oleh

Menggagas Penggantian Nama Jalan Prof. Dr. Sumantri Brodjonegoro Menjadi Prof. Dr. Sitanala Arsyad

Oleh : Prof. Admi Syarif, PhD
Dosen Unila dan Tukang tulis

HARI ini kita patut kembali bersyukur atas nikmat yang tak bisa kita pungkiri termasuk umur panjang, kesehatan, dan kesempatan untuk kita bisa merasakan nikmat berhari Raya Idul Adha 1445 H bersama orang-orang yang kita cintai. Rasa syukur perlu kita ekspresikan dengan keikhlasan berkurban dan terus berbuat baik.

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang. Peribahasa ini mengajarkan kita bahwa memang tidak ada balasan pasti dari perbuatan baik kecuali kebaikan.

Kita mengetahui di berbagai penjuru dunia, banyak cara yang digunakan untuk mengekspresikan penghargaan kepada tokoh atau pahlawan yang telah berjasa, diantaranya dengan mengabadikannya menjadi nama gedung, lembaga dan/atau nama jalan.

Tulisan pagi ini menggagas apresiasi kepada Prof. Sitanala Arsyad, yang telah tulus ikhlas mengabdi untuk pembangunan manusia melalui pendidikan di bumi Lampung. Gagasan apresiasi ini kembali dilontarkan dalam bentuk mengabadikan namanya untuk nama jalan atau gedung rektorat di lingkungan Unila.

Nama jalan merupakan hal yang sangat penting, yang biasanya menunjukan lokasi suatu tempat. Nama-nama jalan biasanya memiliki histori tersendiri, salah satunya seringkali dikaitkan dengan sejarah. Tidak jarang nama jalan merupakan nama tokoh atau pahlawan yang berperan sangat penting dalam sejarah.

Universitas Lampung, merupakan salah satu institusi kebanggaan masyarakat Lampung. Saat ini Unila, demikian kita menyebutnya, berlokasi di Jalan Sumantri Brodjonegoro No. 1, Bandar Lampung.

Namun demikian, hingga saat ini, saya belum (sepengetahuan saya) mengetahui bukti otentik yang menyebutkan peran Sumantri Brodjonegoro dalam sejarah Unila yang membuatnya menjadi nama jalan. Dilain pihak, cerita sejarah orang-orang yang berperan penting dalan pendirian dan pembangunan Unila hingga kini dapat kita baca. Beberapa nama di antaranya seperti Sitanala Arsyad, Zainal Abidin Pagar Alam, Kusno Danupoyo, Margono Slamet, Alhusniduki Hamim dan lain-lain.

Prof. Dr. Sitanala Arsyad, rektor pertama Unila misalnya, berperan sangat luar biasa, sepengetahuan saya, dalam sejarah dimasa awal pembanguan Unila. Pria putra daerah asal Negara Bumi Ilir (Lampung Tengah)dengan gelar Doktor dari University of Georgia (USA) inilah rektor pertama Unila yang berkomunikasi dengan pemerintah daerah untuk mendapatkan lahan Unila 50 ha di Gedung meneng saat itu.

“Saat itu saya minta lahan 50 ha agar Unila menjadi Universitas besar. IAIN saat itu hanya minta 5 ha”, ujarnya dalam sebuah obrolan pagi saya di kediamannya (Bogor) beberapa tahun lalu.

Prof. Dr. Sitanala dan tim, sedang meninjau lahan kampus Unila, Gedung Meneng. | ist

Sebagai mana disampaikan oleh Prof. Abdul Kadir Muhammad (salah satu presidium pendirian badan dosen pertama Unila) kepada saya beberapa waktu lalu, “Ketika itu pimpinan perguruan tinggi dipegang oleh presidium, dan ia pun bagian dalam struktur presidium tersebut. Presidium ini bersifat sementara sebelum ada rektor yang definitif, dan salah satu tugas presidium adalah menyiapkan rektor sebagai pemimpin perguruan tinggi menggantikan peran dan fungsi presidium. Salah satu indikator kelayakan seorang rektor Unila saat itu adalah dia merupakan orang Lampung yang menjadi dosen di perguruan tinggi besar. Beberapa nama muncul dalam menentukan siapa yang layak jadi rektor Unila, tetapi kemudian mengerucut pada salah satu nama yaitu Prof. Dr. Ir. Sitanala Arsyad. Beliau merupakan putra Lampung asli dan telah banyak berkiprah di Institut Pertanian Bogor (IPB) sebagai dosen dan pejabat berbagai jabatan struktural kampus yang diembannya”.

Prof. Kadir merupakan orang yang ikut meminta kepada Sitanala untuk dapat menjadi rektor Unila, dan gayung pun bersambut, beliau bersedia menjadi rektor pertama Unila dengan segala keterbatasan dan keadaan yang masih serba sederhana. Pada tahun 1973 resmi Bapak Prof. Dr. Ir. Sitanala Arsyad dilantik menjadi rektor pertama Unila.

“Tahap awal pembangunan Unila, Prof. Dr. Ir. Sitanala Arsyad membangun sarana dan prasarana fisik berupa gedung perkuliahan yang ditempatkan dalam satu lokasi kampus yang strategis, oleh karena itu Unila membutuhkan lahan yang sangat luas untuk merealisasikan tujuan tersebut. Rencana tersebut akhirnya dapat direalisasikan dengan hibah tanah Pemerintah Daerah yang sangat luas di daerah gedung meneng sekarang. Gedung perkuliahan yang pertama kali dibangun adalah Fakultas Ekonomi, Hukum, FKIP, dan pertanian tahun 1974. Beliau memiliki hubungan yang sangat baik dengan Pemda Lampung saat itu.”, Ujar Prof. Kadir saat itu. Karena jasa-jasanya lah, tidak kurang mantan Gubernur Lampung, Bpk. Ir Arinal Djunaidi, pada penyemayaman jenazah Prof. Sitanala, di GSG Unila sampai menyebutkan bahwa beliau ini sangat pantas diberikan gelar pahlawan pendidikan. Sebagai catatan, nama Prof Kadir saat ini sudah diabadikan sebagai nama gedung di FH Unila.

Melihat peran Prof. Sitanala yang begitu besar, saya jadi berandai-andai Unila memberikan ruang untuk mengabadikan nama beliau menjadi nama jalan atau gedung rektorat. Melihat peran beliau, saya terfikir akan kepatutan untuk hal tersebut. Kalau kita ibaratkan dengan memberikan hadiah baju, maka baju ini ukurannya sudah pas, tidak kesempitan yang bisa membuat menyesak atau sakit saat bernafas dan tidak juga kebesaran sehingga tidak elok dipandang.

Tentu saja bukanlah hal yang mudah dalam penggantian nama jalan seperti ini. Namun demikian, sudah juga banyak contoh dilakukan. Anies Baswedan, dengan berbagai alasan dan tujuan misalnya, beberapa waktu lalu mengganti 22 nama jalan di Jakarta dengan nama tokoh betawi. Kota-kota lain juga sudah melakukan perubahan nama Jalan, seperti Surabaya misalnya. Tentu kita perlu berkomunikasi dengan pemerintah daerah dan DPRD untuk hal ini, karena mungkin hal ini perlu dikuatkan dengan payung hukum untuk mengantisipasi akibat hukum (paling tidak akibat administrasi).

Tulisan ini hanyalah sedikit masukan sebagai pertimbangan bagi pengambil keputusan. Penulis, tentu saja, bukanlah bermaksud untuk mengecilkan ataupun meniadakan peran seseorang ataupun kelompok. Sebagaimana kita bersetuju bahwa “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya”.

Penanoi bahaso sikam puuun, kimalik wat sai nyembak di metteii gheppok, mahap ngalimpuro puuun (Demikian bahasa saya, mohon maaf kalau ada yang kurang berkenan). Teruslah berbuat BAIK untuk Lampung yang lebih baik.(*)

Print Friendly, PDF & Email

Komentar

Rekomendasi