Voxlampung.com, Bandar Lampung – Kuliner Jogja La Rise kini pindah ke lokasi baru. Dari lokasi awal di Jalan Pulau Batam, kini berada di Jalan Arif Rahman Hakim nomor 83, dekat Rumah Makan Kayu, Way Halim, Bandar Lampung.
Tak tanggung-tanggung, Cafe dan Resto Kuliner Jogja La Rise langsung “memindahkan” Jogjakarta ke Lampung. Kafe didesain sedemikian rupa, sehingga membuat pengunjung akan merasakan suasana bak berada di Kota Keraton.
Grand Opening kafe berlangsung hari ini, Sabtu, 9/1/2021, dimulai sekira pukul 13.30 WIB. Acara diisi dengan pengguntingan pita di pintu masuk, sebagai tanda kafe dibuka secara resmi. Dilanjutkan dengan acara pemotongan tumpeng sebagai ungkapan syukur. Acara dihadiri tamu undangan berjumlah kurang lebih 100 orang.

Maya Agustia Sari, Owner Cafe dan Resto Kuliner Jogja La Rise mengatakan, pihaknya telah melakukan soft opening pada 23 Desember 2020 lalu, dan hari ini, menggelar grand opening.
“Sebelumnya pada 26 Oktober 2019 lalu, kami sudah ada di Jalan Pulau Batam. Alhamdulillah antusias masyarakat sangat bagus, kami selalu ramai. Tapi banyak yang mengeluhkan parkir sempit dan ruangan yang kecil. Maka kami memutuskan untuk pindah tempat. Di tempat baru ini lokasinya luas, banyak ruangan, parkir mobil dan motor juga luas,” Kata Maya kepada Voxlampung.com, Sabtu sore.

Maya mengungkapkan, selama dua pekan persiapan grand opening, pihaknya menjalani perjuangan yang cukup rumit, lantaran saat ini dalam masa pandemi Covid-19. Prosedur mengadakan acara sangat ketat, dengan izin berjenjang hingga ke Satgas Covid-19.
“Acara hari ini pun diadakan dengan cara yang sederhana, dan jumlah undangan juga dibatasi. Kami bagi tamu undangannya dalam tiga sesi. Pada sesi pertama itu acara resminya, lanjut sore dan malam hari itu untuk undangan makan-makan saja,” Ungkap Maya.

Mengenai konsep kafe yang kental akan budaya Jogjakarta, Maya bilang, bahwa konsep itu adalah mimpi besarnya. Sebagai pecinta kuliner khas Jogjakarta, Maya tak ingin sekadar menyajikan menunya di Lampung, tetapi juga ingin menghadirkan suasananya.
“Kalau dulu di tempat lama hanya menghadirkan tugunya saja, di sini saya bawa becak, sepeda, dan berbagai pernak pernik asli barang jadul dari Jogjakarta. Mendapatkan barang-barang ini juga tidak mudah di sana,” Beber pemilik sekolah penerbangan PSPP Lampung itu.
Selain konsep bangunan yang kental Jogja, konsep pelayanannya juga terasa seperti sedang berada di lingkungan Keraton, karena seluruh pegawai menggunakan baju seragam tradisional Jogjakarta. Bahkan, La Rise memboyong langsung Koki dari Jogjakarta, agar rasa yang disajikan benar-benar khas.
Terkait menu yang disediakan, ada banyak penambahan varian. Jika sebelumnya hanya ada Bakmi Jawa, Wedang Ronde, Gudeg, dan makanan angkringan, sekarang ada aneka menu Nusantara.
“Jadi kami juga sediakan menu khas Lampung, Palembang, Padang, Surabaya, dan lain-lain. Jadi kalau yang sudah bosan atau kurang suka menu Jogja bisa menikmati varian menu lainnya. Cocok untuk hidangan berbagai acara,” Kata dia.

Mengenai harga makanan dan minuman, Maya menjamin harga yang ditawarkan relatif standar, sesuai dengan kualitas rasa dan fasilitas yang tersedia.
Adapun fasilitas yang tersedia di sana, yakni ada banyak spot foto menarik, yang tersebar di 20 ruangan. Setiap ruang punya nuansa yang berbeda.
“Fasilitas kita di sini banyak sekali, ada 20 ruangan lengkap dengan spot foto. Ada banyak spot foto favorit, di antaranya spot becak, keraton Jogja, sepeda ontel, ruangan dengan pernak-pernik kuno, dan lainnya,” Ungkap Maya.

Kemudian, ada ruang meeting dengan kapasitas 30 orang, lengkap dengan fasilitas karaoke. Selain di lantai satu, tersedia juga ruangan di lantai dua dengan spot foto yang tak kalah menarik.
Ada juga fasilitas tempat bermain anak, dengan harapan orang tua bisa lebih santai saat mengajak anaknya makan di sana.
“Semoga dengan kehadiran Kuliner Jogja La Rise dapat mengobati kerinduan akan Jogjakarta. Kini, tak perlu jauh-jauh ke Jogja untuk menikmati makanan khas, dan suasana yang kental akan nuansa keraton, di sini sudah tersedia,” Imbuh Maya. (Imelda)







Komentar