Oleh: Dr. Khaidarmansyah, S.H.,M.Pd
Ketua Dewan Pembina KBSB Provinsi Lampung, dan Mantan Plt. Sekda Kota Bandar Lampung
Disampaikan pada acara: Hari Jadi PKPS Provinsi Lampung ke-56
Maota di Palanta Urang Pasisie
RANAH Minang adalah negeri yang sangat indah, cantik pemandangan alam nya, hijau sawah dan ladangnya serta sejuk alam pegunungan nya. Disamping itu, falsafah hidup Ädat basandi syara’ Syara basandi Kitabbulah adalah falsafah hidup orang minang yang menunjukkan budaya yang kuat yang dilandasi oleh ajaran agama Islam.
Ranah Minang selalu membuat rindu anak rantau untuk pulang ke kampuang halaman nya. Larama saluang dan bansi yang mendayu-dayu, tingkah talempong dan rabab, serta gendang yang bertalu-talu, membuat batin dan fikiran ini kembali menerawang, masa-masa hidup di kampung halaman yang penuh dengan suka cita dan canda tawa. Berlarian di pematang sawah setelah menangkap belut, bermain layang-layang setelah panen padi, dan bermain sepak bolah di kala sore hari, menjadi kegiatan rutin semasa kanak-kanak di Ranah Minang.
Ranah Minang yang dicita-citakan oleh para leluhur orang minang dahulu, digambarkan dalam pepatah :
Bumi Sanang
Padi Manjadi
Jaguan Maupiah
Taranak Bakambang
Ayah Kayo, mande batuah
Niniak mamak disambah urang pulo
Gambaran ranah minang yang demikian itu, selaras dengan bahasa agama, yakni “Nagari yang Baldatun, Toyibbatun, Warobbun Gofur” atau dalam Bahasa Jawa Kuno nya “Negeri yang Tata Tentrem Kerto Raharjo, Ijo royo-royo”.
Inilah visi para leluhur kita yang menggambarkan Ranah Minang yang aman, damai sejahtera dan sentosa. Pertanyaannya adalah, siapa yang bisa mewujudkan visi atau gambaran masa depan itu? tentu jawabannya adalah semua anak nigari yang berasal dari ranah minang, baik yang di kampuang, maupun yang di rantau, baik yang lahir di kampuang, maupun yang lahir dan besar di perantauan. Darah minang yang mengalir di tubuh orang minang, harus diteguhkan dengan pengabdian untuk membangun kampuang.
Banyak tokoh-tokoh minang yang sukses di perantauan, bahkan tidak sedikit tokoh-tokoh minang yang dicatat dengan tinta emas dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Negera Kesatuan Republik Indonesia ini. Sebut saja seperti Tuanku Imam Bonjol, Muhammad Hatta, Natsir, Muhammad Yamin, Tan Malaka, H. Agus Salim, Rohana Kuddus. Ada juga para pujangga atau sastrawan yang berasal dari ranah minang, seperti Abdul Muis, Buya Hamka, A.A. Navis, serta tokoh yang sukses di bidang ekonomi, seperti Chairul Tanjung, Aminujal Amin, dan banyak juga yang jadi jurnalis seperti Karni Ilyas, dan sebagai. Deretan nama-nama tersebut yang membuat harum Provinsi Sumatera Barat atau yang lebih akrab disebut Ranah Minang.
Tradisi merantau orang minang dilandasi filofosi
Karatau Madang di hulu
Babuah babangu balun
Marantau lah bujang dahulu
Di kampuang paguno balun
Filosofi ini menegaskan bahwa, anak-anak mudo minang yang sudah tamat sekolah ataupun kuliah, diimbau untuk pergi merantau, karena di kampung belum ada yang bisa mereka perbuat, karena belum bekerja. Kita harus menghadang lautan luas, hutan belantara perkotaan, untuk bisa eksis mencari rezeki.
Filosofi itu diperkuat lagi dengan pepatah “Sayang jo anak di lacuik, saying jo kampuang ditinggakan” Maksudnya, kalau kita sayang dengan anak kita, maka ajari lah anak kita dengan disiplin, dan kalau kita sayang dengan kampung kita, maka tinggalkan lah kampung itu, dan kembali lagi kalau sudah sukses, seperti pepatah yang mengatakan “setinggitinggi terbangnya bangau, pasti Kembali ke kubangan juga”
Ada lagi pepatah minang yang mengajarkan cara kita pergi merantau, yaitu :
Kalau Bujang hendak ka lapau
Hiu bali, Belanak bali, ikan Panjang bali dahulu
Kalau Bujang hendak pergi merantau
Ibu dicari, dunsanak dicari, induak samang di cari dahulu
Pepatah ini mengajarkan kepada anak muda minang yang akan pergi merantau, bahwa kalau sudah sampai di rauntau, carilah ibu angkat, carilah saudara-saudara yang senasib sepenanggungan, dan yang paling penting, dan yang didahulukan cari ïnduk semang”, arti orang yang bisa memberi kita pekerjaan. Kalau ini bisa kita dapatkan di rantau, maka tidak akan susah kita hidup di rantau.
Dalam hal bekerja, ada adab yang harus diikuti oleh orang minang, sesuai dengan pepatah sebagai berikut :
Kayu hutan bukan andaleh
Elok dibuek ka lamari
Tahan hujan barani bapaneh
Baitu urang mancari rasaki
Filosofi ini mengajarkan bahwa perantau minang itu harus kuat fisik dan kuat mental, dan tidak boleh “cemen”. Harus bangkit lagi kalau sudah terpuruk. Tidak ada perjalanan hidup ini yang selalu mulus dan sesuai dengan kehendak kita, tapi penuh onak dan duri, pasang naik dan pasang surut. Jadi, jangan pernah menyerah, evaluasi di mana kesalahan kita yang menyebabkan kita gagal, dan perbaiki untuk tidak gagal lagi.
Hal lain yang harus dilakukan agar kita sukses di rantau yaitu buat jaringan (networking), baik melalui organisasi kedaerahan, organisasi keagamaan, atau organisasi apa pun juga, agar kita banyak bergaul dan banyak kawan, karena prinsip hidup itu, rezeki itu datang dari Allah SWT melalui perantaraan teman. Makin banyak kawan, makin banyak informasi dan makin banyak peluang yang bisa kita dapatkan.
Prinsip hidup berikutnya diperantauan adalah, harus banyak belajar. Ilmu pengetahuan berkembang terus, kesempatan akan banyak datang kalau kita rajin belajar. Prof. Prahalad, seorang ahli manajemen mengatakan Ïf you don’t learn, you don’t change, if you don’t change, you will die”
Jadi, kalau kita ingin berubah dan merubah nasib ini menjadi lebih baik, maka banyak-banyaklah belajar. Raihlah kesempatan dan gunakan kesempatan itu dengan baik. Dalam bertutur kata, gunakan prinsip hidup orang minang “Tau di nan ampek” yaitu tahu dengan empat cara bertutur kata. Ada empat cara bertutur kata, yaitu kato mandaki, kato manurun, kato mandata, dan kato malereang.
Kato Mandaki (berkata secara mendaki) yaitu cara berbicara dengan orang yang lebih tua dari kita, berbicara dengan pimpinan kita, ataupun berbicara dengan tokoh-tokoh yang kita segani. Kato Manurun, yaitu cara berbicara dengan orang yang lebih muda dari kita. Kato Mandata, yaitu cara berbicara dengan orang yang sebaya dengan kita, orang yang menjadi teman main dan teman bisnis kita, dan Kato Malereang adalah cara kita berbicara dengan kakak ipar atau adik ipar kita, dengan menggunakan bahasa kiasan. Tentu cara bertutur kata pada masing-masing kato tersebut berbeda-beda. Di situlah digunakan kearifan dan tingkah laku kita dalam menggunakannya.
Terakhir, agar kita bisa sukses di rantau, maka hati-hati dalam setiap tindakan. Semua tindakan, perilaku atau pun perkataan, harus dipikir masak-masak. Pertimbangkan dengan sebaik mungkin, sebelum berbuat, seperti kata pepatah pikir dulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna. Hati-hati meniti buih, agar selamat badan sampai ke seberang.
Tulisan ini saya tutup dengan pepatah minang:
Nak Kayo, kuek mancari
Mau kaya, harus kuat bekerja
Nak Tuah, bertabur urai
Mau bertuah, harus mau memberi
(berbagi harta)Nak Mulie, tapek I janji
Mau mulia, tetapi janji
Nak Namo, tinggakan jaso
Mau punya nama, tinggalkan jasa
Nak Pandai, kuek baraja
Mau pinter, harus kuat belajar
Bandar Lampung, 17 Desember 2023. (*)







Komentar