oleh

Kala PLN Tumbuhkan Asa Warga Pulau Sebesi

Menjelang waktu subuh, Taufik memutuskan pulang. Sesekali tangannya mengusap wajah untuk mengusir kantuk. Dia terus melihat kejauhan.

Bermodal cahaya dari lampu minyak seadanya, kapal motor yang dikemudikan Taufik terus melaju.

Udara dingin menyergap tubuhnya. Meski telah berjaket tebal, ia masih merasakan angin meresap sampai ke tulang.

Tak berselang lama, Taufik bersiap hendak melempar jangkar. Mesin kapal ia matikan. Tali jangkar sudah di tangan kirinya.

Namun, betapa terkejutnya ia, ketika menyadari dataran yang berjarak sekitar 30 meter dari posisi nya itu ternyata bukan pulau tempat tinggalnya.

Ya, itu adalah pulau Umang-umang. Memang lokasinya tak jauh dari Pulau Sebesi, tempat tinggal Taufik.

“Duh kesasar lagi,” Kata Taufik sembari tepuk jidat


Begitulah kehidupan para nelayan Pulau Sebesi beberapa tahun lalu. Kejadian serupa kerap terjadi selama puluhan tahun.

Kala itu, listrik belum menjangkau Pulau yang letaknya paling dekat dengan Gunung Anak Krakatau (GAK), di Selat Sunda, Lampung Selatan.

“Nelayan kesasar sudah biasa. Lha gak ada penerangan atau penanda sama sekali di Pulau nya. Jadi dulu, nelayan yang mau pulang ke Pulau Sebesi, sering nyasar ke Pulau Umang-umang,” Kenang Taufik.

Taufik bilang, sumber penerangan kala itu adalah obor dan lampu minyak atau disebut dengan lampu totok. Itupun kalau ada minyak tanah, ketika minyaknya habis, obor dan lampu totok padam dengan sendirinya.

Kehidupan di Pulau itu hanya terasa “hidup” pada siang hari. Anak-anak sekolah segera merampungkan pekerjaan rumah (PR) dari sekolahnya pada sore hari.

Pun demikian para ibu. Semua pekerjaan dikebut selesai pada siang hari. Mencuci, masak, melipat baju, merapikan hasil panen dari kebun, semuanya rampung sebelum matahari kembali ke peraduannya.

Warga pun tak berani keluar rumah pada malam hari. Di luar rumah, banyak dijumpai hewan buas seperti babi dan ular. Babi-babi warisan zaman kolonial itu berani datang ke perkampungan karena suasana yang gelap gulita.

Kalaupun harus keluar rumah karena ada sesuatu hal mendesak, maka warga harus membawa obor untuk penerangan nya. Setelah urusan beres, mereka segera kembali ke rumahnya.

Nyaris tak ada kegiatan lagi pada malam hari. Senyap, bak pulau tak berpenghuni.

Suara jangkrik berpadu gemerisik dedauanan yang diterpa angin, menciptakan lantunan alam, mengiringi anak-anak perkampungan Pulau Sebesi hanyut dalam mimpinya.

Sementara di sekitar dermaga, debur ombak menjilati bibir pantai, menanti kapal-kapal nelayan sandar, dalam kegelapan.

Listrik Mulai Masuk

Pada sekitar tahun 1995, listrik mulai masuk wilayah itu. Warga menyambut dengan suka cita. Namun, listrik yang dihasilkan dari Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) itu hanya hidup enam jam dalam sehari, mulai pukul 18.00 WIB hingga 24.00 WIB.

Itupun tidak menyeluruh. Listrik yang menyala enam jam pun hanya menerangi dua dari total empat dusun di Pulau Sebesi.

“Listrik 6 jam itu hanya bisa dinikmati di Dusun 1 dan 2, sedangkan Dusun 3 dan 4 masih gelap gulita sepanjang malam,” Kata mantan Sekretaris Desa Tejang, Pulau Sebesi itu, melalui telepon.

Warga Dusun 1 dan 2, meski sudah mendapat fasilitas listrik, tapi masih belum bisa sepenuhnya menikmati. Seringkali mereka juga merasakan gelap gulita sepanjang malam, tatkala bahan bakar PLTD yakni Solar, terlambat datang dari Kalianda.

Tatkala listrik mulai menyala pada waktu petang, warga buru-buru memanfaatkan momen untuk berbagai keperluan, seperti belajar, mengisi baterai telepon genggam, mendengar radio, menyalakan televisi, komputer dan lainnya.

Sedangkan kehidupan siang hari, tetap tanpa listrik. Hal itu membuat warga tetap tak bisa berbuat banyak. Kala itu anak-anak sekolah pun masih mengalami kesulitan ketika hendak belajar komputer.

Khususnya para nelayan, mereka belum merasakan dampak yang signifikan dengan hadirnya listrik 6 jam. Betapa tidak, mereka kebanyakan membutuhkan penerangan di Dermaga pada waktu malam menjelang subuh, yakni waktunya mereka sandar setelah melaut.

Tak hanya itu, mereka juga memerlukan freezer atau kotak pendingin untuk penyimpanan ikan hasil tangkap. Kalaupun tak ada freezer, setidaknya butuh es batu agar ikan tetap segar.

Nelayan saat itu mesti membeli es batu dengan harga cukup tinggi, yakni Rp 3.000 per kantong, ukuran plastik satu kilogram. Untuk menjaga kesegaran ikan hasil tangkap, mereka butuh belasan hingga puluhan kantong es batu. Itupun adakalanya mereka harus membeli dari luar pulau, lantaran tak tersedia di Pulau Sebesi.

Ada sejumlah warga yang mendapatkan bantuan panel Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Sehingga mereka tak bergantung pada listrik dari PLTD. Namun jumlahnya sedikit sekali.

Sementara itu, warga di Dusun 3 dan 4 puluhan tahun hidup dalam kegelapan. Hingga akhirnya, mereka mengenal genset diesel. Genset dihidupkan pada waktu yang dibutuhkan, yaitu ketika langit mulai gelap, dan dimatikan sekira pukul 22.00 WIB. Warga memang harus menyiapkan kocek lebih dalam untuk sekadar menikmati lampu dari genset.

“Untuk satu malam, genset butuh bahan bakar 2-4 liter. Harga per liter Rp10 ribu. Jadi satu malam bisa keluar uang Rp20-40 ribu hanya untuk listrik genset, itupun hanya hidup beberapa jam,” Kata Irwansyah (32), warga Dusun 4 Pulau Sebesi, yang sehari-hari berprofesi sebagai nelayan.

Listrik Mulai Bisa Dinikmati 24 Jam

Setelah berganti beberapa bupati, dan berkali-kali mengusulkan, akhirnya keinginan warga Pulau Sebesi terwujud.

Pada peringatan Hari Listrik Nasional ke-74, PLN Unit Induk Distribusi Lampung bersama PLN UP3 Tanjung Karang dan PLN ULP Kalianda, memberikan harapan baru bagi masyarakat Pulau Sebesi.

PLN menghadirkan PLTD Sebesi sebesar 3×100 kW, yang bertempat di Dusun 4. Sehingga, per 1 November 2019, warga di Pulau Sebesi bisa menikmati listrik 24 jam.

Tak hanya di Dusun 1 dan 2, listrik 24 jam juga bisa dinikmati oleh warga Dusun 3 dan 4. Warga bersuka cita. Tangis haru warga tak terbendung lagi saat mengetahui kabar bahagia yang selama ini mereka impikan.

Kehidupan Baru Warga Pulau Sebesi

Sejak saat itu, kehidupan warga Pulau Sebesi berangsur berubah. Selama 24 jam, seluruh warga bisa menikmati listrik.

Kerlap-kerlip lampu dari rumah penduduk, membuat suasana semakin syahdu. Tawa ceria anak-anak bermain di halaman rumah yang terang benderang membuat suasana desa jadi hidup. Semua bahagia. Semua kebagian manfaatnya.

Tak hanya para nelayan yang kini tak pernah lagi kesasar, sektor pertanian, pendidikan, bahkan sektor pariwisata ikut terdampak dan memiliki kemajuan pesat.

“Alhamdulillah pertumbuhan ekonomi di sini kian membaik sejak listrik hidup 24 jam,” Ungkap pria kelahiran 1967 itu antusias.

Banyak usaha baru bermunculan, seperti usaha foto copy, tempat pembuatan es batu, penginapan, tempat hiburan, kafe, rumah makan, konter handphone, dan banyak lagi.

Terlebih saat ini Pulau Sebesi sudah menjadi salah satu tujuan wisata di Lampung Selatan. Kedatangan wisatawan di sana tentu menjadi ajang mengumpulkan pundi-pundi rupiah bagi masyarakat setempat.

Usaha kapal motor penyebarangan nasibnya pun kian membaik. Wisatawan yang hendak menuju Pulau Sebesi sudah pasti menggunakan jasanya. Banyaknya wisatawan yang melirik Pulau Sebesi sebagai tujuan rekreasi itu seiring kian membaiknya sarana dan prasarana yang ada di pulau tersebut setelah masuk listrik.

Kawasan Dermaga dan pantai Pulau Sebesi kini selalu ramai pada malam hari. Pedagang kecil terus tumbuh. Mereka menjual kopi, minuman jahe, dan berbagai kudapan. Warga lokal, maupun wisatawan, senang sekali kongkow di tepi pantai, sambil nyeruput minuman hangat yang mereka beli.

Para petani juga lebih mudah dalam hal memasarkan hasil bumi seiring dengan perkembangan teknologi, yang disokong ketersediaan listrik. Pulau Sebesi memang memiliki tanah yang sangat subur, sehingga hasil pertanian di sana cukup baik.

“Saya sekarang fokus ke pertanian. Sehari-hari banyak di kebun. Melihat perkembangan Pulau Sebesi yang pesat ini membuat saya bahagia,” Kata pria yang pernah menjadi Ketua Rukun Nelayan di Pulau Sebesi itu.

Anak-anak sekolah termasuk yang merasakan dampak luar biasa dengan adanya listrik 24 jam. Mereka kini bisa leluasa belajar. Mereka juga bisa menggunakan komputer dan telepon pintar kapanpun. Terlebih, di era belajar daring pada masa Pandemi Covid-19 seperti sekarang ini. Semuanya jadi lebih mudah berkat ketersediaan listrik.

Khususnya Nelayan, kini mereka bisa beroperasi kapan pun. Bahkan ketika ada kerusakan mesin kapal, mereka tak harus menunggu siang hari untuk memperbaiki, lantaran pada malam hari pun pencahayaan sudah baik.

Selain itu, mereka bisa mendapatkan es batu dengan harga yang jauh lebih murah, yakni Rp1.000 per kantong ukuran 1 kilogram, dari harga sebelumnya Rp3.000 per kantong.

“Dulu sebelum listrik 24 jam kami susah mendapatkan es untuk kirim ikan hasil tangkapan. Kalau sekarang mudah, karena es juga sudah jadi dalam waktu 24 jam. Meskipun, sekarang kami tidak perlu banyak es batu, karena ketika sandar dari laut, ikan langsung masuk ke pengepul yang punya freezer,” Kata Irwansyah.

“Kami masyarakat Pulau Sebesi memang terbantu sekali dengan masuknya listrik ke sini. Terimakasih pak Presiden, terimakasih PLN,” Imbuh pria yang sudah puluhan tahun menjadi nelayan itu.

Mengenai pembayaran listrik, kini warga juga merasa lebih bisa bernafas. Per bulan, rata-rata warga hanya mengeluarkan Rp100 ribu untuk membeli token listrik. Angka ini jauh lebih hemat ketimbang mereka membeli bahan bakar genset diesel.

Meskipun segala hal tak selalu berjalan mulus. Kadangkala ada kerusakan mesin PLTD, sehingga mengalami pemadaman bergilir, namun hal itu dapat dimaklumi warga.

Pulau Sebesi sendiri secara administratif berada di wilayah Desa Tejang, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung. Pulau seluas 2.620 hektar yang berbentuk seperti gunung ini, secara geografis terletak di Selat Sunda atau wilayah selatan perairan Lampung.

Pulau yang menjadi saksi bisu letusan Krakatau tahun 1883 itu dapat diakses melalui Dermaga Canti, di Kecamatan Rajabasa, Kalianda, Lampung Selatan, dengan waktu tempuh kurang lebih 2 jam.

Sebanyak 750’an Kepala Keluarga atau sekitar 3.000 jiwa yang menghuni Pulau Sebesi kini telah tumbuh semangatnya.

Listrik telah memberi kehidupan baru bagi mereka. Meski terpencil, kehidupan warga Pulau Sebesi kini benar-benar “hidup”.

Semua itu tak lepas dari manfaat program Terangi Negeri, yang memberi kesempatan pada masyarakat yang tinggal di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar) untuk turut menikmati kehidupan terang benderang setiap waktu.

Semua anak negeri, kini berhak menggapai cita-citanya, tak peduli ia tinggal di mana.(Imelda)

Komentar