oleh

SARUNG SANG KIAI

Oleh Juwendra Asdiansyah 

DARI dulu, saya jarang membeli sarung. Makanya dulu saya cuma punya sedikit. Bisa dihitung dengan jari. Itu pun sarung-sarung murah, kurang dari seratus ribu.

Sejak 12 tahun lalu hingga sekarang, saya malah tak pernah lagi membeli sarung. Sama sekali.

Anehnya, tak pernah beli, saya justru tak pernah kekurangan sarung. Sarung saya relatif banyak. Dan bedanya dengan dulu, sarung saya sekarang umumnya cakep-cakep. Merek-merek terkenal. Harganya lumayan. Tidak ada lagi yang di bawah cepek. Ada bahkan yang di atas sejuta.

Bagaimana bisa? Bisa. Itu semua sarung “aji pengasihan” alias dapat dikasih. Jika pengasihan sedang agak rame , biasanya bulan puasa-jelang lebaran, saya bahkan bisa teruskan sebagian di antaranya ke tetangga atau teman.

Kenapa saya sering dapat sarung? Saya bukan ustaz, boro-boro kiai. Bukan pula pejabat, politikus, pengusaha papan atas, cendekiawan ternama, artis, atau tokoh masyarakat. Saya bukan orang penting dan nggak ada penting-pentingnya orang ngasih saya sarung.

Intinya, saya bukan siapa-siapa, kecuali satu hal: saya pengurus NU.

Jadi pemirsah, sarung-sarung itu adalah “sarung jatah”. Jatah sebagai pengurus yang biasanya dibagikan jelang lebaran itu tadi. Karena jatah, tentu bukan hanya saya yang dapat. Pengurus lain juga kebagian, terutama yang rajin datang ke sekretariat.

Adakah sarung pemberian individu? Ada, tapi tidak banyak (saya kan bukan siapa-siapa). Beberapa di antaranya dari Prof Dr KH Mohammad Mukri. Beliau ketua saya ketika menjadi pengurus NU Lampung 2018-2023. Sarung merupakan salah satu buah tangan andalan beliau jika saya bertandang ke rumah atau kantornya semasa menjabat rektor UIN Raden Intan, pun di sekretariat PWNU.

Lalu, apa moral story dari kisah persarungan dari orang nggak penting ini?

Begini netizen yang budiman, saya mau bilang: kalau saya saja yang bukan siapa-siapa, bukan orang penting, tidak pernah kekurangan sarung, apalagi seorang kiai.

Kalau saya saja yang ilmu agamanya cetek—sehingga mungkin tidak ada orang belajar agama kepada saya—berkesempatan punya sarung-sarung bagus, merek terkenal dan mahal, apalagi seorang ulama terpandang, apalagi kiai besar pemimpin pondok pesantren dengan santri dan alumni ribuan.

Sarung-sarung saya memang hasil pemberian, mungkin demikian pula kebanyakan sarung kiai. Tapi sarung untuk para kiai itu diberikan tanpa paksaan. Bukan pula bentuk upeti, sogokan, atau belas kasihan.

Itu adalah bentuk takzim dan hormat. Itu ungkapan terima kasih santri kepada gurunya. Itu ekspresi rasa sayang umat kepada ulamanya.

Sebagai manifestasi rasa takzim, hormat, terima kasih, dan sayang, tiada yang berat soal harga. Alih-alih terbebani atau terpaksa, para santri, wali santri, alumnus pondok, atau masyarakat, justru merasa bangga bisa memberikan sarung terbaik bagi kiainya.

Dan satu hal lagi, banyak kiai bukan orang kere. Mereka sangat mampu membeli dari koceknya sendiri sarung yang paling mahal sekalipun. Maka mestinya sama sekali tiada yang aneh jika seorang kiai memiliki sarung-sarung kualitas premium: baik hasil pembelian sendiri maupun hadiah. Itu biasa, pake banget.

Sampai sini paham ya.

Jadi kalau ada orang membangun narasi, memproduksi konten dengan tendensi dan tone negatif semata untuk menyoal sarung kiai yang bagus-harga jutaan, itu sungguh theeerlaluuu. Itu framing yang jahat, produk gagal paham, buah dari minimnya ilmu.

Fixed itu orang adabnya kurang bagus, mainnya kurang jauh, gaulnya kurang luas, bacaannya kurang banyak, belajarnya kurang lama. Kurang semua, kecuali julidnya, cupetnya, nyinyirnya, dan sotoynya.

Kota Baru, 16 Oktober 2025
Juwendra Asdiansyah
Wakil Ketua PWNU Lampung 2013-2018 dan 2018-2023

NB: Sejak 2023 saya tidak lagi menjadi pengurus NU, so stok sarung saya mulai menyusut (info saja, bukan kode)

Komentar