oleh

Ketika Guru Menjadi Alarm Pertama Masalah Gizi Anak

VoxLampung.com, Lampung Selatan
Percikan air berhamburan dari telapak tangan seorang siswa yang berdiri di depan keran sekolah. Ia meraih sabun yang dibungkus kantung jaring dan digantung pada leher keran.

Setelah dibasahi, sabun itu digosokkan ke kedua telapak tangan hingga busa putih perlahan muncul. Jemari kecilnya saling mengusap, menyapu sela-sela jari dan punggung tangan sebelum dibilas di bawah aliran air.

Bau sabun masih samar tercium ketika Dwi Handayani membungkuk memeriksa jemari anak itu. Satu per satu kuku diperhatikannya. Tidak boleh ada yang panjang dan kotor.

“Sudah bersih, ya,” katanya sambil tersenyum.

Di belakang siswa itu, beberapa anak lain mengantre. Sebagian masih berkeringat setelah mengikuti senam sehat di lapangan. Ada yang bercanda, ada yang tak sabar menunggu giliran. Namun Dwi tetap teliti. Tak ada satu anak pun yang luput dari perhatiannya.

Pemandangan seperti itu kini menjadi bagian dari keseharian di SDN 1 Budidaya, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan. Sekolah ini menjadi salah satu sasaran program JAPFA for Kids, yang berfokus pada peningkatan gizi dan kesehatan anak-anak.

Ketika Guru Menjadi Alarm Pertama Masalah Gizi Anak
Dwi Handayani memeriksa kebersihan kuku siswa sebelum masuk kelas. | Imelda/VoxLampung

Guru tidak lagi hanya berdiri di depan kelas mengajarkan pelajaran sekolah. Mereka ikut memastikan tangan anak-anak bersih sebelum makan, mengingatkan mereka membawa bekal sehat, memantau berat dan tinggi badan, hingga menjadi orang pertama yang mengetahui ketika ada siswa yang mengalami masalah gizi.

Perubahan peran itu muncul bukan tanpa alasan. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan persoalan gizi pada anak usia sekolah masih menjadi pekerjaan rumah besar. Sebanyak 11 persen anak usia 5–12 tahun di Indonesia masih berada pada kategori gizi kurang dan gizi buruk berdasarkan indikator Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U).

Pada saat yang sama, SKI 2023 juga menemukan bahwa 96,7 persen penduduk usia 5 tahun ke atas masih kurang mengonsumsi sayur dan buah sesuai rekomendasi. Temuan ini menunjukkan bahwa persoalan gizi tidak semata soal kekurangan makanan, melainkan juga kualitas pola makan sehari-hari.

Lantas, di tengah kondisi itu, sekolah menjadi salah satu ruang penting untuk mendeteksi masalah gizi sejak dini.

Winarti, Bidan dari Puskesmas setempat mengatakan, masih banyak orang tua yang menganggap tubuh kecil pada anak semata-mata disebabkan faktor keturunan. Padahal, pertumbuhan anak tetap harus dipantau agar intervensi dapat dilakukan sedini mungkin apabila ditemukan masalah.

Winarti bilang, pemantauan pertumbuhan anak mesti dilakukan secara berkala melalui pengukuran tinggi badan dan berat badan, disertai edukasi kepada orang tua mengenai pentingnya gizi seimbang.

“Anak yang terlihat aktif belum tentu seluruh kebutuhan gizinya sudah terpenuhi,” katanya.

Di sekolah, anak-anak menghabiskan hampir sepertiga waktunya setiap hari. Karena itu, perubahan kecil pada kebiasaan makan maupun kondisi fisik mereka sering kali lebih cepat terlihat oleh guru dibanding siapa pun.

Dari Sebuah Telur dan Kebiasaan Kecil

Bagi Dwi Handayani, guru SDN 1 Budidaya, keterlibatannya dalam program edukasi gizi JAPFA for Kids menghadirkan pengalaman baru. Guru yang telah mengajar sejak 2007 itu melihat sendiri antusiasme siswa saat menerima telur yang dibagikan dalam program tersebut.

“Anak-anak senang. Mereka bilang, ‘Bu, senang dapat telur.’ semua antusias,” kata Dwi, saat ditemui di ruang guru SDN 1 Budidaya, Jumat, 31/7/2026.

Selain pembagian telur itu, ada tugas lain yang kini menjadi bagian dari keseharian guru. Mereka mendampingi siswa sejak sebelum makan dimulai, juga turut memantau tumbuh kembang anak-anak.

“Tadi sebelum makan anak-anak cuci tangan dulu. Kami awasi juga saat makan. Ada yang bilang tidak suka telur, tapi kami ajak dan dorong supaya dimakan. Akhirnya dimakan juga,” ujarnya sambil tersenyum.

Bagi Dwi, keterlibatan sekolah dalam program perbaikan gizi bukanlah beban tambahan. Justru sebaliknya.

“Menurut saya program dari tim JAPFA ini bagus, membantu pemenuhan gizi anak-anak. Kami happy-happy aja menjalaninya. Demi anak-anak. Kalau anak senang, kami juga ikut senang,” kata dia.

Perempuan berusia 42 tahun itu mengakui, dalam praktik sehari-hari guru sering menjalankan peran sebagai orang tua kedua. Mereka tidak hanya memperhatikan pelajaran, tetapi juga kebiasaan hidup siswa, termasuk pola makan dan kesehatan.

“Memang harus memperhatikan gizinya juga. Guru itu bukan hanya mengajar, tetapi ikut membimbing anak-anak dalam banyak hal,” ujarnya.

Peran tersebut semakin terasa ketika guru mendampingi petugas puskesmas melakukan penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan siswa. Dari kegiatan itulah, data yang selama ini jarang menjadi perhatian sekolah mulai terbuka, yaitu status gizi anak-anak.

Di SDN 1 Budidaya, hasil pengukuran menunjukkan ada delapan siswa yang masuk kategori memerlukan perhatian khusus terkait kondisi gizinya. Temuan itu cukup membuka mata Dwi dan para guru lainnya.

“Selama ini kami melihat anak aktif berarti sehat. Ternyata setelah ada pengukuran, kami belajar bahwa kondisi gizi tidak bisa dinilai hanya dari penampilan,” kata Dwi.

Menurutnya, persoalan tersebut kemungkinan lebih berkaitan dengan pola makan dibanding kondisi ekonomi keluarga. Pasalnya, sebagian besar masyarakat di sekitar sekolah berprofesi sebagai petani. Sayuran seperti kangkung, bayam, dan daun singkong relatif mudah diperoleh.

“Kalau soal ketersediaan makanan bergizi sebenarnya ada. Tinggal bagaimana orang tua membiasakan anak makan sayur dan makanan bergizi,” terangnya.

Bahkan sebelum Program Makan Bergizi Gratis berjalan, sekolah telah membiasakan kegiatan makan bersama. Guru secara rutin mengingatkan siswa agar membawa bekal yang mengandung sayuran dan sumber protein seperti tahu, tempe, maupun telur.

Bagi Dwi, tantangan terbesar justru terletak pada kebiasaan makan anak. “Setahu saya, kemungkinan anaknya memang susah makan. Kadang kalau anak tidak mau makan, orang tua membiarkan. Padahal harus terus diajak dan dibiasakan makan,” katanya.

SDN 1 Budidaya Sidomulyo
Siswa-siswi SDN 1 Budidaya Sidomulyo antusias mengikuti senam sehat pada Jumat pagi, 31/7/2026. | Imelda/VoxLampung

Hampir dua dekade menjadi guru membuat Dwi memahami bahwa mendampingi anak tidak pernah sesederhana mengajar di kelas.

“Jadi guru itu luar biasa, menguji kesabaran. Saya mulai mengajar sejak 2007 sebagai guru honorer dan baru diangkat jadi ASN pada 2021,” tuturnya.

Di balik segala tantangan itu, ia menemukan kebahagiaan yang membuatnya bertahan. “Enaknya jadi guru itu awet muda. Karena setiap hari bersama anak-anak, melihat tingkah mereka yang lucu, jadi ikut senang dan bahagia mengikuti perkembangan mereka,” katanya sambil tertawa.

Bersama JAPFA for Kids, Sekolah Jadi Garda Terdepan

Kepala SDN 1 Budidaya, Andri Sugiarto, mengatakan pemantauan kesehatan siswa dilakukan melalui kerja sama dengan puskesmas setempat. Pemeriksaan kesehatan berlangsung secara berkala, mulai dari pengukuran tinggi badan dan berat badan hingga pemberian imunisasi sesuai program yang berjalan.

Selain pendampingan gizi, JAPFA for Kids juga mendorong pembiasaan perilaku hidup bersih dan sehat di lingkungan sekolah.

Saban Sabtu, siswa mengikuti berbagai kegiatan seperti senam bersama, praktik cuci tangan yang benar, pemeriksaan kebersihan kuku, hingga edukasi mengenai konsumsi makanan bergizi.

“Program hari sehat ini melibatkan semua siswa. Kami gerakkan anak-anak untuk membiasakan pola hidup sehat,” kata Andri di halaman sekolahnya, Jumat, 31/7.

Kepala SDN 1 Budidaya, Andri Sugiarto
Kepala SDN 1 Budidaya, Andri Sugiarto saat diwawancarai di halaman sekolah. | Imelda/VoxLampung

Untuk mendukung program, sekolah menunjuk dua guru yang bertugas mengoordinasikan kegiatan sekaligus mendampingi siswa.

Komunikasi dengan JAPFA juga berlangsung intensif, termasuk terkait distribusi telur kepada siswa penerima manfaat.

Alhamdulillah komunikasinya lancar. Bantuan telur juga selalu datang dalam kondisi baik dan sampai sekarang tidak ada kendala,” ujarnya.

Menurut Andri, keterlibatan guru memang menambah tanggung jawab di luar aktivitas belajar mengajar. Namun manfaat yang diperoleh anak jauh lebih besar.

“Memang ada tambahan pekerjaan bagi guru, tetapi kesehatan anak harus menjadi prioritas. Anak yang sehat akan lebih siap menerima pelajaran. Karena itu kami atur agar kegiatan program tidak mengganggu proses belajar mengajar, misalnya dilakukan sebelum pelajaran dimulai, saat istirahat, atau setelah kegiatan belajar,” pungkasnya.

Kabar yang Tak Disangka Orang Tua

Salah satu siswa yang teridentifikasi membutuhkan perhatian khusus atau kategori malagizi yakni Khatam Zikrullah Persada Agung, siswa kelas 4.

Ayahnya, Agung Kurniawan, mengaku baru mengetahui kondisi putranya setelah dilakukan pengukuran tinggi badan dan berat badan oleh tenaga kesehatan dalam kegiatan yang melibatkan sekolah dan puskesmas.

Hasil pengukuran menunjukkan tinggi badan dan berat badan Khatam tidak seimbang sehingga masuk kategori yang memerrlukan perhatian khusus.

Awalnya, guru ASN di salah satu SMA di Sidomulyo itu mengira penerima bantuan telur ditentukan berdasarkan rekomendasi sekolah.

Namun setelah mendapatkan penjelasan, Agung kini memahami bahwa penetapan penerima manfaat dilakukan berdasarkan hasil pengukuran status gizi oleh tenaga kesehatan.

Alih-alih tersinggung, Agung justru merasa terbantu dengan adanya program itu. “Saya malah berterima kasih karena diingatkan kembali bagaimana caranya supaya anak ini lebih mau makan, lebih nafsu makan lagi,” katanya.

Selama ini, kata Agung, keluarga sudah berupaya memberikan vitamin penambah nafsu makan. Namun hasilnya belum maksimal karena Khatam lebih senang bermain daripada menghabiskan makanan.

Melalui program JAPFA for Kids, Khatam menerima tambahan asupan protein berupa telur sekaligus pendampingan dan edukasi terkait pemenuhan gizi.

“Kalau saya sih bersedia banget,” tegas Agung.

Pelibatan Guru dan Orang Tua Tangani Masalah Gizi Anak

Konselor JAPFA for Kids, Tamara Karent, mengatakan salah satu fokus program adalah memperkuat kapasitas guru dalam mendampingi siswa dan berkomunikasi dengan orang tua.

Program diawali dengan pertemuan bersama guru penanggung jawab untuk menyamakan pemahaman mengenai pendampingan gizi anak.

Guru juga diberikan pembekalan agar mampu menyampaikan hasil pemantauan kepada orang tua dengan pendekatan yang positif.

“Kami mengedukasi guru bahwa ketika berbicara dengan orang tua, jangan langsung memberi label seperti gizi buruk. Yang perlu disampaikan adalah anak membutuhkan peningkatan gizi. Kami sama-sama belajar agar semua guru merasa terangkul dan semakin semangat membantu anak-anak,” jelas Tamara.

Ketika Guru Menjadi Alarm Pertama Masalah Gizi Anak
Tamara Karent, konselor JAPFA for Kids di Lampung Selatan. | Imelda/VoxLampung

Alumnus Fisipol UGM menambahkan, kegiatan JAPFA for Kids dilaksanakan setiap Sabtu sehingga tidak membebani aktivitas belajar mengajar di sekolah.

Program JAPFA for Kids sendiri dijalankan di Kabupaten Lampung Selatan melalui edukasi gizi, pembiasaan hidup sehat, serta pendampingan bagi sekolah dan tenaga pendidik.

Social Investment Supervisor JAPFA, ST Khumaidah, menjelaskan, hasil pemeriksaan awal terhadap sekitar 2.051 siswa dari 15 sekolah di Lampung Selatan menunjukkan terdapat 159 siswa yang masuk kategori gizi kurang dan gizi buruk. Delapan di antaranya ada di SDN 1 Budidaya, Sidomulyo.

Sebagai bentuk intervensi, JAPFA mendistribusikan tujuh butir telur setiap pekan selama enam bulan kepada siswa penerima manfaat yang telah memperoleh persetujuan orang tua.

Namun program ini tidak berhenti pada pemberian telur. “Kami percaya protein penting, tetapi kebutuhan gizi anak tidak hanya protein. Karena itu kami melibatkan sekolah dan orang tua untuk melengkapi kebutuhan karbohidrat, sayur, buah, dan nutrisi lainnya melalui bekal yang dibawa anak ke sekolah,” kata Khumaidah.

Selain edukasi gizi, program juga mengembangkan pembiasaan perilaku hidup bersih dan sehat melalui kegiatan Hari Sehat JAPFA.

Rangkaian kegiatannya meliputi senam empat pilar gizi seimbang, cuci tangan pakai sabun, pemeriksaan kebersihan kuku, edukasi kesehatan, pengukuran berat badan dan tinggi badan, hingga makan bekal bersama.

Pemantauan dilakukan secara ketat. Setiap konsumsi telur dilaporkan guru melalui Google Form. Melalui sistem tersebut, guru melaporkan konsumsi telur siswa, pelaksanaan Hari Sehat JAPFA, hingga kehadiran peserta kegiatan.

Jika seorang siswa tercatat tidak mengonsumsi telur sebanyak tiga kali dalam tujuh hari, pihak sekolah dan orang tua akan diminta melakukan komitmen ulang agar program berjalan efektif.

Berat badan dan tinggi badan siswa juga dipantau secara berkala. Pengukuran awal, pertengahan, dan akhir program dilakukan oleh puskesmas sesuai standar antropometri Kementerian Kesehatan. Sementara pemantauan bulanan dilakukan guru yang telah mendapat pelatihan dari JAPFA bersama Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI).

“Ketika bantuan diberikan, kami ingin memastikan benar-benar dikonsumsi dan berdampak. Karena itu pemantauan dilakukan secara detail, mulai dari konsumsi telur hingga perkembangan berat dan tinggi badan siswa,” ujarnya.

JAPFA for Kids Jangkau Lebih dari 217 Ribu Siswa di Indonesia

Head of Social Investment JAPFA, Retno Artsanti, mengatakan, hingga 2026, JAPFA for Kids telah menjangkau 217.706 siswa, 14.713 guru, dan 1.308 sekolah di 106 kabupaten/kota pada 28 provinsi di Indonesia.

Program ini juga menunjukkan hasil yang signifikan. Pada 2024, sebanyak 762 dari 1.479 siswa yang sebelumnya mengalami gizi kurang dan gizi buruk berhasil meningkat menjadi gizi baik atau setara 51,5 persen.

Sementara pada 2025, sebanyak 646 dari 1.034 siswa berhasil mengalami peningkatan status gizi menjadi gizi baik atau mencapai 62,5 persen.

Head of Social Investment JAPFA, Retno Artsanti, bercengkrama dengan siswa-siswi SDN 1 Budidaya Sidomulyo. | Imelda/VoxLampung
Head of Social Investment JAPFA, Retno Artsanti, bercengkrama dengan siswa-siswi SDN 1 Budidaya Sidomulyo. | Imelda/VoxLampung

Tahun ini, JAPFA menargetkan sebanyak 16.000 siswa di berbagai wilayah Indonesia dapat mengikuti program JAPFA for Kids, mulai dari Padang Pariaman di Sumatera Barat, Bintan, Lampung Selatan, hingga Sofifi di Maluku Utara.

“Provinsi Lampung sendiri menjadi salah satu daerah yang memiliki sejarah panjang bersama JAPFA for Kids. Program ini pertama kali dilaksanakan pada 2008 di Kabupaten Lampung Tengah dan Lampung Timur dengan menjangkau enam sekolah dan 1.632 siswa,” ungkap Retno.

Setelah itu, program terus berkembang ke berbagai daerah di Lampung, antara lain Lampung Selatan pada 2010, Tanggamus dan Pringsewu pada 2012, Pesawaran pada 2013, Lampung Timur pada 2015, Lampung Tengah pada 2016, serta kembali hadir di Lampung Selatan pada 2019.

Dengan pelaksanaan tahun ini, kata Retno, JAPFA for Kids tercatat telah menjangkau 69 sekolah dan lebih dari 13.400 siswa di Provinsi Lampung.

Alarm yang Menyala dari Ruang Kelas

Di halaman sekolah, barisan anak-anak yang selesai mencuci tangan mulai bergerak menuju kelas masing-masing.

Mereka tertawa, berlari kecil, dan kembali menjalani hari seperti biasa.
Mungkin sebagian dari mereka tidak menyadari bahwa kini ada lebih banyak mata yang memperhatikan tumbuh kembang mereka.

Bukan hanya orang tua di rumah atau petugas kesehatan di puskesmas. Tetapi juga guru yang setiap hari menyapa mereka di ruang kelas.

Guru mengingat siapa yang sering datang tanpa sarapan, siapa yang kerap menyisakan makanan, dan siapa yang mulai menunjukkan perubahan pola makan. Ketika ada hal yang perlu diwaspadai, guru pula yang pertama berkomunikasi dengan orang tua.

Sementara anak-anak kembali masuk ke kelas, Dwi masih berdiri di depan keran memastikan antrean terakhir selesai mencuci tangan. Bagi sebagian orang, itu mungkin rutinitas sederhana. Namun dari kebiasaan kecil seperti itulah, ia kini belajar mengenali tanda-tanda yang sebelumnya kerap luput terlihat.(Imelda)

Komentar