VoxLampung.com, Bandar Lampung — Aktivitas pasar modal di Provinsi Lampung menunjukkan pertumbuhan signifikan sepanjang 2026. Hingga Agustus, jumlah investor pasar modal telah mencapai 828.927 investor, dengan penambahan 365.270 investor baru hanya dalam delapan bulan.
Jumlah tersebut telah melampaui penambahan investor baru sepanjang 2025 yang tercatat sebanyak 267.908 investor. Sementara posisi jumlah investor pasar modal pada akhir 2025 berada di angka 463.657 investor.
Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Provinsi Lampung, Hendi Prayogi, mengatakan pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin luasnya partisipasi masyarakat Lampung dalam pasar modal.
“Di 2025, sepanjang Januari sampai Desember, totalnya 267.908 investor baru. Nah, untuk 2026 sampai bulan Agustus sudah 365.270 investor baru,” kata Hendi saat Media Update di kafe Eclatte Gourmand, Telukbetung, Bandar Lampung, Jumat, 25/9/2026.
Dengan masih tersisa empat bulan hingga akhir tahun, BEI Lampung optimistis pertumbuhan jumlah investor masih dapat berlanjut.
Hendi menegaskan, pertumbuhan pasar modal tidak semata-mata diukur dari perkembangan investor saham. Menurutnya, masyarakat memiliki pilihan instrumen investasi yang beragam, mulai dari saham, obligasi, reksa dana hingga instrumen pasar modal lainnya.
“Fokus dari Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia tidak hanya saham, tetapi pasar modal. Masyarakat ini berbeda-beda, ada yang maunya ke saham, ada yang mau ke obligasi, ada yang ke reksa dana dan sebagainya,” ujarnya.
Transaksi 2026 Sudah 94,7 Persen dari Total 2025
Pertumbuhan jumlah investor tersebut berjalan beriringan dengan meningkatnya nilai transaksi.
Berdasarkan data BEI Lampung, nilai transaksi pasar modal sepanjang 2025 mencapai sekitar Rp28,99 triliun. Sementara hingga Agustus 2026, nilainya telah menembus Rp27,46 triliun.
Dengan demikian, hanya dalam delapan bulan, nilai transaksi 2026 telah mencapai sekitar 94,7 persen dari total transaksi sepanjang 2025.
Hendi mengatakan peningkatan jumlah investor turut mendorong aktivitas transaksi di pasar modal Lampung.
“Semakin banyak jumlah investor, tentu nilai transaksi juga akan semakin meningkat,” katanya.
Sebagai gambaran, Hendi menyebut rata-rata nilai transaksi harian di Bursa Efek Indonesia secara nasional berada di kisaran Rp16 triliun hingga Rp20 triliun per hari.
Dari sisi jumlah investor maupun nilai transaksi, Lampung juga menjadi salah satu daerah dengan aktivitas pasar modal terbesar di Pulau Sumatra. Hendi menyebut Lampung berada di posisi ketiga setelah Sumatra Utara dan Sumatra Selatan.
Data perkembangan pasar modal BEI Lampung menunjukkan nilai transaksi bulanan 2026 terus bergerak hingga mencapai akumulasi sekitar Rp27,46 triliun sampai Agustus.
Frekuensi Transaksi Melonjak
Selain nilai transaksi, aktivitas jual beli investor juga tercermin dari frekuensi transaksi yang mengalami peningkatan tajam.
Pada Juli 2026, frekuensi transaksi pasar modal Lampung tercatat 197.587 kali. Angka tersebut kemudian melonjak menjadi 1.004.786 kali transaksi pada Agustus.
Capaian pada Agustus tersebut bahkan telah menembus satu juta transaksi dalam satu bulan.
Sebagai pembanding, pada 2025 frekuensi transaksi bulanan berada di atas satu juta transaksi pada Oktober, November dan Desember. Frekuensi tertinggi pada periode tersebut tercatat pada Desember sebanyak sekitar 1,4 juta transaksi.
Hendi berharap aktivitas perdagangan pada kuartal terakhir 2026 dapat terus meningkat sehingga frekuensi transaksi dapat melampaui capaian pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Investor Usia 18-30 Tahun Capai 64,7 Persen
Dari sisi demografi, investor pasar modal Lampung didominasi kelompok usia muda.
Data BEI menunjukkan, investor berusia 18-25 tahun menyumbang 38,4 persen dari total investor. Sementara kelompok usia 26-30 tahun mencapai 26,3 persen.
Jika digabungkan, investor berusia 18-30 tahun mencapai 64,7 persen.
Selanjutnya, kelompok usia 31-40 tahun menyumbang 22,2 persen, sedangkan investor berusia 41-100 tahun sebesar 13,1 persen.
Komposisi tersebut menunjukkan kelompok usia muda menjadi basis penting pertumbuhan investor pasar modal di Lampung.
Hendi menyebut mahasiswa dan pekerja muda termasuk kelompok yang cukup aktif masuk ke pasar modal.
“Mahasiswa, kemudian para karyawan muda, ini memang mereka cukup menguasai investor atau investasi di Provinsi Lampung,” ujarnya.
Karyawan Swasta Jadi Investor Terbesar
Berdasarkan pekerjaan, karyawan swasta menjadi kelompok investor terbesar di Lampung dengan porsi 35 persen.
Berikutnya adalah pengusaha sebesar 18 persen dan pelajar 17 persen. Kelompok pekerjaan lainnya juga tercatat sebesar 17 persen.
Sementara itu, ibu rumah tangga menyumbang 5 persen, PNS 4 persen, guru 2 persen, serta TNI/Polri 1 persen.
Komposisi tersebut memperlihatkan basis investor pasar modal di Lampung telah berasal dari berbagai latar belakang pekerjaan, tidak hanya pelaku usaha maupun pekerja di sektor keuangan.
Bandar Lampung Masih Mendominasi
Meski pertumbuhan investor mulai menyebar ke berbagai daerah, Kota Bandar Lampung masih menjadi pusat konsentrasi investor pasar modal di Provinsi Lampung.
Data BEI mencatat Bandar Lampung menyumbang 28 persen dari sebaran investor. Diikuti Lampung Tengah 13 persen, Lampung Selatan 11 persen, Lampung Timur 9 persen, dan Lampung Utara 7 persen.
Selanjutnya Tanggamus sebesar 6 persen, Way Kanan 4 persen, Tulang Bawang 4 persen, Pesawaran 4 persen, Pringsewu 4 persen, Lampung Barat 3 persen, Kota Metro 3 persen, Mesuji 2 persen, Tulang Bawang Barat 2 persen, serta Pesisir Barat 1 persen.
Hendi mengatakan BEI terus berupaya memperluas edukasi dan literasi pasar modal ke seluruh wilayah Lampung. Wilayah kerja BEI Lampung mencakup 15 kabupaten/kota.
Namun, pemerataan edukasi dan penetrasi pasar modal masih menghadapi tantangan, terutama keterbatasan sumber daya manusia dan jarak geografis.
“Wilayah kerja kami tidak hanya Bandar Lampung, tapi 15 kabupaten/kota di Provinsi Lampung,” kata Hendi.
Menurutnya, masyarakat di wilayah yang relatif jauh dari Bandar Lampung masih belum sepenuhnya mengenal investasi di pasar modal.
“Memang ada peningkatan walaupun mungkin kita lihat cukup signifikan perbedaannya. Karena memang keterbatasan SDM, jarak dan sebagainya menyebabkan di wilayah-wilayah yang cukup jauh dari Bandar Lampung ini belum terlalu mengenal tentang investasi di pasar modal Indonesia,” ujarnya.
BEI Lampung pun terus mendorong kegiatan edukasi dan literasi agar partisipasi masyarakat dalam pasar modal tidak hanya terkonsentrasi di pusat kota, tetapi semakin merata hingga ke kabupaten dan daerah yang selama ini memiliki akses lebih terbatas terhadap informasi investasi.
Di sisi infrastruktur edukasi, BEI Lampung saat ini memiliki 15 Galeri Investasi BEI di perguruan tinggi, tiga Galeri Investasi BEI pemerintah kota/kabupaten, delapan Galeri Investasi BEI Desa, dan lima Galeri Investasi Edukasi.(*)





Komentar