Oleh: Prof. Admi Syarif, Ph.D.
Guru Besar Unila
Siang ini, dalam perjalanan pulang dari Masjid Al-Muhajirin, seusai salat Jumat, di kawasan Jalan Danau Toba, tepat di depan Pasar Koga—yang kini lebih dikenal sebagai Depasko—pandangan saya tiba-tiba tertumbuk pada sebuah pohon.
Pohon di sebelah rumah ayahanda yang bunganya kuning, cerah, dan indah sekali.
Saya berhenti sejenak. Bukan karena pohonnya istimewa. Bukan pula karena ia tumbuh di taman yang dirawat dengan baik. Tetapi karena bunga kuning itu seperti membuka sebuah pintu nostalgia masa kecilku di daerah situ.
Saya jadi teringat masa kanak-kanak.
Usai sekolah di SD Surabaya, kami sering beramai-ramai mandi di sawah Pak Gadung, yang berada di kaki Gunung Sulah. Masa kanak-kanak yang sederhana, tetapi mungkin justru menjadi salah satu masa paling indah dalam hidup. Pak Gadung ini (mertua dari Prof. Dr. Wan Abas Zakaria) salah satu orang terpandang di kampung kami, yang memiliki tanah dan sawah luas di sebelah sekolah. Tidak jarang kami pergi ke sawah untuk menangkap ikan-ikan kecil dengan cara di-irik.
Di pematang sawah, saya masih ingat cukup banyak pohon dengan daun yang lebat dan bunga kuning yang indah.
Pohon itu kami kenal sebagai ketepeng.
Dalam bahasa Lampung, ia dikenal sebagai pohon gelenggang.
Hari ini, setelah puluhan tahun berlalu, bunga kuning itu seolah membawa saya kembali ke pematang sawah Pak Gadung. Kembali menjadi anak kecil yang berlari bersama teman-teman, bermain air, mandi di sawah, ngorok ikan, dan menikmati dunia tanpa memikirkan apa pun selain kegembiraan.
Tetapi kenangan saya tentang ketepeng tidak berhenti di masa kanak-kanak.
Ketika memasuki usia remaja, saya pernah mengalami panu—penyakit kulit yang cukup mengganggu, terutama karena terdapat di bagian belakang badan.
Saya mengadu kepada Ibunda.
Jawaban beliau sederhana.
“Kamu ambil daun ketepeng lima lembar. Gosokkan pada bagian kulit yang ada panunya. Jangan lupa bagian alat kelamin juga digosok ya. Kalau tidak digosok nanti panunya tumbuh lagi,” ujar ibunda.
Nasihat itu pun saya ikuti.
Daun ketepeng saya ambil, kemudian saya gosokkan pada bagian kulit yang terkena panu dan bagian kelamin. Beberapa hari kemudian, keluhan tersebut berangsur menghilang.
Tentu saja bagi saya waktu itu, tidak ada istilah ilmiah. Saya juga tidak tahu kandungan apa yang ada pada daun tersebut. Yang ada hanyalah mewarisi pengetahuan pengalaman ibunda.
Pengetahuan sederhana yang merupakan bagian dari kekayaan pengetahuan tradisional bangsa kita.
Hari ini, ketika melihat kembali bunga ketepeng, saya bukan hanya teringat pada obat panu.
Saya kemudian mencoba mengaitkan bunga Ketepeng ini dengan calon-calon rektor Unila.
Bunga ketepeng ini begitu indah, namun ia tidak pernah mengatakan bahwa dirinya indah.
Warnanya yang kuning menyala selalu membuat orang tertarik melihatnya, bahkan mendekatinya. Ia tumbuh sederhana di pematang sawah, namun semua orang mengenalnya bermanfaat untuk mengobati penyakit.
Semoga kelak Rektor Unila yang terpilih kelak layaknya seperti hidup pohon Ketepeng. Meski berbunga begitu menyala dan indah, tetapi tidak meminta dipuji. Meski Ketepeng memberi manfaat yang luar biasa, tetapi tidak mengharap balasan apalagi mengambil keuntungan pribadi.
Hari ini saya bertemu pohon Ketepeng. Di tempat yang berbeda, zaman yang juga berbeda dan tentu dengan usia yang sudah jauh berbeda.
Tetapi bunga Ketepeng itu seakan berkata:
“Aku tidak berubah, Kiai Admi!”
Tetap semangat berbuat BAIK, untuk Unila yang lebih baik. Tidak ada balasan pasti dari perbuatan BAIK, kecuali kebaikan.(*)







Komentar