oleh

Rumah Panas di Kota, Tagihan Listrik Membara (Bagian 2)

 

“Desain Bangunan, Panas Perkotaan, dan Beban Listrik Rumah Tangga”

VoxLampung.com, Bandar Lampung – Ketika suhu udara terus meningkat, kebutuhan akan pendingin ruangan di rumah ikut melonjak. Dampaknya tidak hanya terasa pada tagihan listrik yang semakin besar, tetapi juga pada meningkatnya emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari konsumsi energi.

Dokumen Peta Jalan Penyelenggaraan dan Pembinaan Bangunan Gedung Hijau Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mencatat, selama periode 2011–2022 emisi karbon dioksida (CO₂) dari berbagai sektor di Indonesia rata-rata mencapai 474 juta ton per tahun, dengan total akumulasi mencapai 5.682 juta ton. Sektor bangunan gedung, baik hunian maupun nonhunian, menjadi salah satu penyumbang emisi terbesar.

Menariknya, sumber emisi terbesar dari bangunan bukan berasal dari material konstruksi maupun bahan bakar untuk memasak, melainkan dari penggunaan listrik. Dalam dokumen peta jalan tersebut disebutkan sekitar 90 persen emisi gas rumah kaca bangunan gedung berasal dari konsumsi listrik.

Artinya, setiap peningkatan kebutuhan listrik di rumah maupun gedung perkantoran berkontribusi langsung terhadap bertambahnya emisi karbon. Sebaliknya, penggunaan LPG yang menyumbang hampir separuh kebutuhan energi rumah tangga justru menghasilkan emisi yang relatif lebih rendah dibandingkan listrik.

Karena itu, bangunan hunian dinilai memiliki peluang besar untuk menekan konsumsi energi sekaligus mengurangi emisi karbon. Selain mengurangi biaya listrik, penggunaan peralatan yang lebih efisien juga dapat memberikan dampak signifikan terhadap lingkungan.

Namun persoalannya tidak sesederhana mengganti peralatan yang boros energi. Tantangan yang lebih mendasar adalah bagaimana merancang rumah agar tetap nyaman dihuni tanpa bergantung pada konsumsi energi yang tinggi. Di sinilah konsep hunian ramah iklim menjadi penting, yakni rumah yang dirancang untuk memanfaatkan kondisi alam sekitar sehingga kebutuhan penggunaan AC dan listrik dapat ditekan.

Baca Sebelumnya: Rumah Panas di Kota, Tagihan Listrik Membara (Bagian 1)

Kebutuhan pendinginan ruangan yang terus meningkat juga berkaitan dengan perubahan lanskap perkotaan. Berkurangnya vegetasi dan semakin dominannya beton, aspal, serta bangunan membuat suhu kota cenderung lebih tinggi dibandingkan wilayah sekitarnya. Fenomena yang dikenal sebagai Urban Heat Island (UHI) ini menyebabkan rumah-rumah di kawasan perkotaan menyimpan lebih banyak panas, sehingga penggunaan AC pun semakin sulit dihindari.

Hunian Ramah Iklim, Rumah Sejuk Tanpa Bergantung pada AC

Jatmika Adi Suryabrata, Senior Technical Advisor Global Buildings Performance Network (GBPN), mengatakan penggunaan pendingin udara (AC) semakin masif, terutama di kawasan perkotaan. Menurutnya, salah satu penyebabnya adalah desain hunian yang kurang responsif terhadap kondisi iklim.

Jatmika bilang, ketergantungan terhadap AC maupun kipas angin dapat dikurangi melalui penerapan desain bangunan yang lebih sesuai dengan iklim setempat.

Salah satu aspek penting adalah tinggi bangunan. Atap yang lebih tinggi dapat mengurangi panas yang dirasakan penghuni karena jarak antara ruang aktivitas dan sumber radiasi panas menjadi lebih besar.

“Semakin tinggi jarak ke atap, maka semakin berkurang radiasinya,” ujarnya.

Rumah subsidi
Contoh rumah subsidi yang memiliki desain atap tinggi, yang memberikan kesan lebih luas, terang, dan sirkulasi udara lebih baik. | VoxLampung

Warna atap juga berpengaruh terhadap suhu di dalam rumah. Ia menyarankan penggunaan warna-warna cerah yang mampu memantulkan panas matahari, seperti putih. Sebaliknya, warna gelap cenderung menyerap panas dan menyalurkannya ke dalam bangunan.

“Atap berwarna merah akan membuat panas matahari lebih terasa di dalam rumah,” kata dosen Arsitektur Universitas Gadjah Mada itu.

Kehadiran vegetasi di sekitar rumah juga dapat membantu menurunkan suhu lingkungan. Untuk rumah subsidi yang umumnya memiliki lahan terbatas, konsep taman vertikal (vertical garden) maupun taman atap (roof garden) dapat menjadi alternatif.

Selain vegetasi, elemen air seperti kolam kecil dinilai mampu meningkatkan kenyamanan termal penghuni. Menurut Jatmika, suara gemericik air dapat menciptakan persepsi lingkungan yang lebih sejuk sehingga penghuni merasa lebih nyaman meskipun suhu udara tidak berubah secara signifikan.

“Suara air dapat membuat otak lebih toleran terhadap suhu panas,” ujarnya.

Faktor lain yang tidak kalah penting adalah orientasi bangunan. Rumah yang menghadap ke barat umumnya menerima radiasi matahari sore yang lebih intens sehingga suhu ruang cenderung lebih tinggi. Sementara rumah yang menghadap ke timur menerima paparan sinar matahari langsung sejak pagi.

“Jadi sebaiknya menghindari hunian yang menghadap barat dan timur,” katanya.

Penggunaan jendela nako juga dinilai efektif untuk meningkatkan ventilasi silang (cross ventilation). Sebelum penggunaan AC meluas, banyak rumah di Indonesia mengandalkan jendela jenis ini untuk mengalirkan udara dan membuang panas secara alami.

Rumah Panas di Kota, Tagihan Listrik Membara (Bagian 2)
Contoh konsep jendela Nako. | Instagram @cios.ph

Material Tepat, Panas Berkurang

Selain desain ruang, pemilihan material bangunan juga berpengaruh terhadap kinerja termal bangunan.

Penggunaan kaca stopsol, bata ringan, serta pengendalian nilai Overall Thermal Transfer Value (OTTV) hingga 35 watt per meter persegi dapat mengurangi panas yang masuk ke dalam bangunan sehingga kebutuhan pendinginan menjadi lebih rendah.

Perbandingan luas dinding dan jendela atau Walls to Window Ratio juga perlu disesuaikan dengan ketentuan dalam Permen PUPR Nomor 21 Tahun 2021.

Menghemat Energi dari Desain hingga Panel Surya

Upaya menciptakan rumah yang hemat energi tidak berhenti pada desain pasif. Efisiensi juga perlu didukung oleh penggunaan sistem bangunan yang hemat listrik.

Salah satunya melalui penerapan standar Light Power Density (LPD) sesuai SNI 6197:2020 untuk sistem pencahayaan. Penggunaan pendingin ruangan juga diarahkan pada perangkat dengan tingkat efisiensi tinggi, yakni memiliki nilai Coefficient of Performance (COP) minimal 4,2 watt per watt.

“Penggunaan kipas langit-langit atau ceiling fan di ruangan ber-AC juga sangat membantu distribusi udara dingin sehingga beban kerja pendingin ruangan dapat dikurangi,” imbuhnya.

Rumah Panas di Kota, Tagihan Listrik Membara (Bagian 2)
Penggunaan kipas langit-langit atau ceiling fan untuk meringankan beban kerja AC. | ist

Di luar faktor desain bangunan, perilaku penghuni juga menjadi penentu penting dalam besarnya konsumsi energi rumah tangga. Salah satu langkah sederhana yang dianjurkan adalah mengatur suhu AC pada kisaran 25 derajat Celsius.

Pemanfaatan energi terbarukan juga mulai menjadi bagian dari strategi efisiensi bangunan melalui pemasangan panel surya atap. Jatmika mengatakan instalasi panel surya dapat dilakukan dengan memanfaatkan sekitar 20 persen luas atap bangunan.

Kombinasi antara desain pasif, desain aktif, perubahan perilaku penghuni, serta pemanfaatan energi surya menjadi kunci untuk mewujudkan hunian yang nyaman, hemat energi, dan rendah emisi.

Rumah Hijau, Tagihan Listrik Lebih Ringan

Selain memberikan manfaat lingkungan, penerapan prinsip bangunan hijau juga terbukti menghasilkan keuntungan ekonomi yang nyata bagi penghuni.

Sandra Pranoto, Senior Advisor GBPN, mengatakan konsep bangunan hijau mampu menekan biaya utilitas rumah tangga secara signifikan.

Sejumlah proyek di Indonesia menunjukkan bahwa investasi tambahan untuk menerapkan prinsip bangunan hijau dapat kembali dalam waktu relatif singkat melalui penghematan energi dan air.

Salah satu contohnya adalah kawasan perumahan Citra Maja Raya di Banten yang terdiri atas 373 rumah terjangkau dan telah memperoleh sertifikasi EDGE.

Berdasarkan studi GBPN, penerapan konsep bangunan hijau di kawasan tersebut membutuhkan tambahan investasi sekitar 4,7 persen dibandingkan rumah konvensional. Namun biaya itu diperkirakan kembali dalam waktu sekitar 1,8 tahun berkat efisiensi penggunaan energi dan air.

Penghematan biaya utilitas yang dihasilkan mencapai sekitar 30 persen atau setara Rp252 juta per tahun. Capaian ini didukung berbagai strategi, mulai dari optimalisasi ukuran jendela, penggunaan lampu hemat energi, pemakaian material bangunan yang lebih ringan, hingga pemasangan keran dan kloset berdebit rendah.

Manfaatnya juga dirasakan langsung oleh penghuni. Rumah memiliki sirkulasi udara yang baik sehingga tidak memerlukan pendingin ruangan pada siang hari. Konsumsi listrik rumah tangga pun turun hampir separuh, dari sekitar Rp800 ribu menjadi Rp400 ribu per bulan.

“Biaya listrik lebih hemat, dan ketika PLN menaikkan tarif listrik pun penghematan akan terus terjadi,” kata Sandra.

Adaptasi Hunian terhadap Iklim Lampung

Ketua DPD Himpunan Pengembang Permukiman dan Perumahan Rakyat (Himperra) Lampung, Tri Joko Margono, mengatakan desain rumah di Lampung perlu dirancang dengan mempertimbangkan karakter iklim tropis basah yang dimiliki daerah ini.

Menurutnya, suhu udara di Lampung yang berkisar antara 23 hingga 34 derajat Celsius dengan tingkat kelembapan yang tinggi,  membuat penghuni rumah merasakan hawa panas dan gerah, terutama pada siang hari.

Karena itu, konsep arsitektur tropis menjadi salah satu pendekatan yang relevan untuk menciptakan hunian yang lebih nyaman dan hemat energi.

“Ventilasi silang atau cross ventilation perlu dirancang secara optimal agar aliran udara dapat berlangsung terus-menerus dan membantu menurunkan kelembapan di dalam ruangan,” ujarnya.

Selain ventilasi, lanjut Tri Joko, penggunaan atap dengan kemiringan yang cukup tinggi, ruang penahan panas di bawah atap, serta tritisan atau shading yang lebar dinilai efektif mengurangi paparan panas matahari yang masuk langsung ke dalam bangunan.

Rumah panas di kota, tagihan listrik membara
Ketua DPD Himperra Lampung, Tri Joko Margono. | ist

Dorong Perumahan Hijau Berkelanjutan

Sebagai organisasi yang menaungi pengembang perumahan rakyat, Himperra mendorong anggotanya menerapkan konsep perumahan hijau berkelanjutan yang sejalan dengan program pembangunan tiga juta rumah pemerintah.

Upaya tersebut antara lain dilakukan melalui penggunaan material bangunan yang lebih ramah lingkungan, penerapan teknologi konstruksi rendah karbon, serta pengembangan inovasi bersama produsen bahan bangunan.

Selain itu, pengembang juga didorong menghadirkan lingkungan permukiman yang sehat melalui pengelolaan air yang baik, penyediaan ruang terbuka hijau, serta sistem sirkulasi udara yang mendukung kenyamanan penghuni.

“Dalam rapat kerja nasional Himperra yang sedang berlangsung, kami juga menetapkan gerakan satu rumah satu pohon sebagai bentuk komitmen menjaga lingkungan,” ujar Tri Joko.

Saat Konsep Hijau Diterapkan Perumahan Subsidi di Lampung

Sejumlah prinsip bangunan ramah iklim yang dijelaskan para ahli tersebut mulai diterapkan oleh pengembang perumahan di daerah. Di Lampung, salah satu contohnya dapat ditemukan pada Perumahan D’Dharma Residence di Dusun Dwi Dharma, Kecamatan Natar, Lampung Selatan.

Perumahan subsidi tersebut mengusung konsep Green Housing atau hunian hijau berkelanjutan melalui desain bangunan yang memaksimalkan pencahayaan alami untuk mengurangi konsumsi listrik pada siang hari.

Direktur PT Orlindo Makmur Jaya, Erson Agustinus, mengatakan setiap unit rumah dilengkapi boven atau ventilasi segitiga berukuran besar pada bagian depan bangunan.

Desain tersebut memungkinkan cahaya matahari masuk secara optimal ke dalam rumah sehingga ruangan tetap terang tanpa harus mengandalkan lampu pada siang hari.

“Konsep ini kami terapkan untuk mendukung efisiensi energi sekaligus memberikan kenyamanan bagi penghuni. Dengan pencahayaan alami yang maksimal, penggunaan listrik pada siang hari dapat diminimalkan,” ujar Erson.

Selain fokus pada efisiensi energi, pengembang juga menyediakan ruang terbuka hijau di kawasan perumahan. Berbagai jenis tanaman seperti pohon kelor dan pucuk merah ditanam di sejumlah titik kawasan hunian.

Keberadaan vegetasi tersebut membantu meningkatkan kualitas udara, menurunkan suhu lingkungan, sekaligus menciptakan suasana yang lebih nyaman bagi penghuni.

Rumah panas di kota, tagihan listrik membara
Perumahan D’Dharma Residence di Dusun Dwi Dharma, Kecamatan Natar, Lampung Selatan, mengusung konsep hunian hijau sehingga lebih ramah iklim. | VoxLampung

Perumahan D’Dharma Residence dipasarkan dengan harga sesuai standar subsidi FLPP, yakni Rp166 juta untuk tipe 36/72.

Erson menjelaskan bahwa konsep pembangunan berkelanjutan tidak harus identik dengan biaya tinggi. Menurutnya, rumah subsidi pun dapat mengadopsi prinsip-prinsip ramah lingkungan yang memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.

Green housing bukan hanya tentang bangunan yang ramah lingkungan, tetapi juga bagaimana menciptakan lingkungan hunian yang sehat, hemat energi, dan berkelanjutan,” katanya.

Erson mengakui, peningkatan spesifikasi dan kualitas bangunan rumah subsidi yang diterapkan di D’Dharma Residence tentu berdampak pada menurunnya margin keuntungan perusahaan.

Menurutnya, sebelum kenaikan harga material bangunan pada Mei 2026, margin pengembang rumah subsidi umumnya berada pada kisaran 20–30 persen dari harga jual rumah. Namun, karena perusahaan memilih menggunakan spesifikasi bangunan yang lebih baik dibanding standar rumah subsidi pada umumnya, margin yang diperoleh berada di bawah 20 persen.

“Kalau secara umum margin pengembang rumah subsidi bisa 20 sampai 30 persen, tetapi karena kami meningkatkan kualitas spesifikasi bangunan, margin yang kami dapatkan berada di bawah rata-rata, yakni di bawah 20 persen,” ujar Erson.

Ia menegaskan, perusahaan tetap mempertahankan kualitas bangunan meski berdampak pada keuntungan yang lebih kecil, karena kenyamanan penghuni dan kualitas hunian menjadi prioritas utama.

Penerapan konsep hijau pada perumahan subsidi juga dinilai sejalan dengan upaya pemerintah mendorong pembangunan yang berwawasan lingkungan sekaligus mendukung target pengurangan emisi karbon.

Dengan menggabungkan efisiensi energi, optimalisasi pencahayaan alami, dan penguatan ruang hijau, D’Dharma Residence menjadi salah satu contoh bagaimana hunian subsidi dapat bertransformasi menuju konsep pembangunan yang lebih berkelanjutan tanpa mengurangi aspek kenyamanan dan keterjangkauan bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Pada akhirnya, tantangan rumah panas di perkotaan tidak dapat diselesaikan hanya dengan menambah penggunaan pendingin ruangan. Desain bangunan yang menyesuaikan iklim, pemanfaatan material yang tepat, efisiensi energi, serta penyediaan ruang hijau menjadi bagian dari solusi yang saling melengkapi.

Contoh yang mulai diterapkan di perumahan subsidi Lampung menunjukkan bahwa hunian ramah iklim tidak selalu identik dengan biaya mahal. Bahkan pada segmen rumah subsidi, konsep tersebut dapat diterapkan untuk menghadirkan rumah yang lebih nyaman, hemat energi, dan lebih tangguh menghadapi perubahan iklim di masa depan.(*)

Laporan Imelda Astari 

Baca Berita Berikutnya : Rumah Panas di Kota, Tagihan Listrik Membara (Bagian 3)

Komentar