oleh

Mencari Rektor Unila 2027–2031: Mampukah Menjawab 10+1 Tantangan Besar?

Oleh: Prof. Admi Syarif, Ph.D.
Guru Besar Unila

Beberapa hari ini, media-media mulai ramai memberitakan pendaftaran bakal calon Rektor Universitas Lampung (2027–2031), yang akan menggantikan Prof. Dr. Lusmelia Afriani yang akan habis masa jabatannya awal tahun mendatang. Kepanitiaan yang digawangi oleh Prof. Dr. Muhammad Akib nampak langsung tancap gas memulai tahapan pemilihan rektor dengan penjaringan bakal calon.

Kemarin, Prof. Dr. Warsito, guru besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), resmi yang pertama mendaftar sebagai bakal calon. Pagi hari ini kembali diberitakan bahwa Dr. Budiyono, SH, MH, dari Fakultas Hukum, juga dinyatakan telah melengkapi dokumen pencalonan. “Mohon dukungan semuanya agar hajat ini dapat tercapailah,” ujarnya usai mendaftar pagi tadi.

Dari bisik-bisik tetangga, masih ada Guru Besar dari Fakultas Kedokteran yang juga akan mengikuti kontestasi ini. Tentu kita berharap lebih banyak sivitas akademika Unila atau luar Unila yang mencalonkan diri sehingga terpilih rektor terbaik Unila empat tahun ke depan.

Bagaimana dengan kelompok petahana (incumbent), apakah ada yang akan mencalonkan? Rektor, WR III dan WR IV nampaknya tidak mencalonkan dengan alasan batas usia yang dipersyaratkan. Wakil Rektor II, Dr. Habibullah Jimad, dengan berbagai alasan juga sore ini diberitakan tidak akan mencalonkan diri. Bagaimana dengan WR I, Prof. Dr. Suripto Dwi Yuwono?

Pemilihan Rektor Universitas Lampung (Unila) periode 2027–2031 bukan sekadar memilih siapa yang akan menduduki kursi pimpinan universitas dengan segala privilese nya. Ini adalah momentum menentukan pimpinan yang akan membawa ke mana arah Unila dalam lima tahun ke depan.

Kita tentu bersetuju bahwa hingga saat Unila telah berkembang menjadi salah satu perguruan tinggi dengan akreditasi Unggul. Akreditasi Unggul dan Internasional juga telah disematkan pada sebagian besar Program Studi di Unila. Raihan pencapaian ini tentu saja harus dimaknai sebagai kepercayaan bahwa Unila telah SANGAT BAIK berbagai indikator kinerja utama (IKU) dari lembaga akreditasi tersebut. Meskipun demikian, seperti kita pahami, semakin besar sebuah institusi, maka semakin besar pula tantangan yang harus diselesaikan oleh pemimpinnya agar terus bergerak lebih baik.

Karena itu, sebuah pertanyaan penting yang harus kita gantungkan dalam pemilihan rektor kali ini adalah bukan hanya “Siapa calon rektornya?”, tetapi:

“Siapa yang memiliki visi, keberanian, integritas, dan Kasih Sayang untuk menjawab tantangan Unila?” Kasih Sayang selangkah lebih panjang usianya dari CINTA. Ia tidak hadir dengan cepat dari pandangan mata, menggebu untuk memenuhi hasrat hati. Ia tumbuh lebih lama dan lebih dalam dengan niat menjaga reputasi sang pujaan hati.

Sebagai catatan untuk rektor Unila 2027–2031, saya mencatat setidaknya ada 10+1 tantangan utama yang harus menjadi perhatian, kalau mungkin masuk menjadi program kerja utama.

1. Banjir di Lingkungan Kampus

Persoalan banjir tidak boleh dianggap sebagai masalah rutin yang cukup diselesaikan setiap kali hujan deras.

Unila membutuhkan solusi permanen melalui penataan drainase, daerah resapan, tata ruang, kolam retensi, dan pengelolaan lingkungan berbasis data. Kampus yang unggul harus nyaman bagi sivitas akademikanya.

2. Parkir Terbatas dan Belum Tertata

Keterbatasan lahan parkir dan pola parkir yang belum tertata menjadi persoalan yang semakin terasa.

Ke depan diperlukan kebijakan smart parking, zonasi kendaraan, transportasi internal, pedestrian, serta pengembangan kampus yang lebih ramah pejalan kaki.

Jangan sampai ruang akademik terus terdesak oleh kendaraan.

3. Lalu Lintas dan Kemacetan

Unila bukan sebuah pulau yang berdiri sendiri. Aktivitas puluhan ribu orang setiap hari memberikan pengaruh terhadap lalu lintas di sekitar kampus.

Karena itu, persoalan kemacetan, melawan arus dan ojek online membutuhkan kolaborasi dengan Pemerintah Kota Bandar Lampung, Pemerintah Provinsi Lampung, kepolisian, dan masyarakat.

Unila harus memiliki Campus Traffic Management yang jelas dan berbasis data. Sangat tidak elok apabila kita masih memagari jalan dengan rantai emas seperti saat ini.

4. Masa Depan Kampus Baru di Kota Baru

Kampus Baru di Kota Baru yang telah dihibahkan oleh pemerintah provinsi masih membutuhkan kejelasan. Rektor 2027–2031 harus berani memberikan roadmap yang jelas dan terukur.

Untuk apa? Kapan dibangun? Apa yang akan dikembangkan? Bagaimana pembiayaannya? Dan bagaimana integrasinya dengan kampus utama?

Jangan sampai aset strategis yang memiliki nilai besar justru tidak memberikan manfaat maksimal bagi perkembangan Unila.

5. Masa Depan Masjid Al-Wasii

Masjid Al-Wasii merupakan bagian penting dari kehidupan sivitas akademika Unila.

Namun, pembicaraan mengenai masjid tidak semestinya berhenti pada persoalan fisik. Masjid juga dapat menjadi ruang pembinaan karakter, etika, kepedulian sosial, dan kehidupan spiritual mahasiswa. Namun demikian, alih-alih kita berbicara akan hal tersebut, pembangunan masjid yang sudah dibongkar sejak hampir satu dekade ini tak kunjung selesai. Setiap kali kita melintasi masjid ini, tentu ada perasaan sedih.

6. Prestasi Kemahasiswaan

Prestasi mahasiswa merupakan salah satu wajah perguruan tinggi.

Unila perlu membangun sistem talent scouting sejak mahasiswa masuk, pembinaan berkelanjutan, dukungan pelatih dan mentor, fasilitas, pendanaan, serta penghargaan bagi mahasiswa berprestasi.

Targetnya harus jelas: lebih banyak prestasi nasional dan internasional. Rektor baru harus jeli memilih wakil rektor yang menggawangi prestasi mahasiswa ini.

7. Integritas dan Moral Sivitas Akademika

Inilah tantangan yang paling mendasar dan berat.

Perguruan tinggi adalah tempat membangun ilmu sekaligus karakter. Karena itu, budaya akademik harus dibangun di atas kejujuran, profesionalisme, etika, transparansi, akuntabilitas, dan keteladanan.

Integritas tidak boleh hanya menjadi tulisan di spanduk atau dokumen pakta integritas. Kita masih mendengar cukup banyak berita yang mencederai integritas kampus yang melibatkan sivitas akademika, mulai dari plagiarisme hingga pelecehan seksual.
Integritas harus menjadi harga mati bagi kalangan akademisi.

8. Mutu Akademik, Riset, dan Inovasi

Unila masih perlu terus meningkatkan kualitas pendidikan dan penelitian.

Riset tidak cukup hanya menghasilkan publikasi. Penelitian harus mampu menjawab persoalan masyarakat, pemerintah, industri, dan memiliki dampak (impact) lingkungan, khususnya daerah Lampung.

Lampung memiliki banyak persoalan sekaligus potensi: pertanian, perkebunan, kelautan, energi, lingkungan, kesehatan, pendidikan, kebudayaan, hingga transformasi digital.

Unila seharusnya menjadi salah satu pusat pemikiran dan solusi bagi Lampung.

9. Reputasi Unila

Reputasi tidak dibangun dengan slogan.

Reputasi lahir dari kualitas lulusan, prestasi mahasiswa, kualitas dosen, penelitian yang berdampak, inovasi, integritas, tata kelola, jejaring internasional, dan kepercayaan masyarakat.

Karena itu, Rektor 2027–2031 harus mempunyai strategi yang konkret untuk meningkatkan reputasi Unila di tingkat nasional sekaligus memperkuat daya saing internasional.

10. Visi Besar Unila 2031

Pada akhirnya, seluruh persoalan tersebut bermuara pada satu pertanyaan:

Unila ingin menjadi apa pada tahun 2031?

Pertanyaan ini harus dijawab dengan visi yang jelas, bukan sekadar rangkaian kata indah dalam dokumen.

Visi harus diterjemahkan menjadi program, target tahunan, indikator keberhasilan, anggaran, dan evaluasi yang transparan.

Sebagai tantangan tambahan adalah bagaimana terus meningkatkan kecintaan kepada Lampung. Sebagai Universitas Lampung, Unila memiliki ikatan historis, sosial, budaya, dan moral dengan masyarakat Lampung. Karena itu, tantangan Rektor Unila ke depan semestinya membangun perasaan, keberpihakan dan empati yang kuat kepada Lampung, bukan hanya dalam bentuk simbolik, tetapi diwujudkan melalui kebijakan dan karya nyata.

Hal ini berarti bahwa memahami persoalan daerah, menghargai budaya dan identitas Lampung, termasuk melaksanakan edaran gubernur tentang kegiatan Kamis Beradat, mengembangkan sumber daya manusia Lampung, harus dijadikan kekuatan utama.

Unila harus terus meningkatkan perannya menjadi “ibu” yang melahirkan ilmu, melahirkan pemimpin, membangun jejaring, membina perguruan tinggi dan masyarakat, serta menjadi sumber pemikiran bagi pembangunan daerah.

Karena itu, calon Rektor Unila 2027–2031 perlu menjawab pertanyaan sederhana tetapi mendasar:

Apa yang akan dilakukan untuk Lampung melalui Unila?

Kecintaan tersebut tentu saja bukan berarti menjadikan Unila eksklusif atau hanya berorientasi lokal. Unila harus mampu berkelas dunia, tetapi tetap berakar kuat pada tanah Lampung.

Rektor 2027–2031 idealnya bukan hanya memiliki kemampuan manajerial dan akademik, tetapi juga memiliki sense of belonging yang kuat. Pada akhirnya, rektor yang kita cari bukanlah hanya mencari seorang administrator akademik untuk empat tahun ke depan.

Kita sedang mencari pemimpin yang mampu membawa Unila menuju masa depan.

Unila Maju. Unila Berintegritas. Unila Berprestasi. Unila Bermartabat.(*)

Komentar