oleh

Indonesia Terkenal Akan Tempe dan Tahunya, Tapi Kok Kedelainya Impor?

Voxlampung.com, Jakarta – Bicara tentang Tempe dan Tahu, rasanya jenis makanan ini begitu terasa tak asing bagi warga Indonesia. Makanan berbahan kedelai ini menjadi salah satu komoditas utama bagi ibu-ibu sedari dulu.

Namun bagaimana apabila harga tempe dan tahu melonjak tinggi? Lantas mengapa harganya bisa naik?

Melansir detik.com, para perajin tempe dan tahu sudah tiga hari melakukan mogok produksi. Naiknya harga kedelai sebagai bahan baku disinyalir menjadi alasan para petani tempe melakukan mogok produksi.

Dengan berlangsungnya mogok produksi ini menyebabkan kelangkaan tempe dan tahu.

Hal tersebut diugkapkan Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) Aip Syarifuddin.

Dia menyebutkan, naiknya harga kedelai karena perkembangan pasar global. Faktanya, kebutuhan kedelai di Indonesia dipasok oleh kedelai impor, sehingga harganya mengikuti pasar global.

“Nah kenaikan ini diakibatkan daripada perdagangan kedelai dengan sistem perdagangan bebas di dunia. Maka ini tidak bisa ditahan oleh Indonesia,” kata Aip, Sabtu, 2/1/2021.

Harga kedelai telah mengalami lonjakan drastis selama pandemi virus Corona (COVID-19). Normalnya, harga kedelai di kisaran Rp6.100-6.500 per kilogram (Kg), kini naik menjadi sekitar Rp 9.500/Kg.

Sementara itu, impor kedelai memang tak terbendung ke Indonesia. Sejak awal tahun hingga bulan Oktober 2020 saja.

Dilansir dari data BPS yang dikutip Minggu, 3/1/2021, Indonesia sudah mengimpor kedelai sebanyak 2,11 ton kedelai dengan total transaksi sebesar US$ 842 juta atau sekitar Rp 11,7 triliun (kurs Rp 14.000).

Dari jumlah tersebut, negara yang paling banyak mengekspor kedelainya ke Indonesia adalah Amerika Serikat (AS), Kanada, Malaysia, Argentina, hingga Prancis.

Selama periode Januari-Oktober 2020, impor kedelai dari AS ke Indonesia jumlahnya mencapai 1,92 juta ton dengan nilai transaksi sebesar US$ 762 juta atau sekitar Rp 10,6 triliun.

Selama tiga tahun terakhir, impor kedelai pun terus meningkat. Di tahun 2018 impor kedelai mencapai 2,58 juta ton, kemudian jumlahnya naik di tahun 2019 menjadi 2,67 juta ton. Selama itu pula, AS menjadi negara paling banyak yang menyediakan kebutuhan kedelai di Indonesia.

Sekretaris Jenderal Kemendag Suhanto, sebelumnya pada 31 Desember 2020 sudah menerangkan bahwa kenaikan harga kedelai disebabkan oleh tingginya permintaan kedelai dari China. Negeri tirai bambu mengambil jatah impor terbanyak dari Amerika Serikat (AS) selaku eksportir kedelai terbesar dunia.

Pada Desember 2020 permintaan kedelai China naik 2 kali lipat, yaitu dari 15 juta ton menjadi 30 juta ton. Hal ini mengakibatkan berkurangnya kontainer di beberapa pelabuhan Amerika Serikat, seperti di Los Angeles, Long Beach, dan Savannah, sehingga terjadi pengurangan pasokan ke negara-negara importir kedelai lain termasuk Indonesia.

“Untuk itu perlu dilakukan antisipasi pasokan kedelai oleh para importir karena stok saat ini tidak dapat segera ditambah mengingat kondisi harga dunia dan pengapalan yang terbatas,” jelas Suhanto

Ia menambahkan, “Penyesuaian harga dimaksud secara psikologis diperkirakan akan berdampak pada harga di tingkat importir pada Desember 2020 sampai beberapa bulan mendatang,” pungkasnya

Di sisi lain, kegiatan impor kedelai ini pun menjadi masalah bagi para perajin tempe dan tahu saat harga kedelai global mengalami kenaikan. Imbas daripara itu para pengrajin pun mau tidak mau harus menyesuaikan harga dengan pasar global.

Menurut Kasubdit Kedelai Direktorat Serealia Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Mulyono, pemerintah memang tak bisa banyak menahan arus impor kedelai. Pasalnya kedelai tidak masuk dalam komoditas berlabel lartas alias pelarangan dan pembatasan.

Mulyono mengatakan impor kedelai akan masuk kapan saja dan berapapun banyak volumenya tanpa perlu rekomendasi dari pihak manapun, termasuk Kementan.

“Importasi kedelai termasuk komoditas non-Lartas berarti bebas masuk kapan saja dan berapapun volumenya, dan tidak melalui rekomendasi Kementan,” ujar Mulyono.

Mulyono melanjutkan, menurutnya produksi lokal juga tak bisa mendukung kebutuhan nasional kedelai. Pasalnya, petani kedelai makin berkurang jumlahnya.

Harga jual panen di tingkat petani yang sangat rendah menjadi alasannya. Mulyono menjelaskan banyak petani kedelai justru beralih untuk menanam dan memproduksi komoditas lainnya, yang lebih menguntungkan.

Ditambah lagi, harga acuan pembelian kedelai lokal di tingkat petani yang dipatok Rp 8.500 per kilogram yang ditetapkan dalam Permendag no 7 Tahun 2020 tidak berjalan dengan baik di lapangan.

“Hambatannya, saat ini minat petani untuk menanam kedelai semakin berkurang. Hal ini dikarenakan harga jual panen di tingkat petani sangat rendah, sehingga petani beralih ke komoditas lain yang lebih menjanjikan,” ucap Mulyono.

Laporan Ahmad Riduan

Komentar