VoxLampung.com, Bandar Lampung – Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) Resort Bandar Lampung akan menggelar rangkaian Pesta Gotilon mulai 19 Juli hingga puncaknya pada 9 Agustus 2026. Perayaan syukur tahunan ini tidak hanya menjadi tradisi gereja, tetapi juga upaya menghidupkan nilai marsiadapari atau semangat saling membantu yang telah lama mengakar dalam budaya Batak.
Pendeta GKPI Resort Bandar Lampung, Sastra Marito Sihite, mengatakan Gotilon merupakan tradisi syukur yang terus dipelihara dalam kehidupan jemaat sebagai bentuk pengakuan bahwa setiap berkat berasal dari Tuhan.
“Gotilon mengajarkan bahwa setiap berkat berasal dari Tuhan. Rasa syukur itu kami wujudkan dalam bentuk persembahan, pelayanan, dan nilai marsiadapari,” kata Sastra dalam keterangan tertulis yang diterima VoxLampung, Kamis, 16/7/2026.
Dalam tradisi Batak, gotilon awalnya merupakan persembahan syukur yang berasal dari sebagian hasil panen. Seiring perkembangan zaman, maknanya meluas menjadi ungkapan syukur atas seluruh berkat yang diterima melalui pekerjaan, usaha, maupun profesi. Dalam kehidupan bergereja, tradisi tersebut diwujudkan melalui persembahan kepada Tuhan sekaligus mempererat persekutuan antarjemaat.
Sastra menjelaskan, semangat kebersamaan yang dikenal sebagai marsiadapari juga menjadi ruh penyelenggaraan Pesta Gotilon. Nilai yang berakar dari kehidupan agraris masyarakat Batak itu mengajarkan pentingnya saling membantu dan saling menopang dalam berbagai pekerjaan maupun kebutuhan bersama.
“Bagi GKPI Bandar Lampung, Pesta Gotilon menjadi salah satu upaya merawat nilai marsiadapari melalui kebersamaan, pelayanan, dan kepedulian terhadap sesama,” ujarnya.
Menurutnya, Pesta Gotilon tahun ini juga menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan jemaat dalam mendukung pembangunan konsistori dan gedung Sekolah Minggu yang lebih representatif. Fasilitas tersebut diharapkan dapat menunjang pelayanan gereja sekaligus menjadi tempat yang nyaman bagi anak-anak untuk bertumbuh dalam iman.
“Pesta Gotilon bukan hanya perayaan, tetapi juga tentang kebersamaan dan pelayanan. Kami berharap nilai marsiadapari terus hidup dan menjadi kekuatan bagi jemaat dalam melayani sesama,” katanya.
Ketua Panitia Pesta Gotilon, Nico Tobing, mengatakan berbagai kegiatan telah disiapkan untuk melibatkan seluruh kelompok usia di lingkungan jemaat. Rangkaian acara diawali dengan lomba memasak dan lomba line dance pada 19 Juli, dilanjutkan kegiatan donor darah pada 25 Juli sebagai bentuk kepedulian sosial.
Selanjutnya, jalan sehat dan senam lansia akan digelar pada 1 Agustus. Sementara pada 8 Agustus, GKPI Bandar Lampung mengadakan Upgrading Majelis untuk memperkuat kapasitas para pelayan gereja. Seluruh rangkaian kegiatan tersebut akan ditutup dengan Pesta Gotilon pada 9 Agustus 2026.
“Rangkaian kegiatan ini kami susun agar Pesta Gotilon tidak hanya dirasakan sebagai perayaan satu hari, tetapi menjadi perjalanan bersama yang melibatkan anak-anak, pemuda, orang dewasa hingga para lansia. Ada semangat melayani, belajar, berbagi, dan bertumbuh bersama,” ujar Nico.
Pesta Gotilon merupakan tradisi syukur di gereja-gereja Batak yang berakar dari budaya agraris masyarakat Batak. Semula, tradisi ini diwujudkan melalui persembahan sebagian hasil panen kepada Tuhan. Kini, Gotilon dimaknai lebih luas sebagai ungkapan syukur atas seluruh berkat yang diterima dalam berbagai bidang kehidupan.
Bagi gereja, Gotilon bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan pengingat bahwa rasa syukur diwujudkan melalui tindakan nyata, termasuk mengambil bagian dalam pelayanan dan kehidupan persekutuan. Nilai Gotilon pun tidak diukur dari besar kecilnya persembahan, tetapi dari kerelaan hati setiap jemaat untuk mempersembahkan yang terbaik.
Selain itu, Gotilon juga merefleksikan nilai marsiadapari, yakni semangat saling menopang dan memikul tanggung jawab bersama. Dalam kehidupan bergereja, nilai tersebut diwujudkan melalui pelayanan, penguatan persekutuan, dan kepedulian terhadap sesama.(Rls)







Komentar