VoxLampung.com, Bandar Lampung — Senyum sumringah terlihat dari wajah para santri Pondok Pesantren Yatim Piatu dan Dhuafa Tahfidzul Qur’an Riyadhus Sholihin, Bandar Lampung, saat satu per satu maju menerima tunjangan hari raya (THR). Suasana hangat dan penuh haru terasa di dalam masjid pesantren ketika para santri berbaris rapi menunggu giliran mereka.
Beberapa santri tampak tersenyum lebar, sementara yang lain terlihat menunduk malu-malu saat menerima amplop THR dari Pimpinan Ponpes, Umi Hj. Fatmah Sungkar. Di tangan mereka juga tampak baju lebaran baru yang dibungkus rapi. Momen sederhana itu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi anak-anak yang sebagian besar merupakan yatim-piatu dan berasal dari keluarga kurang mampu.
Kegiatan pembagian THR tersebut dilakukan menjelang Idulfitri, sebelum para santri dilepas untuk mudik ke kampung halaman masing-masing.
“Alhamdulillah tahun ini kita masih bisa memberikan THR bagi anak-anak santri yatim-piatu dan dhuafa Ponpes Riyadhus Sholihin,” ujar Fatmah.
Tahun ini, sebanyak 250 santri menerima THR dari pesantren. Bagi mereka, bantuan itu bukan sekadar uang saku, tetapi juga tanda kasih sayang dan perhatian dari keluarga besar pesantren.

Meski pendiri ponpes, Abah Ismail Zulkarnain, telah berpulang, Fatmah memastikan berbagai tradisi kebaikan yang telah dirintis tetap dilanjutkan. Hingga kini, Ponpes Riyadhus Sholihin tetap memberikan pendidikan gratis, tempat tinggal, serta biaya hidup bagi para santri.
Tak hanya itu, setiap menjelang Lebaran para santri juga dibelikan baju baru, perlengkapan salat baru, serta mendapatkan THR sebelum pulang kampung. Bahkan, ponpes juga memberikan penghargaan berupa uang tunai kepada santri yang berhasil khatam Al-Qur’an sebanyak tiga kali selama bulan Ramadan.
“Kami berupaya tetap melestarikan tradisi yang biasa Abah lakukan untuk santri. Kami ingin senantiasa memuliakan yatim-piatu,” katanya.
Fatmah berharap, apa yang diberikan pesantren dapat menghadirkan kebahagiaan sederhana bagi para santri dan keluarga mereka saat Lebaran tiba.
“Semoga santri-santri kami bisa merasakan lebaran yang sama dengan anak-anak lain yang masih punya orang tua, tidak merasa minder, dan tetap berbahagia menyambut hari kemenangan,” ujarnya.
Di tengah antrean santri yang terus bergerak maju, tawa kecil dan senyum bahagia anak-anak itu seakan menjadi pengingat bahwa kebahagiaan Lebaran tak selalu datang dari hal besar, kadang cukup dari perhatian, kasih sayang, dan selembar amplop yang diberikan dengan penuh cinta.(Rls)







Komentar