VoxLampung, Bandar Lampung – Program Kelas Migran Vokasi yang pertama kali digagas di Provinsi Lampung kini resmi menjadi model nasional pemberdayaan calon pekerja migran. Hal ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman antara Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) dan Pemerintah Provinsi Lampung, Rabu, 30 Juli 2025, di Gedung Bagas Raya, Bandar Lampung.
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, menyebut momen ini sebagai langkah strategis dalam mempersiapkan lulusan SMA dan SMK agar memiliki keterampilan teknis yang relevan serta perlindungan yang memadai untuk bersaing di pasar kerja global.
“Bekerja ke luar negeri harus dipandang sebagai peluang strategis, bukan pilihan terakhir. Ini cara bagi anak-anak muda Lampung untuk meningkatkan kemampuan teknis, memperluas wawasan global, dan kembali sebagai insan profesional yang tangguh,” ujar Gubernur.
Provinsi Lampung saat ini memiliki 5,09 juta angkatan kerja, dengan 4,8 juta telah bekerja. Namun, hanya 29% yang berada di sektor formal, sementara 3,4 juta lainnya masih di sektor informal. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tercatat 4,07% atau sekitar 206.800 orang.
“Jika dilihat dari jenjang pendidikan, TPT tertinggi justru datang dari lulusan SMA dan SMK, masing-masing sebesar 6,88% dan 5,77%. Ini bukti bahwa lulusan kita belum terhubung optimal dengan kebutuhan dunia kerja,” tambahnya.
Sebagai solusi, Pemprov Lampung meluncurkan Program Kelas Migran Vokasi. Program ini akan dimulai pada Tahun Ajaran 2025/2026, dengan target pelaksanaan di 341 SMA/SMK Negeri se-Lampung, membuka 316 kelas dengan sasaran 9.480 siswa.
Program ini menjadi bagian dari misi pembangunan sumber daya manusia unggul serta memperkuat ekonomi inklusif dan berkeadilan. Gubernur juga menegaskan bahwa bekerja secara legal dan profesional di luar negeri akan berdampak langsung pada peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Lampung.
Menteri P2MI, Abdul Kadir Karding, mengapresiasi tinggi inisiatif Lampung yang kini diadopsi secara nasional.
“Lampung adalah pelopor migrasi modern berbasis pelatihan. Ketimbang membangun Balai Latihan Kerja baru, kita manfaatkan ruang pendidikan yang ada agar lulusan punya arah jelas setelah sekolah,” ucapnya.
Ia menambahkan, bekerja di luar negeri membawa lima manfaat utama, termasuk pengalaman kerja internasional yang mampu mendongkrak kesejahteraan pribadi dan pembangunan daerah.
Hingga saat ini, tercatat 8.500 siswa telah mendaftar dalam program ini. Kementerian P2MI dan Pemprov Lampung juga menyiapkan 40 guru bahasa Jepang untuk memperkuat penguasaan bahasa asing sebagai bekal memasuki pasar kerja global.
Program Kelas Migran Vokasi sejalan dengan visi “Bersama Lampung Maju Menuju Indonesia Emas” yang berfokus pada pembangunan SDM, ekonomi inklusif, dan keberlanjutan pembangunan.(Rls)







Komentar