VoxLampung, Bandar Lampung – Setelah berproses selama kurang lebih empat tahun, buku The Smiling Professor Mohammad Mukri akhirnya terbit. Buku ini sejatinya rampung cetak sejak Juli 2024 lalu, namun Profesor Mukri baru mengadakan acara silaturahmi dan syukuran buku pada Minggu malam, 25/8/2024. Acara berlangsung di kediaman pribadinya, Jalan RA Basyid, Fajar Baru, Lampung Selatan.
Editor buku The Smiling Professor, Juwendra Asdiansyah mengatakan, proses pembuatan buku tersebut memakan waktu sekira empat tahun, sejak usulan atau pembicaraan awal. Lamanya proses pembuatan buku itu lantaran kesibukan Mukri dan dirinya sendiri.
“Jadi buku ini prosesnya sudah lama, tapi tidak jadi-jadi karena kesibukan. Padahal rata-rata para penulis sudah mengirimkan tulisannya sejak 2022,” kata jurnalis senior yang akrab disapa Juwe itu.
Menurut mantan pemimpin redaksi Forum Keadilan itu, selain kesibukan, hal yang menjadi kendala dalam pembuatan buku yakni soal pribadi Mukri yang tidak menjadikan popularitas sebagai isu penting di hidupnya. Prof Mukri, kata Juwe, adalah sosok yang sangat jauh dari kepribadian narsistik.
“Prof Mukri ini kita kenal sangat serius dalam bekerja dan banyak hal, tetapi tidak serius tentang dirinya sendiri. Prof Mukri tidak suka mempublikasikan dirinya secara pribadi. Sedangkan di Lampung ini ada orang-orang berani bayar untuk diberitakan,” kata Juwe.
Mantan pemimpin redaksi Duajurai.co itu bilang, isi buku tersebut memang banyak memuji sosok Mukri dan prestasi-prestasinya. Sebab dirinya beranggapan bahwa menceritakan tentang orang baik yang masih hidup sangat penting ketimbang menulis obituari orang yang sudah meninggal.
“Karena sebagus-bagusnya kita menulis obituari, tidak akan dibaca oleh orang yang sudah meninggal itu, dan orang itu tidak bisa menyaksikan apresiasi kita kepada dirinya,” ucap Juwe.
“Kita perlu mengapresiasi kebaikan orang-orang baik, kita perlu menceritakan tentang orang baik. Beliau (Mukri) tentu bukan orang sempurna, namun dengan segala kekurangannya, Prof Mukri punya banyak kelebihan, punya banyak hal baik yang perlu diceritakan kepada kita semua,” lanjutnya.
Juwe menegaskan bahwa terbitnya buku The Smiling Professor di momen menjelang pemilihan kepala daerah hanya kebetulan semata. Tidak ada unsur politik dalam penerbitan buku tersebut.
“Saya berani garansi bahwa buku ini direncanakan dan kita inisiasi sudah lama, jauh sebelum dunia (politik) ini gonjang-ganjing,” tukasnya.

Sementara itu, Mukri dalam sambutannya tak menampik bahwa ia mulanya memang ogah-ogahan untuk dibuatkan buku biografi. Namun, setelah melalui proses panjang, dirinya pun luluh dan menyadari bahwa buku tersebut penting untuk dijadikan warisan bagi anak cucunya.
“Jujur saja, mungkin saya juga jadi dikenal banyak orang itu kadang-kadang satu sisi memudahkan tapi satu sisi juga tidak,” ungkap Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu.
“Tapi saya kan punya keluarga. Jadi buku ini menjadi warisan untuk anak cucu saya,” imbuh Mukri sembari tersenyum.
Mantan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan menjelaskan, tokoh-tokoh yang diminta menuliskan testimoni untuk dimuat di dalam buku tersebut, merupakan sebagian dari sahabat-sahabatnya. Ia memilah sendiri siapa saja yang pas untuk menjadi bagian dari buku biografinya.
“Orang-orang yang saya minta menulis itu karena frekuensinya nyambung dengan saya. Betul-betul saya pilih,” jelasnya.
Tak lupa Mukri menyampaikan terima kasihnya kepada sang editor buku, Juwendra Asdiansyah. Sebab, berkat bujukan Juwe, dan kegigihan Juwe untuk merampungkan buku tersebut, akhirnya The Smiling Professor terbit. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada para penulis testimoni dan seluruh sahabat yang selama ini selalu mendukungnya.
“Terima kasih Mas Juve (panggilan kesayangan untuk Juwendra). Terima kasih sumbangsihnya semua penulis. Terima kasih atas kehadirannya juga malam ini. Semoga silaturahmi ini tetap terjaga,” ucap Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Blitar itu.
Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Lampung yang juga Ketua PWNU Lampung Puji Raharjo mengatakan, Mukri adalah orang tuanya. Ia meneladani dan mencontoh segala hal baik yang dilakukan Mukri, sehingga ia berada di titik sekarang.
“Belasan tahun saya belajar dari Prof Mukri, orang tua saya. Jadi apa yang saya lakukan sekarang, cara bicara di depan umum, cara kerja, mengikuti yang dilakukan Prof Mukri,” ujar Puji.
Acara silaturahmi dihadiri oleh sejumlah tokoh publik, akademisi, politisi, pimpinan media, dan ulama. Acara berlangsung santai dan hangat. Diawali dengan makan bersama dengan menu khas Timur Tengah, dan diakhiri dengan foto bersama.
Buku The Smiling Professor berisi 380 halaman, yang terbagi dalam empat bab. Dibuka dengan pengantar editor, buku diisi dengan perjalanan hidup Prof Mukri pada bab I dan II. Sementara pada bab III diisi testimoni 27 tokoh tentang Mukri. Bab ini diakhiri dengan galeri foto Mukri semasa muda hingga foto-foto bersama tokoh publik lainnya.
Kemudian pada bab VI berisi secuplik pemikiran Prof Mukri, dan buku ditutup dengan ulasan tentang penulis-editor buku, Juwendra Ardiansyah, dan kontributor buku, Yoso Muliawan.
Adapun para penulis testimoni di dalam buku ini adalah Aryanto Munawar, Ahmad Novriwan, Alamsyah, Ardiansyah, Babun Suharto, Erina Pane, Fahrizal Darminto, Faisal, Hamdan Juhannis, Idham Kholid, Ishaq Jubaedi Raqib, Iskandar Zulkarnain, Juwendra Ardiansyah, Lukman Hakim Saifuddin, Muhammad Faizin, Marzuki Noor, Nanang Trenggono, Nirva Diana, Nur Syam, Nyanyu Khodijah, Puji Raharjo, Ruslan Abdul Ghofur, Sopian Sitepu, Sudjarwo, Sujadi, Watoni Noerdin, dan Yoso Muliawan. (*)







Komentar