VoxLampung.com, Bandar Lampung – Para buruh perempuan yang tergabung dalam Federasi Serikat Buruh Makanan dan Minuman, mengadakan pelatihan dan diskusi umum secara tatap muka dan virtual, Sabtu, 6/3/2021. Kegiatan itu dalam rangka peringatan Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada tanggal 8 Maret.
Aisyah, Ketua Komite Perempuan
Federasi Serikat Buruh Makanan dan Minuman mengatakan, kegiatan itu menghadirkan narasumber Sely Fitriani, Direktur LaDa-Damar, dengan mengusung tema “Ciptakan Serikat dan Tempat Kerja Aman bagi Perempuan”.
“Bergabunglah bersama kami untuk terus melakukan perlawanan terhadap segala bentuk ketidakadilan dan penindasan. Bangkitlah perempuan yang melawan!” Seru Aisyah melalui rilisnya, Sabtu, 6/3/2021.
Aisyah bilang, situasi dewasa ini semakin membuat peradaban teknologi kian canggih, namun membuat kehidupan generasi semakin menjerit, merintih akibat ketidakjelasan pekerjaan untuk menghidupi diri.
Sejumlah pekerjaan dari berbagai sektoral, mulai dari industrial, komersial, bahkan hiburan juga semakin tidak ada kejelasan terhadap para tenaga kerja yang mengabdi untuk mencari pundi-pundi materi.
Gejolak dunia perekonomian dengan berbagai sudut pandang serta himpitan tuntutan kehidupan membuat para tenaga kerja harus memutar otak berkali lipat demi mendapatkan materi di tengah krisis yang terjadi.
“Pencarian materi bukan hanya bersubjek laki-laki. Perempuan dengan segala peranan memegang tanggung jawab penuh atas pemenuhan kebutuhan materi,” Kata Aisyah.
Ia mengatakan, tak hanya di bidang rumah tangga, begitu banyak perempuan yang bekerja membagi waktunya bahkan separuh hidupnya demi suatu pencapaian yang harus diemban.
Negara yang makmur dengan hasil bumi melimpah, yang kita tinggali, kaki kita berpijak pada bumi yang memberikan hidup, bernama Indonesia, pada hari ini juga telah memberikan warna berbeda pada rakyatnya.
“Rakyat yang merupakan nyawa berharga suatu negara, kini telah kesusahan untuk mencari pekerjaan. Anak bangsa yang cemerlang kini dirundung malang di tengah kebijakan pemerintahan yang menyengsarakan,” Ungkap dia.
Pandemi lagi-lagi dikambinghitamkan atas ketidakjelasan pemerintah memberikan ruang pekerjaan terhadap rakyatnya.
Pemutusan hubungan kerja bertubi-tubi yang mengorbankan para tenaga kerja laki-laki dan perempuan. Para perempuan yang menjadi tulang punggung keluarganya.
Perempuan yang harus menghidupi kebutuhan hidup layak, namun pemerintah, investor, serta pengusaha memperlakukannya secara tidak layak dengan merenggut hak-hak perempuan.
“Perempuan yang rentan pelabelan negatif. Perempuan yang selalu mendapatkan perlakuan diskriminatif. Perempuan yang ruang geraknya dibatasi. Perempuan yang menjadi objek pelecehan dan kekerasan. Perempuan yang sudah saatnya bangkit dari masa penindasan,” Papar Aisyah.
Polemik di negeri sendiri, lanjutnya, memaksa perempuan untuk bangkit, demi tegaknya keadilan di tengah juang pertahanan kehidupan.
Para perempuan di seluruh sektoral berjuang dengan pendidikan, bertarung melawan waktu, dan bernegosiasi dengan emosinya sendiri demi pergerakan, pertahanan, serta perubahan dunia agar menjadi lebih baik.
“Tak segan perempuan pun bertaruh nyawa dan masa depan. Kriminalisasi dijadikan kebiasaan untuk membungkam gerak perempuan yang berani menyuarakan keadilan,” Katanya.
Pelecehan dan kekerasan dijadikan tradisi untuk membuat depresi hingga bunuh diri. Tak terhitung berapa banyak para perempuan yang menjadi korban berpangkat pahlawan demi tegaknya keadilan.
“Para perempuan dituntut untuk bisa menghadapi seluruh keadaan dengan seluruh kondisi fisik dan psikologi yang tidak memungkinkan,” Ungkap Aisyah.
Adapun anggota Federasi Serikat Buruh Makanan dan Minuman beranggotakan 20 Serikat Buruh perusahaan, yakni Serikat Buruh Mandiri Umas Jaya Agrotama (SBMUJA), Serikat Pekerja Karya Mandiri Fermentech Indonesia (SPKMF), Serikat Pekerja Mandiri Sugar Labinta (SPMSL), Serikat Pekerja Bumi Menara Internusa (SPBMI).
Kemudian, Serikat Buruh Phillips Seafoods Indonesia (SBPSI), Serikat Buruh Nestle Indonesia Panjang (SBNIP), Serikat Buruh Coca Cola Distribusi (SBCCD), Serikat Pekerja Nutricia Indonesia (SPNI), Serikat Buruh Savoria Cikupa (SBSC), dan Serikat Buruh Coca Cola Bottling (SBCCB).
Lalu, Serikat Buruh Nestle Indonesia Karawang (SBNI Karawang), Serikat Buruh Kalbe Morinaga Indonesia (SBKMI), Serikat Buruh Mandiri Danone Aqua Indonesia Cibinong (SBMDAIC), Serikat Buruh Mandiri Danone Indonesia Aqua Subang (SBMDIAS).
Selanjutnya, Serikat Pekerja Mandiri Kecap Bango (SPMKB), Serikat Pekerja Mandiri Coca Cola (SPMCC), Serikat Buruh Mandiri Coca Cola (SBMCC), Serikat Pekerja PT Indolakto Pandaan (SPPTTIL), Serikat Buruh Nestle Indonesia Gempol (SBNIG), serta Serikat Buruh Nestle Indonesia Kejayan (SBNIK).(*)







Komentar