VoxLampung.com, Lampung Selatan –
Dosen Program Studi Pendidikan Tata Boga, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Jakarta, memberikan pelatihan pemanfaatan bahan pangan lokal kepada warga Desa Fajar Baru, Lampung Selatan. Kegiatan yang berlangsung pada 26 Mei 2021 lalu itu, dilakukan secara daring.
Kegiatan pengabdian masyarakat itu
dalam rangka pemanfaatan bahan pangan lokal yang digunakan masyarakat, guna menjaga ketahanan pangan melalui pelatihan berbasis digital.
Pada kegiatan itu, Dosen Program Studi Pendidikan Tata Boga UNJ yakni Ari Fadiati, bersama Annis Kandriasari, melibatkan tiga orang mahasiswanya yakni Wisnu Riyanto, Syafira Nabilah Putri, dan Ega Yunierlita.
“Tujuan kami adalah memberikan edukasi pengolahan produk makanan yang berkualitas dengan memanfaatkan bahan pangan lokal. Selain itu, kami ingin memicu minat dan keinginan masyarakat untuk berwirausaha berdasarkan keahlian dan pengetahuan yang didapatkan melalui pelatihan berbasis digital ini,” Kata Ari Fadiati kepada VoxLampung, Rabu, 27/10/2021.
Peserta pelatihan merupakan ibu-ibu PKK dan masyarakat umum di Desa Fajar Baru, dengan jumlah 30 orang. Pada umumnya, peserta berminat pada wirausaha, guna meningkatkan pemasukan keluarga.
Para peserta pelatihan berkumpul di Balai Desa Fajar Baru, Lampung Selatan untuk mengikuti pelatihan melalui platform zoom. Hal itu lantaran masih dalam situasi pandemi dan terbatasnya fasilitas teknologi informasi pada peserta. Sehingga pemateri menjelaskan dan menjawab pertanyaan serta diskusi melalui zoom.

“Alhamdulilah kegiatannya sukses walaupun dibatasi pesertanya dan tetap menerapkan prokes. Para peserta sangat antusias dalam mengikuti kegiatan dan berharap dapat dilanjutkan secara rutin kegiatan seperti ini,” Terangnya.
Kegiatan juga dihadiri oleh Eni Triyanti, selaku Ketua PKK Desa Fajar Baru, serta perangkat desa, terutama yang bergerak di bidang pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) masyarakat desa tersebut.
Pelatihan online itu dilakukan dengan cara menayangkan video pembuatan pempek adaan berbahan tepung singkong dan protein hewani yang berasal dari sumber daya laut setempat yaitu ikan baji-baji.
Ari menerangkan, tepung singkong dipilih sebagai bahan dasar, karena lebih hemat dalam penggunaan air. Dalam buku pedoman pemanfaatan dan pengolahan limbah tapioka yang diterbitkan Deputi Menteri Negara Lingkungan Hidup Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan tahun 2006, menyebutkan bahwa pada skala rumah tangga, rata-rata pembuatan tepung tapioka memerlukan bahan baku seberat 100-500 kilogram per hari, per industri rumahan. Sedangkan pada skala pabrik memerlukan bahan baku seberat 5-15 ton per hari, per pabrik.
“Hasil limbah tepung tapioka yang dihasilkan menyebabkan pencemaran terhadap lingkungan hidup, di antaranya yaitu pencemaran air, tanah, dan udara,” Jelas Ari, mengutip buku tersebut.
Pencemaran tersebut, lanjutnya, menimbulkan bau yang tidak sedap dan membuat kondisi air menjadi kotor sehingga berdampak kepada manusia. Jika dihitung penggunaan air bersih yang diperlukan sangat banyak. Untuk 15 ton singkong saja, dibutuhkan 75.000-90.000 liter air per hari, per pabrik.
“Artinya untuk kebutuhan satu bulan diperlukan air sebanyak 2.250.000-2.700.000 liter per pabrik.
Salah satu cara untuk mengurangi limbah pada pembuatan tepung tapioka yaitu dengan mengurangi penggunaan tepung tapioka pada makanan dan tepung tersebut disubstitusi dengan menggunakan singkong yang diolah menjadi tepung,” Papar Ari.
“Keunggulan mengolah tepung singkong yaitu tidak menggunakan jumlah air yang sangat banyak untuk proses perendaman, sehingga menghasilkan limbah cair maupun limbah padat yang lebih sedikit,” Imbuhnya.
Sementara itu, ikan baji- baji dipilih karena merupakan jenis ikan laut yang banyak ditemui di daerah Lampung. Harganya juga relatif lebih murah, bila dibandingkan dengan ikan laut lain.
“Sehingga pemanfaatannya sebagai bahan pembuatan pempek adaan dapat menghasilkan produk dengan harga jual yang lebih rendah, apabila dijadikan sebagai produk usaha rumah tangga. Dan rasanya pun tidak kalah dengan ikan yang biasa digunakan untuk pempek,” Ungkapnya.
Setelah penjelasan mengenai alasan pemilihan bahan baku, pamateri lantas mendemokan tentang cara pembuatan pempek adaan kepada para peserta pelatihan.
Berikutnya adalah sesi tanya jawab antara pemateri dan peserta. Dilanjutkan dengan pemberian produk pempek adaan dengan subtitusi tepung singkong kepada masing-masing peserta.

Sementara itu, Annis Kandriasari menambahkan, pihaknya berharap pelatihan yang diberikan tersebut dapat menjadi langkah dan solusi untuk meningkatkan diversifikasi produk pangan olahan berbasis pangan lokal untuk menjaga ketahanan pangan di Desa Fajar Baru, Lampung Selatan.
“Kami juga berharap, pelatihan ini dapat menambah kompetensi warga tentang pembuatan pempek adaan berbahan dasar tepung singkong dan ikan baji-baji, dan menjadi salah satu cara untuk meningkatkan income generating keluarga bila mereka melakukan usaha,” Ungkap Annis.
Annis bilang, jika masih dipercaya oleh pejabat setempat, pihaknya ingin melakukan pengabdian pada masyarakat kembali setiap tahunnya, dan menjadikan Desa Fajar Baru menjadi Desa Binaan Program Studi Pendidikan Tata Boga, FT UNJ.
“Karena pengabdian kepada masyarakat adalah salah satu bentuk kewajiban dosen dalam Tri Dharma perguruan Tinggi yang melibatkan masyarakat. Dengan pengabdian, dosen dapat mengamalkan ilmu sesuai dengan bidang keilmuannya,” Tutupnya. (*)







Komentar