oleh

Drainase Ditutup Plat Beton, Solusi Penataan atau Bom Waktu?

Oleh: Ir. Muhammad Hakiem Sedo Putra, S.T., M.T.

BANDAR LAMPUNG — Penataan infrastruktur perkotaan pada dasarnya merupakan langkah positif. Kota membutuhkan ruang publik dan infrastruktur yang aman, rapi, serta mampu mengikuti perkembangan aktivitas masyarakat.

Namun, setiap pembangunan infrastruktur perlu dilihat lebih jauh dari sekadar kondisi saat pekerjaan selesai.

Hal ini juga berlaku pada penutupan saluran drainase dengan plat beton di kawasan Jalan Sultan Agung, Bandar Lampung.

Penutupan saluran dengan plat beton tentu memiliki sejumlah manfaat. Saluran menjadi tidak terbuka, kawasan terlihat lebih tertata, dan ruang di atas saluran dapat menjadi lebih aman bagi aktivitas masyarakat.

Tetapi dari perspektif hidrologi dan pengelolaan drainase perkotaan, ada pertanyaan yang jauh lebih penting: bagaimana memastikan saluran tersebut tetap berfungsi setelah ditutup?

Pertanyaan ini penting karena drainase bukan sekadar bangunan yang harus terlihat rapi. Drainase merupakan bagian dari sistem hidrologi perkotaan yang harus mampu menerima, mengalirkan dan membuang limpasan air hujan secara aman.

Ketika saluran ditutup, maka persoalan yang sebelumnya dapat dilihat secara langsung menjadi tersembunyi.

Sampah yang masuk ke saluran tetap ada. Sedimentasi tetap terjadi. Lumpur dan material yang terbawa limpasan air hujan tetap dapat mengendap. Bahkan, kerusakan pada dinding atau dasar saluran juga tetap mungkin terjadi.

Bedanya, setelah saluran ditutup, semua persoalan tersebut tidak lagi mudah terlihat.

Di sinilah pentingnya akses pemeliharaan.

Jangan sampai saluran terlihat bersih dari atas, tetapi sebenarnya mengalami penyumbatan di bawah plat beton.

Karena itu, setiap saluran yang ditutup dengan plat beton semestinya dilengkapi dengan titik inspeksi atau plat kontrol yang dapat dibuka pada lokasi-lokasi tertentu. Akses tersebut diperlukan untuk melakukan pemeriksaan kondisi saluran, membersihkan sampah, mengangkat sedimentasi dan memastikan tidak terjadi kerusakan yang dapat mengurangi kapasitas aliran.

Dalam pengelolaan drainase, pembangunan fisik dan pemeliharaan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

Pembangunan tanpa pemeliharaan hanya akan menghasilkan infrastruktur yang secara perlahan kehilangan fungsinya.

Jangan Hanya Membangun, Tetapi Juga Rawat

Persoalan drainase perkotaan sering kali muncul bukan semata-mata karena saluran tidak tersedia. Banyak persoalan justru terjadi karena kapasitas saluran berkurang akibat sedimentasi, sampah, kerusakan struktur, sambungan saluran yang tidak baik atau adanya hambatan pada jalur aliran.

Karena itu, setelah pekerjaan penutupan drainase selesai, pemerintah perlu memastikan siapa yang bertanggung jawab terhadap operasi dan pemeliharaannya.

Harus ada pemeriksaan berkala.

Harus ada pembersihan berkala.

Dan harus ada mekanisme yang jelas ketika ditemukan penyumbatan atau kerusakan.

Jangan sampai setelah proyek selesai, saluran kemudian menjadi bagian infrastruktur yang hanya diperhatikan kembali ketika terjadi genangan.

Padahal, prinsip pemeliharaan seharusnya justru dilakukan sebelum masalah terjadi.

Dari sudut pandang hidrologi forensik, kondisi saluran setelah hujan ekstrem juga perlu menjadi bagian dari evaluasi. Jika terjadi genangan di kawasan tersebut, penyebabnya tidak boleh langsung disimpulkan hanya karena hujan deras.

Perlu ditelusuri bagaimana hujan menjadi limpasan, bagaimana limpasan masuk ke saluran, berapa kapasitas saluran, apakah terdapat penyumbatan, bagaimana kondisi hilir, apakah ada bottleneck, serta apakah sistem drainase mampu bekerja sesuai desain.

Dengan kata lain, ketika suatu kawasan mengalami genangan, kita perlu mencari jejak penyebabnya, bukan sekadar mencari siapa yang harus disalahkan.

OPINI Muhammad Hakiem Sedo Putra
Ir Muhammad Hakiem Sedo Putra, Akademisi ITERA. | ist

Plat Beton Jangan Berubah Menjadi Tempat Parkir dan Lapak

Ada persoalan lain yang juga perlu menjadi perhatian pemerintah setelah saluran ditutup.

Permukaan plat beton yang rata berpotensi menciptakan ruang baru yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

Jika tidak dikendalikan, ruang tersebut dapat berubah menjadi tempat berdagang, lokasi parkir kendaraan atau bahkan akses kendaraan dengan beban yang lebih besar dari kapasitas yang direncanakan.

Di sinilah aspek struktur dan tata kelola ruang menjadi penting.

Plat beton yang dirancang untuk menutup saluran belum tentu dirancang sebagai tempat parkir kendaraan berat atau jalur lalu lintas dengan beban tertentu.

Jika beban aktual yang diterima melebihi beban rencana, keretakan, deformasi atau kerusakan plat dapat terjadi.

Kerusakan tersebut pada akhirnya bukan hanya merusak permukaan jalan atau trotoar, tetapi dapat mengganggu saluran drainase yang berada di bawahnya.

Lebih buruk lagi apabila kerusakan tersebut tidak segera diperbaiki.

Plat yang retak dapat menjadi titik masuk material ke saluran. Bagian yang patah dapat mengganggu aliran. Sementara kerusakan yang dibiarkan berpotensi semakin besar dan membutuhkan biaya perbaikan yang lebih mahal.

Karena itu, penutupan drainase harus diikuti dengan pengendalian pemanfaatan ruang di atas saluran.

Pemerintah perlu tegas memastikan bahwa area tersebut tidak berubah menjadi ruang publik yang dimanfaatkan secara liar hanya karena secara fisik tersedia.

Jangan Sampai Solusi Hari ini Menjadi Masalah Beberapa Tahun Kemudian

Infrastruktur perkotaan seharusnya dirancang dengan perspektif jangka panjang.

Pertanyaan dalam pembangunan tidak boleh berhenti pada:

“Apakah pekerjaan ini sudah selesai?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Apakah infrastruktur ini akan tetap berfungsi dengan baik lima, sepuluh, atau dua puluh tahun ke depan?”

Itulah mengapa aspek operasi dan pemeliharaan perlu dipikirkan sejak awal.

Untuk penutupan drainase di Jalan Sultan Agung, setidaknya ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian.

Pertama, memastikan adanya titik inspeksi yang cukup untuk memudahkan pemeriksaan dan pembersihan saluran.

Kedua, memastikan adanya program pemeliharaan rutin, termasuk pembersihan sampah dan sedimentasi.

Ketiga, memastikan konstruksi plat beton sesuai dengan beban yang memang direncanakan.

Keempat, mencegah pemanfaatan ruang di atas saluran untuk aktivitas yang berpotensi merusak konstruksi atau mengganggu fungsi drainase.

Kelima, melakukan evaluasi secara berkala, terutama setelah kejadian hujan dengan intensitas tinggi.

Dan yang tidak kalah penting, pemerintah perlu memastikan adanya koordinasi antarinstansi dalam menjaga infrastruktur tersebut.

Drainase bukan hanya urusan satu dinas. Ketika persoalan sampah masuk ke saluran, aspek kebersihan menjadi penting. Ketika ruang di atas saluran digunakan untuk parkir, aspek ketertiban dan transportasi ikut berperan. Ketika terjadi kerusakan konstruksi, diperlukan penanganan teknis.

Semua harus bekerja dalam satu sistem.

Baca Juga: Lampung Panas dan Air Menipis, Saatnya Berhenti Mengelola Air Setelah Krisis

Infrastruktur yang Baik Harus Mampu Bertahan Terhadap Waktu

Penutupan drainase dengan plat beton tidak perlu dipandang sebagai sesuatu yang salah.

Sebaliknya, penataan seperti ini dapat menjadi bagian dari peningkatan kualitas infrastruktur perkotaan apabila direncanakan, dibangun dan dipelihara dengan benar.

Yang perlu dihindari adalah anggapan bahwa setelah saluran ditutup, persoalan drainase telah selesai.

Justru setelah ditutup, diperlukan perhatian yang lebih konsisten agar persoalan yang terjadi di bawah permukaan tidak menjadi persoalan yang terlambat diketahui.

Kita tidak ingin beberapa tahun mendatang muncul persoalan baru: saluran tersumbat, plat beton rusak, ruang berubah menjadi tempat parkir atau lapak, kemudian ketika hujan deras datang, genangan kembali terjadi.

Jika itu terjadi, masyarakat tentu akan bertanya: mengapa infrastruktur yang baru dibangun tidak mampu memberikan solusi jangka panjang?

Karena itu, pembangunan drainase harus dipandang sebagai sebuah siklus.

Rencanakan dengan baik, bangun sesuai standar, sediakan akses pemeliharaan, rawat secara rutin, awasi pemanfaatannya, dan evaluasi setelah beroperasi.

Inilah pendekatan yang semestinya diterapkan dalam membangun infrastruktur drainase perkotaan yang berkelanjutan.

Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan drainase tidak ditentukan oleh seberapa rapi plat beton terlihat dari permukaan.

Keberhasilannya ditentukan oleh satu hal yang jauh lebih penting: apakah air tetap dapat mengalir dengan baik ketika hujan datang.

Sebab, drainase yang tertutup mungkin tidak lagi terlihat oleh mata.

Tetapi ketika hujan turun, fungsi saluran tetap harus berbicara.

Tentang Penulis

Ir. Muhammad Hakiem Sedo Putra, S.T., M.T., adalah dosen Program Studi Rekayasa Tata Kelola Air Terpadu, Institut Teknologi Sumatera (ITERA), Lampung. Bidang keahliannya meliputi hidrologi, sumber daya air, hidrologi forensik, serta bencana dan daya rusak air.

Komentar