oleh

Potret Hasil TKA SMP Provinsi Lampung: Mari Bercermin untuk Lampung yang Lebih Baik

Oleh: Prof. Admi Syarif, PhD
Guru Besar Unila dan Peraih Nilai Ebtanas Murni (NEM) Ujian Nasional Tertinggi Provinsi Lampung 1985

Pagi ini, sambil berbaring di rumah sakit, sebuah video pendek lewat di beranda saya, membahas capaian Tes Kemampuan Akademik (TKA) siswa SMP se-Provinsi Lampung tahun 2026.

Saya kemudian iseng meminta asisten saya, Moza, menelusuri informasi tersebut melalui berbagai sumber di web. Tujuan saya sederhana: ingin melihat seperti apa potret hasil pendidikan kita di Provinsi Lampung.

Saya cukup terkejut ketika melihat capaian anak didik secara nasional. Yang kurang mengenakan lagi adalah nilai rata-rata TKA Matematika Lampung berada pada angka 38,72, berada di bawah rata-rata nasional.

Sebagai pembanding:

  • DI Yogyakarta: 51,65
  • DKI Jakarta: 45,31
  • Jawa Tengah: 42,65
  • Jawa Timur: 41,36
  • Lampung: 38,72
  • Rata-rata nasional: 40,34

Dengan demikian, capaian Lampung masih 1,62 poin di bawah rata-rata nasional.

Jika data provinsi diurutkan berdasarkan capaian tersebut, Lampung berada di posisi ke-21, dan juara kedua dari bawah di Pulau Sumatera.

Tentu saja, angka ini membuat kita prihatin. Apa yang sedang terjadi dengan pendidikan Matematika kita?

Pendidikan memang adalah persoalan yang kompleks. Hasil belajar anak dipengaruhi banyak faktor: kualitas pembelajaran, kompetensi guru, lingkungan keluarga, budaya belajar, fasilitas pendidikan, metode pengajaran, kebijakan pendidikan, hingga dukungan masyarakat.

Karena itu, hasil TKA ini menurut saya harus kita tempatkan sebagai cermin yang memperlihatkan sesuatu yang belum baik. Jangan pula kita mengikuti pepatah “Buruk Muka Cermin Dibelah”, yang menggambarkan orang yang tidak mau mengakui kesalahannya. Kita harus mencari cara memperbaiki apa yang terlihat di dalam cermin tersebut, dengan target jelas dan terukur.

Menurut saya yang sangat menyukai pelajaran ini, Matematika bukan sekadar hafalan rumus. TKA Matematika tidak sekadar menguji apakah siswa mampu menghafal rumus. Materinya mencakup bilangan, aljabar, geometri serta pengukuran, serta dengan penekanan pada pemahaman, penerapan, penalaran, dan pemecahan masalah.

Menurut saya—dan tentu ini bukan pendapat seorang ahli pendidikan—di sinilah tantangan kita. Dalam mengajarkan Matematika, siswa harus diperkenalkan dengan konsep. Matematika bukan hanya tentang angka. Matematika adalah tentang cara berpikir.

Mungkin sudah waktunya kita melakukan pemetaan dan asesmen yang lebih menyeluruh terhadap pembelajaran Matematika di Provinsi Lampung.

Termasuk melihat kompetensi dan kebutuhan pengembangan profesional guru Matematika.

Kita ingin mengetahui apa yang dibutuhkan guru agar mereka semakin kuat dalam mengajar. Asesmen bukan menjadi alat untuk menghukum, tetapi menjadi instrumen untuk memperbaiki kualitas pembelajaran.

Dewan Pendidikan Lampung harus ikut bergerak

Saya kira hasil TKA ini juga menjadi momentum bagi Dewan Pendidikan Provinsi Lampung untuk memberikan masukan yang lebih konkret.

Perlu ada koordinasi yang lebih intensif antara Dewan Pendidikan, Pemerintah Provinsi Lampung, pemerintah kabupaten/kota, dinas pendidikan, sekolah, perguruan tinggi, organisasi profesi guru, dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan. Perguruan tinggi di Lampung juga tidak boleh hanya menjadi penonton.

Kita memiliki banyak akademisi, doktor, profesor, dan lembaga pendidikan yang memiliki kompetensi di bidang pendidikan dan pembelajaran.

Mengapa tidak kita kerahkan kekuatan intelektual itu untuk membantu memperbaiki pendidikan Lampung? Ayo kita buat program nyata: pendampingan guru, pengembangan metode pembelajaran, penguatan literasi numerasi, pengembangan bahan ajar, dan evaluasi berkala.

Jangan biarkan angka 38,72 ini berlalu begitu saja. Sebaliknya, mari kita jadikan ia sebagai alarm, agar kita bangun dan memperbaiki bersama. Masa depan Lampung ada di tangan anak-anak kita.

Saya percaya, siswa SMP yang mengikuti TKA saat ini adalah calon dokter, insinyur, guru, pengusaha, birokrat, ilmuwan, pemimpin, dan profesional Lampung di masa depan.

Saya menutup tulisan ini dengan keyakinan bahwa Lampung akan maju apabila kita terus semangat untuk belajar dan bekerja lebih baik.

Lampung Ku Cinta.

Lampung Ku Jaga.

Mak gham sapa lagi,

Mak tano kapan lagi. (*)

Komentar

Rekomendasi