oleh

Aksi Adaptasi Perubahan Iklim, Pemda Lampung Timur-YKWS dan Pattiro Bentuk Pokja API

VoxLampung.com, Lampung Timur –
Pemerintah Kabupaten Lampung Timur bekerja sama dengan Pattiro Lampung dan Yayasan Konservasi Way Seputih (YKWS) menggelar diskusi terfokus dalam rangka pembentukan kelompok kerja (Pokja) Aksi Adaptasi Perubahan Iklim yang Responsif Gender di Lampung Timur, pada Rabu, 3/8/2022.

Kegiatan ini dalam rangka menindaklanjuti Program VICRA (Voice of Inclusiveness Climate Resilience Action) yang bertujuan mendorong adanya kebijakan pembangunan berketahanan iklim, khususnya terkait ketahanan pangan di Kabupaten Lampung Timur.

Diketuai oleh Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Lampung Timur, M Yusuf HR, kelompok kerja ini akan melakukan kajian-kajian untuk merumuskan rekomendasi kebijakan aksi perubahan iklim yang responsif gender di Kabupaten Lampung Timur.

Perubahan cuaca yang ekstrem telah memberikan dampak yang signifikan di berbagai sektor, salah satunya ketahanan pangan Kabupaten Lampung Timur. Menurut Yusuf, produksi lada membutuhkan musim yang tegas untuk bisa bertumbuh. Selain itu, kapasitas ekspor juga menjadi terbatas akibat produksinya yang terhambat.

“Sekarang kita musim kemarau, baru dimulai Agustus. Padahal seharusnya sudah dari beberapa bulan lalu. Sedangkan lada, kalau tidak ada musim kemarau tidak berbuah,” kata Yusuf, berdasarkan rilis yang diterima media ini.

Sutrisna, anggota Pokja perwakilan Dinas Ketahanan Pangan Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (KPTPH-Bun) Lampung Timur juga mengatakan bahwa dampak perubahan iklim di Lampung Timur saat ini justru membuat kelebihan air.

Anggota Pokja API yang responsi Gender lainnya terdiri dari Dinas Lingkungan Hidup sebagai sekretaris, Bappeda Kabupaten, BPBD, Dinas PUPR, Dinas P3AP2KB, dan Yayasan Konservasi Way Seputih.

Isyanto selaku koordinator Program VICRA di Lampung Timur mengatakan bahwa Pokja ini diharapkan bisa memberi masukan atau rekomendasi kebijakan terkait aksi adaptasi perubahan iklim yang responsif gender sehingga bisa menjadi prioritas pembangunan di Kabupaten Lampung Timur.

Menurut Isyanto, melalui program ini diharapkan juga bisa mengadvokasi suara-suara kelompok rentan, baik dari kelompok petani, perempuan, anak, dan kelompok disabilitas. Dalam hal ini, Kabupatena Lampung Timur menyoroti peran Perempuan dan Anak dalam aksi adaptasi perubahan iklim.

“Dampak perubahan iklim kepada setiap kelompok pun berbeda-beda. Bagaimana perempuan dan laki-laki merespon adanya perubahan iklim juga berbeda. Sehingga kita perlu mendorong kebijakan yang responsif gender,” ujarnya.(Rls)

Print Friendly, PDF & Email

Komentar

Rekomendasi