provinsi Lampung mendorong percepatan hilirisasi sektor perkebunan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus memperkuat kesejahteraan petani.
Pasalnya, meski produksi sejumlah komoditas perkebunan Lampung tergolong besar, hasil perkebunan, terutama milik petani rakyat, masih banyak dipasarkan dalam bentuk bahan mentah.
Hal tersebut disampaikan Staf Ahli Gubernur Lampung Bidang Kemasyarakatan dan SDM, Lukman Pura, saat membacakan sambutan tertulis Gubernur Lampung dalam Apel Mingguan di lingkungan Sekretariat Daerah Provinsi Lampung, Senin (31/8/2026).
Dalam sambutan tersebut, Gubernur menyebut sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian Lampung.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Triwulan IV 2025, sektor tersebut berkontribusi sebesar 28,35 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lampung. Dari jumlah itu, subsektor perkebunan menyumbang 7,32 persen.
Besarnya kontribusi tersebut menunjukkan pembangunan perkebunan memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“PDRB menjadi salah satu tolak ukur tingkat kesejahteraan penduduk, sehingga pembangunan dan pengembangan pertanian, khususnya subsektor perkebunan, akan paralel dengan upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat Lampung,” ucapnya.
Selain menopang perekonomian daerah, sektor perkebunan juga berperan dalam membuka lapangan kerja, menjadi sumber pendapatan masyarakat, membantu pengentasan kemiskinan, menghasilkan devisa melalui ekspor, serta mendukung ketahanan pangan nasional.
Dalam periode RPJMD 2025–2029, pembangunan perkebunan diarahkan untuk mendukung target Lampung sebagai lumbung pangan nasional. Salah satu indikator kinerja utama yang ditetapkan adalah peningkatan produksi komoditas perkebunan.
Hingga Desember 2025, produksi tujuh komoditas perkebunan unggulan Lampung tercatat cukup besar. Produksi kopi robusta mencapai 125.578 ton, lada 14.615 ton, tebu 724.608 ton, kakao 49.109 ton, karet 175.424 ton, kelapa dalam 86.655 ton, serta kelapa sawit sebanyak 437.250 ton dalam bentuk minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO).
Berdasarkan capaian tersebut, produksi kopi robusta dan lada Lampung masing-masing menempati peringkat kedua secara nasional. Posisi yang sama juga diraih komoditas tebu.
Menurut Gubernur, peningkatan produksi harus diikuti dengan penguatan hilirisasi agar komoditas perkebunan tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi juga diolah menjadi produk setengah jadi maupun produk jadi yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
“Produk perkebunan khususnya perkebunan rakyat masih didominasi oleh produk mentah (raw material). Karena itu, hilirisasi perlu terus kita dorong untuk meningkatkan nilai tambah,” lanjutnya.
Selain melalui pengolahan hasil perkebunan, peningkatan nilai tambah juga dapat dilakukan dengan memperpendek rantai distribusi. Untuk itu, pemerintah daerah mendorong penguatan kelembagaan petani agar hasil perkebunan bisa dipasarkan lebih dekat dan langsung kepada industri.
Upaya tersebut membutuhkan kolaborasi antara pemerintah daerah, petani, pelaku industri, serta perangkat daerah yang membidangi koperasi dan perindustrian.







Komentar