VoxLampung – Lima anak muda di Lampung berinovasi menciptakan sabun dari limbah minyak jelantah. Mereka menamai produk sabun itu dengan Buntah.id atau sabun minyak jelantah.
Kegiatan kreatif itu berangkat dari kegelisahan akibat begitu banyaknya limbah minyak jelantah yang terbuang sia-sia dan mengotori lingkungan. Mereka berpikir bagaimana membuat limbah tersebut menjadi barang yang lebih bermanfaat.
Para milenial yang menginisiasi Buntah.id berasal dari berbagai jurusan dan perguruan tinggi di Bumi Ruwa Jurai. Mereka adalah Tria Fadilla Jurusan Sosiologi Universitas Lampung (Unila), Muhammad Rian Hidayat Jurusan Biologi Unila, Rianti Dewi Jurusan Penyuluhan Pertanian Unila, Izzah Safina An-Najjah Jurusan Agronomi dan Hortikultura Unila, dan Afandi Radefa Jurusan Bimbingan Konseling Pendidikan Islam UIN Raden Intan.
Rian Hidayat menjelaskan, minyak goreng bekas atau minyak jelantah bisa mencemari lingkungan, baik air maupun tanah jika dibuang sembarangan.
“Minyak jelantah yang terserap ke tanah akan mencemari tanah sehingga tanah menjadi tidak subur. Selain itu, limbah minyak goreng yang dibuang ke lingkungan juga mempengaruhi kandungan mineral dalam air bersih,” kata Rian beberapa waktu lalu.
Sementara itu, Tria Fadilla menambahkan produk Buntah.id punya pembeda dengan produk komersial lainnya yakni aspek berkelanjutan untuk menghasilkan produk Eco-Friendly.
“Limbah rumah tangga berupa minyak jelantah diubah menjadi sebuah produk bernilai jual. Aspek sustainable tersebut pula menjadi produk Eco-Friendly,” ujar Tria.
Selain sebagai pembersih, buntah tak lupa menyisipkan estetika dalam hal bentuk, warna, dan aroma yang dapat disesuaikan dengan minat konsumen (custom made). Bentuknya beragam, seperti bunga, ikan, dan lainnya sesuai keinginan calon pembeli.

“Produk ini juga multifungsi karena dapat digunakan diberbagai kegiatan rumah tungga, mencuci tangan, piring, dan perabotan,” ungkapnya.
Untuk pemasaran produk Buntah, mereka menargetkan ke beberapa lini seperti komunitas berbasis lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup, komunitas pemberdayaan keluarga, dan koperasi di semua perguruan tinggi di Lampung.
Selain itu, mereka juga memanfaatkan media sosial untuk penjualan produk, seperti Instagram bernama Buntah.id. Mereka sempat pula mengikuti pameran produk berbahan limbah yang digelar Komunitas Gajahlah Kebersihan beberapa waktu lalu.
Buntah diracik dengan bahan-bahan yang mudah di dapat. Bahan yang dibutuhkan diantaranya minyak jelantah, air secukupnya, soda api, pewarna makanan, dan pengharum pakaian. Sedangkan alat yang disiapkan yakni pengaduk kayu, sepatula, gelas takar, cetakan, lap, masker, dan sarung tangan.
Cara pembuatannya, siapkan alat dan bahan timbang semua bahan yang diperlukan, masukkan soda api ke air, kemudian masukkan minyak jelantah yang sudah di rendam bersama arang selama satu hari ke dalam larutan soda api.
Aduk sampai mencapai kekentalan seperti mayonais kurang lebih dua menit. Kemudian tuangkan ke dalam cetakan yang sudah disiapkan. Selanjutnya, diamkan semalam, lalu angin-anginkan ditempat yang berventilasi bagus.
“Setelah tiga sampai empat minggu, sabun sudah bisa digunakan, akan lebih baik jika didiamkan 2-3 bulan,”papar Tria.
Buntah bisa berguna sebagai sabun alternatif di rumah untuk mendukung kelestarian lingkungan. Terlebih, saat pandemi covid-19, di mana semua orang mesti menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah virus korona dan terapkan 3 M (mencuci tangan, menjaga jarak, memakai masker).(*)







Komentar